Kalam hikmah Al-Habib Ali
Al-Habsyi yang berbunyi “Bila matamu belum bisa memandang wajah Rasulullah
secara langsung, maka jangan sampai telingamu tidak bisa merasakan nikmat
mendengarkan sifat-sifat mulianya” adalah ungkapan yang sarat dengan cinta,
kerinduan, dan pendidikan ruhani. Kalimat ini tidak hanya menyentuh perasaan,
tetapi juga mengarahkan umat Islam pada cara menghadirkan Rasulullah Saw. dalam
kehidupan, meskipun terpisah oleh ruang dan waktu. Ia menjadi pengingat bahwa
keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menumbuhkan mahabbah
(cinta) kepada Nabi.
Makna pertama dari kalam hikmah
ini terletak pada kesadaran bahwa umat Islam saat ini tidak hidup sezaman
dengan Rasulullah Saw., sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memandang
wajah beliau secara langsung. Namun, Al-Habib Ali Al-Habsyi menegaskan bahwa
ketidakhadiran fisik tersebut tidak boleh memutus hubungan batin dengan Nabi.
Kerinduan yang sejati justru diuji ketika seseorang tetap berusaha mendekatkan
diri kepada Rasulullah melalui cara-cara yang Allah dan Rasul-Nya ridai.
Mendengarkan sifat-sifat mulia
Rasulullah Saw. —baik
melalui sirah, maulid, shalawat, maupun majelis ilmu— menjadi jembatan
spiritual untuk mengenal dan mencintai beliau. Telinga yang terbiasa mendengar
akhlak Nabi akan menghidupkan hati, karena setiap kisah tentang kesabaran,
kelembutan, kejujuran, dan kasih sayang beliau mengandung cahaya petunjuk. Dari
sinilah rasa nikmat yang dimaksud dalam kalam hikmah tersebut muncul, yaitu
kenikmatan ruhani yang menumbuhkan kecintaan dan keteladanan.
Lebih jauh, kalam hikmah ini juga mengandung pesan pendidikan akhlak. Mengenal sifat-sifat Rasulullah Saw. bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang sering mendengar tentang akhlak Nabi, maka secara perlahan sikap dan perilakunya akan dibentuk oleh nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, hubungan dengan Rasulullah Saw. tidak berhenti pada rasa cinta emosional, tetapi terwujud dalam amal dan akhlak yang nyata.
Dengan demikian, pesan Al-Habib Ali Al-Habsyi mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah Saw. dapat terus hidup meskipun kita tidak melihat beliau secara langsung. Selama telinga masih terbuka untuk mendengar kisah dan sifat-sifat mulia beliau, dan hati siap menerimanya dengan penuh kerinduan, maka hubungan ruhani dengan Nabi akan tetap terjaga. Kalam hikmah ini menjadi ajakan lembut agar umat Islam senantiasa menghidupkan majelis ilmu, shalawat, dan maulid sebagai sarana menumbuhkan cinta, iman, dan akhlak yang mulia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar