Ilmu para shalihin adalah
warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh orang-orang yang hidupnya
dipenuhi ketaatan dan keikhlasan kepada Allah Swt. Ilmu ini bukan sekadar
rangkaian pengetahuan, melainkan cahaya yang membimbing hati, meluruskan niat,
dan membentuk akhlak. Perkataan ulama, “Jika engkau enggan mempelajari ilmu
shalihin, maka cukuplah hal itu membuatmu terhina dan menyesal untuk selamanya,”
hadir sebagai peringatan keras namun penuh kasih, agar manusia tidak meremehkan
nilai ilmu yang diwariskan oleh orang-orang saleh.
Ilmu shalihin adalah ilmu yang
lahir dari hati yang bersih, amal yang ikhlas, dan kedekatan dengan Allah Swt.
Ilmu ini tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga bagaimana
menjalankan kebenaran tersebut dalam kehidupan. Para shalihin mengajarkan agama
bukan sekadar dengan lisan, melainkan dengan teladan hidup. Oleh karena itu,
mempelajari ilmu mereka berarti belajar cara hidup yang diridhai Allah, bukan
hanya menambah wawasan intelektual semata.
Keengganan mempelajari ilmu
shalihin sering kali lahir dari kesombongan, merasa cukup dengan pengetahuan
sendiri, atau terbuai oleh ilmu duniawi yang tampak lebih menjanjikan secara
materi. Sikap ini membuat seseorang terputus dari mata rantai keteladanan dan
hikmah. Ia mungkin terlihat berilmu, tetapi kehilangan arah dan kedalaman
makna. Inilah bentuk kehinaan yang dimaksud, bukan kehinaan lahiriah, melainkan
kehinaan batin karena jauh dari cahaya hidayah.
Penyesalan yang dimaksud dalam perkataan ulama ini bukan sekadar penyesalan sesaat, tetapi penyesalan yang terus menghantui, terutama ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya kosong dari nilai keberkahan. Di akhirat, penyesalan itu menjadi semakin nyata ketika ilmu yang seharusnya menuntun kepada keselamatan tidak pernah dicari. Kesempatan belajar dari para shalihin yang dahulu terbuka lebar telah tertutup rapat oleh kematian dan waktu yang tak bisa kembali.
Perkataan ulama ini mengajak setiap Muslim untuk bersikap rendah hati dalam menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh mendekat kepada para shalihin, baik melalui majelis ilmu, kitab-kitab mereka, maupun keteladanan hidupnya. Selama hayat masih dikandung badan, pintu belajar dan memperbaiki diri masih terbuka. Dengan mempelajari ilmu shalihin, seseorang bukan hanya terhindar dari kehinaan dan penyesalan, tetapi juga memperoleh kemuliaan hidup, ketenangan hati, dan harapan keselamatan di akhirat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar