Ilmu adalah cahaya yang Allah
anugerahkan kepada hamba-Nya sebagai jalan menuju kemuliaan dunia dan akhirat.
Namun cahaya itu hanya akan bermakna jika dicari dengan kesungguhan dan
diamalkan dengan keikhlasan. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir: أَشَدُّ النَّاسِ حَسْرَةً
يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَمْكَنَهُ طَلَبُ الْعِلْمِ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَطْلُبْهُ،
وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَانْتَفَعَ بِهِ مَنْ سَمِعَهُ مِنْهُ دُوْنَهُ (Orang yang paling menyesal/paling rugi pada
hari kiamat adalah seseorang yang ada kemampuan untuk menuntut ilmu di dunia
tetapi dia tidak menuntut ilmu, dan seseorang yang mengajarkan suatu ilmu namun
ia dimanfaatkan oleh orang lain yang mendengarnya namun tidak bermanfaat buat
dirinya) hadir sebagai peringatan yang sangat tajam dan menyentuh nurani,
bahwa penyesalan terbesar di hari kiamat bukan semata karena kekurangan harta
atau jabatan, melainkan karena kelalaian terhadap ilmu yang seharusnya bisa
diraih dan diamalkan selama hidup di dunia.
Dalam hadis tersebut disebutkan
bahwa orang yang paling menyesal pada hari kiamat ada dua golongan. Pertama,
seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menuntut ilmu
di dunia, tetapi ia menyia-nyiakannya. Kedua, seseorang yang telah
memiliki dan mengajarkan ilmu, namun ilmu itu justru memberi manfaat kepada
orang lain, sementara dirinya sendiri tidak mengambil manfaat darinya. Dua
gambaran ini menunjukkan bahwa penyesalan terbesar lahir dari sikap
menyia-nyiakan potensi dan tidak menyelaraskan ilmu dengan amal.
Golongan pertama adalah orang
yang hidup dalam kondisi memungkinkan untuk belajar—baik dari sisi waktu, akal,
maupun sarana—namun memilih berpaling dari ilmu. Ia lebih sibuk mengejar urusan
dunia, hiburan, atau hal-hal yang fana, sehingga kesempatan emas untuk menuntut
ilmu terlewatkan. Penyesalan golongan ini menjadi sangat berat karena pada hari
kiamat ia menyadari bahwa jalan keselamatan dan kedekatan kepada Allah
sebenarnya terbuka lebar, namun ia sendiri yang menutupnya dengan kelalaian dan
kemalasan.
Adapun golongan kedua adalah
orang yang telah dianugerahi ilmu, bahkan mampu mengajarkannya kepada orang
lain, namun ilmu tersebut tidak tercermin dalam perilaku dan amalnya. Ia
mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengamalkannya; ia menyeru kepada kebaikan,
tetapi lalai melaksanakannya. Penyesalan golongan ini lebih pedih, karena ia
menyaksikan orang-orang yang belajar darinya justru selamat dan memperoleh
pahala, sementara dirinya terhenti oleh kelalaiannya sendiri.
Hadis ini mengandung peringatan keras bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab. Ilmu yang tidak dicari padahal mampu, dan ilmu yang tidak diamalkan padahal diketahui, sama-sama dapat menjadi sebab penyesalan di akhirat. Oleh karena itu, Islam menekankan keseimbangan antara thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu) dan ‘amal bil ‘ilmi (mengamalkan ilmu), karena keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.
Melalui hadis riwayat Ibnu ‘Asakir ini, setiap Muslim diajak untuk melakukan muhasabah diri: sejauh mana kita bersungguh-sungguh menuntut ilmu, dan sejauh mana ilmu itu membentuk akhlak serta amal kita. Selama pintu usia masih terbuka, kesempatan belajar dan memperbaiki diri masih ada. Hadis ini seakan mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan pada banyaknya ilmu yang diketahui, tetapi pada ilmu yang dicari dengan ikhlas dan diamalkan dengan istiqamah, sehingga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada berguna di hari kiamat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar