Halaman

Selasa, 27 Januari 2026

Ketika Mata Tak Memandang, Telinga Menghidupkan Cinta

Kalam hikmah Al-Habib Ali Al-Habsyi yang berbunyi “Bila matamu belum bisa memandang wajah Rasulullah secara langsung, maka jangan sampai telingamu tidak bisa merasakan nikmat mendengarkan sifat-sifat mulianya” adalah ungkapan yang sarat dengan cinta, kerinduan, dan pendidikan ruhani. Kalimat ini tidak hanya menyentuh perasaan, tetapi juga mengarahkan umat Islam pada cara menghadirkan Rasulullah Saw. dalam kehidupan, meskipun terpisah oleh ruang dan waktu. Ia menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Nabi.

Makna pertama dari kalam hikmah ini terletak pada kesadaran bahwa umat Islam saat ini tidak hidup sezaman dengan Rasulullah Saw., sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memandang wajah beliau secara langsung. Namun, Al-Habib Ali Al-Habsyi menegaskan bahwa ketidakhadiran fisik tersebut tidak boleh memutus hubungan batin dengan Nabi. Kerinduan yang sejati justru diuji ketika seseorang tetap berusaha mendekatkan diri kepada Rasulullah melalui cara-cara yang Allah dan Rasul-Nya ridai.

Mendengarkan sifat-sifat mulia Rasulullah Saw. baik melalui sirah, maulid, shalawat, maupun majelis ilmu menjadi jembatan spiritual untuk mengenal dan mencintai beliau. Telinga yang terbiasa mendengar akhlak Nabi akan menghidupkan hati, karena setiap kisah tentang kesabaran, kelembutan, kejujuran, dan kasih sayang beliau mengandung cahaya petunjuk. Dari sinilah rasa nikmat yang dimaksud dalam kalam hikmah tersebut muncul, yaitu kenikmatan ruhani yang menumbuhkan kecintaan dan keteladanan.

Lebih jauh, kalam hikmah ini juga mengandung pesan pendidikan akhlak. Mengenal sifat-sifat Rasulullah Saw. bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang sering mendengar tentang akhlak Nabi, maka secara perlahan sikap dan perilakunya akan dibentuk oleh nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, hubungan dengan Rasulullah Saw. tidak berhenti pada rasa cinta emosional, tetapi terwujud dalam amal dan akhlak yang nyata.

Dengan demikian, pesan Al-Habib Ali Al-Habsyi mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah Saw. dapat terus hidup meskipun kita tidak melihat beliau secara langsung. Selama telinga masih terbuka untuk mendengar kisah dan sifat-sifat mulia beliau, dan hati siap menerimanya dengan penuh kerinduan, maka hubungan ruhani dengan Nabi akan tetap terjaga. Kalam hikmah ini menjadi ajakan lembut agar umat Islam senantiasa menghidupkan majelis ilmu, shalawat, dan maulid sebagai sarana menumbuhkan cinta, iman, dan akhlak yang mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...