Halaman

Jumat, 30 Januari 2026

Merendah Tanpa Rendah Diri

Kalam hikmah Abdullah bin Mubarak yang diriwayatkan dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, التَّكَبُّرُ عَلَى الْأَغْنِيَاءِ وَالتَّوَاضُعُ لِلْفُقَرَاءِ مِنَ التَّوَاضُعِ Bersikap sombong pada orang kaya dan bersikap tawadhu’ pada orang fakir itu termasuk sifat tawadhu’”, sekilas terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin sikap sombong justru dianggap bagian dari tawadhu’? Namun di balik ungkapan yang singkat ini tersembunyi kedalaman makna spiritual yang mengajarkan keseimbangan sikap seorang hamba dalam memandang dunia, manusia, dan nilai kemuliaan yang sesungguhnya di sisi Allah Swt.

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar, ahli hadis, sekaligus sufi yang dikenal kezuhudan dan keluasan ilmunya, tidak sedang menganjurkan kesombongan dalam arti tercela. Yang dimaksud dengan “bersikap sombong kepada orang kaya” adalah menjaga izzah (harga diri) dan tidak merendahkan diri di hadapan orang yang memiliki harta dan kekuasaan. Sikap ini mencegah seorang hamba dari ketergantungan hati kepada makhluk dan dari kecenderungan mengagungkan dunia secara berlebihan.

Sering kali kekayaan menjadi sebab seseorang diperlakukan dengan penuh penghormatan, sanjungan, bahkan ketundukan yang berlebihan. Dalam konteks inilah, “sombong” bermakna tidak tunduk kepada harta, tidak menjilat demi kepentingan duniawi, dan tidak menukar prinsip agama dengan materi. Sikap tegas dan menjaga jarak batin dari gemerlap dunia ini justru merupakan bentuk tawadhu’ kepada Allah, karena hati tidak tunduk kecuali kepada-Nya.

Adapun “bersikap tawadhu’ kepada orang fakir” mengajarkan kepekaan sosial dan kemuliaan akhlak. Orang fakir sering kali dipandang rendah karena tidak memiliki kekuatan materi. Dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka, seorang hamba dilatih untuk memuliakan manusia bukan karena hartanya, tetapi karena kemanusiaan dan ketakwaannya. Inilah akhlak Rasulullah Saw. yang selalu mendahulukan orang-orang lemah dan memuliakan mereka dengan kasih sayang dan perhatian.

Kalam hikmah ini menegaskan bahwa hakikat tawadhu’ bukanlah merendahkan diri di hadapan semua orang tanpa pandang bulu, melainkan menempatkan sikap secara proporsional dan adil. Tawadhu’ yang sejati adalah tunduk kepada kebenaran dan memuliakan orang yang lemah, sekaligus tidak tunduk kepada kebatilan, kesombongan dunia, dan ketergantungan pada kekayaan. Dengan demikian, tawadhu’ bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan batin yang lahir dari keimanan yang kokoh.

Pada akhirnya, hikmah Abdullah bin Mubarak ini mengajarkan adab hati dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Seorang hamba yang benar-benar tawadhu’ akan menjaga kehormatan dirinya di hadapan orang kaya, sekaligus melapangkan hatinya untuk merendah dan berempati kepada orang fakir. Inilah keseimbangan akhlak yang melahirkan keadilan, kemuliaan jiwa, dan kedekatan kepada Allah Swt, serta menjauhkan manusia dari kesombongan yang tercela dan kehinaan karena dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...