Halaman

Sabtu, 31 Januari 2026

Tasmi’ & Tasyakuran Khotmil Qur'an 30 Juz Bil-Ghoib: Ikrar Kesetiaan Seorang Hafizhah kepada Al-Qur’an

Pada hari Kamis-Jum’at, 29-30 Januari 2026 M/10-11 Sya’ban 1447 H, Athiyah Haniyah Binti M. Abdullah Charis (Singosari Malang) santri putri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Asy-Syadzili 4 dan siswi kelas X SMK Tahfidh Asy-Syadzili Putukrejo Gondanglegi Malang di bawah asuhan Ibu Nyai Hj. Mufidah Syadzili dan KH. Nur Muhammad Hasyim, meraih pencapaian yang sangat membanggakan dalam perjalanan hidupnya, yaitu “tasmi’ Al-Qur'an 30 juz bil-ghoib”. Ini bukan sekadar momen seremonial, tetapi juga simbol dedikasi, kerja keras, dan kecintaan yang mendalam terhadap Kitab Suci Al-Qur'an. Menyelesaikan hafalan 30 juz adalah pencapaian yang tidak hanya mengharuskan hafalan yang kuat, tetapi juga ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Proses ini mencerminkan ketulusan hati yang ingin selalu mendekatkan diri kepada Allah melalui bacaan dan pemahaman Al-Qur'an.

Tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib adalah momentum puncak dalam proses tahfizh: seorang hafizhah memperdengarkan hafalannya tanpa melihat mushaf, mengalir dari Al-Fatihah sampai An-Nas, dengan menjaga ketepatan lafadz, tajwid, waqaf-ibtida’, dan adab. Kegiatan ini bukan sekadar “uji hafalan”, tetapi juga bentuk syiar, penguatan sanad pembelajaran (melalui penyimakan guru/penyimak), serta pembuktian kedisiplinan muraja’ah yang panjang. Karena itu, tasmi’ 30 juz biasanya dipandang sebagai capaian komprehensif: menggabungkan kemampuan kognitif (memori), teknis (makharij-tajwid), spiritual (ikhlas dan adab), dan mental (stamina serta fokus).

Keberhasilan tasmi’ bil-ghoib pada level 30 juz sangat ditentukan oleh ketahanan muraja’ah. Banyak penghafal mampu menambah hafalan baru, tetapi yang membedakan capaian adalah kemampuannya menjaga hafalan lama tetap hidup, tidak “berdebu”. Di sinilah muraja’ah berperan sebagai “jantung tahfizh”: pengulangan yang terstruktur membuat jalur memori semakin kuat, mengurangi potensi tertukar ayat yang mirip (mutasyabihat), dan menstabilkan ritme bacaan dari awal sampai akhir.

Secara teknis, tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib menuntut kesiapan pada tiga lapisan: (1) kualitas bacaan (tajwid, makharij, sifat huruf, panjang pendek, ghunnah), (2) peta hafalan (tahu posisi ayat, awal-akhir halaman, keterkaitan antar tema), dan (3) ketahanan performa (stamina, fokus, pengendalian gugup). Di pesantren tahfizh seperti Asy Syadzili 4, mekanisme penyimakan biasanya ketat: penyimak akan mengoreksi kesalahan lafadz/harakat, mengingatkan tempat waqaf yang tepat, dan memastikan bacaan tidak melenceng dari rasm serta qira’ah yang digunakan. Kesiapan Athiyah Haniyah berarti ia telah melewati latihan yang tidak ringan pada ketiga lapisan ini.

Dari sisi makna, tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib adalah “akad” batin: meneguhkan hubungan penghafal dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar capaian akademik. Banyak hafizhah merasakan bahwa hari tasmi’ adalah hari yang menguji keikhlasan, apakah ia membaca untuk Allah atau untuk penilaian manusia. Karena itu, keberkahan tasmi’ biasanya dijaga dengan adab: memperbanyak doa, menjaga lisan dan pandangan, memuliakan guru/penyimak, serta menata hati agar tidak terpancing panik saat ada koreksi.

Perjalanan menuju tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Setiap huruf, setiap ayat yang dihafalkan memerlukan usaha keras dan ketelitian. Namun, bagi Athiyah Haniyah, setiap langkah menuju pencapaian ini dipenuhi dengan rasa syukur dan semangat yang membara. Dalam setiap detik yang dilalui, ia tidak hanya menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga berusaha untuk menghayati maknanya. Kekuatan doa dan keyakinan kepada Allah menjadi pendorong utama yang membantunya melewati tantangan demi tantangan yang hadir dalam perjalanan ini.

Pencapaian ini tentu saja tidak hanya milik Athiyah Haniyah seorang diri. Di balik setiap hafalan, ada dukungan dari keluarga, guru, dan lingkungan yang turut serta berperan dalam kesuksesannya. Orang tua yang selalu memberikan doa dan motivasi, guru yang sabar membimbing dengan penuh kasih sayang, serta teman-teman yang memberikan semangat, semua menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan ini. Tanpa dukungan mereka, perjalanan menuju hafalannya mungkin akan terasa lebih berat. Oleh karena itu, tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib ini juga merupakan hasil kolaborasi antara usaha pribadi dan bantuan dari orang-orang yang memiliki niat baik.

Tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib juga membawa tanggung jawab yang lebih besar. Menjadi seorang hafizhah bukan hanya soal memiliki kemampuan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga tentang bagaimana mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Athiyah Haniyah, dengan pencapaian ini, memiliki kesempatan untuk lebih memperdalam pemahamannya tentang ajaran Islam dan menjadi contoh bagi orang lain dalam mempraktikkan Al-Qur'an. Setiap langkah yang diambilnya, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun spiritual, akan dipandang dengan lebih besar oleh masyarakat sebagai seorang teladan yang membawa pesan-pesan kebaikan.

Tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib ini bukan hanya sebuah pencapaian pribadi, tetapi juga kontribusi besar bagi umat Islam. Al-Qur'an, sebagai petunjuk hidup umat manusia, membutuhkan para penghafalnya untuk menjaga dan menyebarluaskan ajaran-ajarannya. Dengan kemampuan hafalan yang dimiliki, Athiyah Haniyah dapat menjadi bagian dari generasi penerus yang meneruskan tradisi menjaga dan mengamalkan Al-Qur'an. Selain itu, pencapaian ini juga membuka peluang bagi dirinya untuk berperan aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan Islam, sehingga memberikan dampak positif bagi banyak orang.

Namun, pencapaian ini tidak berhenti hanya pada momen tasmi’. Athiyah Haniyah tentu akan terus berusaha untuk memperdalam pengetahuan tentang Al-Qur'an dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Setiap hafalan yang dimiliki bukanlah tujuan akhir, tetapi justru awal dari perjalanan yang lebih panjang, untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan berbagi manfaat kepada sesama. Ia akan terus melanjutkan langkahnya, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan kontribusi positif bagi umat.

Pencapaian ini juga merupakan sebuah inspirasi bagi generasi muda yang bercita-cita untuk menghafal Al-Qur'an. Melihat kesuksesan Athiyah Haniyah, mereka dapat merasa termotivasi untuk mengikut jejaknya dan membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, segala impian -termasuk menghafal seluruh Al-Qur'an- dapat tercapai. Hal ini memberikan gambaran bahwa meski banyak tantangan dalam proses menghafal, hasil yang didapat akan sebanding dengan usaha dan pengorbanan yang diberikan.

Akhirnya, kesuksesan tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib pada 29–30 Januari 2026 itu dapat dipahami sebagai hasil dari proses panjang yang konsisten: disiplin ziyadah, muraja’ah yang tertata, bimbingan guru, lingkungan pesantren yang mendukung, dan penjagaan hati. Semoga tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib ini menjadi amal jariyah, mengokohkan dirinya sebagai penjaga Kalamullah, serta menginspirasi santri lain bahwa capaian besar selalu lahir dari langkah kecil yang dijaga setiap hari, dengan niat lurus, adab yang benar, dan kesabaran yang terus diperbarui. Semoga melalui pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an, baik dalam hafalan, pembelajaran, maupun pengamalannya. Dan bagi Athiyah Haniyah, ini adalah awal dari perjalanan panjang sebagai seorang hafizhah yang terus berkarya dan memberikan kebaikan untuk dunia dan akhirat. Allahumma irhamnā bil Qur’an, serta selamat dan sukses ya ahlal Qur’an!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...