Halaman

Jumat, 23 Januari 2026

Mampu Belajar tapi Lalai, Berilmu tapi Tak Mengamalkan

Ilmu adalah cahaya yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya sebagai jalan menuju kemuliaan dunia dan akhirat. Namun cahaya itu hanya akan bermakna jika dicari dengan kesungguhan dan diamalkan dengan keikhlasan. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir: أَشَدُّ النَّاسِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَمْكَنَهُ طَلَبُ الْعِلْمِ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَطْلُبْهُ، وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَانْتَفَعَ بِهِ مَنْ سَمِعَهُ مِنْهُ دُوْنَهُ (Orang yang paling menyesal/paling rugi pada hari kiamat adalah seseorang yang ada kemampuan untuk menuntut ilmu di dunia tetapi dia tidak menuntut ilmu, dan seseorang yang mengajarkan suatu ilmu namun ia dimanfaatkan oleh orang lain yang mendengarnya namun tidak bermanfaat buat dirinya) hadir sebagai peringatan yang sangat tajam dan menyentuh nurani, bahwa penyesalan terbesar di hari kiamat bukan semata karena kekurangan harta atau jabatan, melainkan karena kelalaian terhadap ilmu yang seharusnya bisa diraih dan diamalkan selama hidup di dunia.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa orang yang paling menyesal pada hari kiamat ada dua golongan. Pertama, seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menuntut ilmu di dunia, tetapi ia menyia-nyiakannya. Kedua, seseorang yang telah memiliki dan mengajarkan ilmu, namun ilmu itu justru memberi manfaat kepada orang lain, sementara dirinya sendiri tidak mengambil manfaat darinya. Dua gambaran ini menunjukkan bahwa penyesalan terbesar lahir dari sikap menyia-nyiakan potensi dan tidak menyelaraskan ilmu dengan amal.

Golongan pertama adalah orang yang hidup dalam kondisi memungkinkan untuk belajar—baik dari sisi waktu, akal, maupun sarana—namun memilih berpaling dari ilmu. Ia lebih sibuk mengejar urusan dunia, hiburan, atau hal-hal yang fana, sehingga kesempatan emas untuk menuntut ilmu terlewatkan. Penyesalan golongan ini menjadi sangat berat karena pada hari kiamat ia menyadari bahwa jalan keselamatan dan kedekatan kepada Allah sebenarnya terbuka lebar, namun ia sendiri yang menutupnya dengan kelalaian dan kemalasan.

Adapun golongan kedua adalah orang yang telah dianugerahi ilmu, bahkan mampu mengajarkannya kepada orang lain, namun ilmu tersebut tidak tercermin dalam perilaku dan amalnya. Ia mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengamalkannya; ia menyeru kepada kebaikan, tetapi lalai melaksanakannya. Penyesalan golongan ini lebih pedih, karena ia menyaksikan orang-orang yang belajar darinya justru selamat dan memperoleh pahala, sementara dirinya terhenti oleh kelalaiannya sendiri.

Hadis ini mengandung peringatan keras bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab. Ilmu yang tidak dicari padahal mampu, dan ilmu yang tidak diamalkan padahal diketahui, sama-sama dapat menjadi sebab penyesalan di akhirat. Oleh karena itu, Islam menekankan keseimbangan antara thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu) dan ‘amal bil ‘ilmi (mengamalkan ilmu), karena keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.

Melalui hadis riwayat Ibnu ‘Asakir ini, setiap Muslim diajak untuk melakukan muhasabah diri: sejauh mana kita bersungguh-sungguh menuntut ilmu, dan sejauh mana ilmu itu membentuk akhlak serta amal kita. Selama pintu usia masih terbuka, kesempatan belajar dan memperbaiki diri masih ada. Hadis ini seakan mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan pada banyaknya ilmu yang diketahui, tetapi pada ilmu yang dicari dengan ikhlas dan diamalkan dengan istiqamah, sehingga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada berguna di hari kiamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...