Dalam tradisi keilmuan Islam,
adab (etika) menempati posisi yang sangat tinggi, bahkan sering kali
didahulukan sebelum ilmu itu sendiri. Para ulama sejak generasi salaf
menekankan bahwa ilmu yang tidak dibarengi dengan kerendahan hati akan
kehilangan keberkahannya. Salah satu riwayat yang sering dikutip dalam konteks
ini terdapat dalam kitab Majma‘ az-Zawā’id karya al-Haitsami, yang
berbunyi: “مَنْ قَالَ إِنِّي عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ”(Barang siapa berkata bahwa
dirinya adalah orang alim, maka sesungguhnya dia adalah orang bodoh).
Riwayat ini, meskipun perlu dikaji dari sisi sanadnya, mengandung pesan moral
dan etika keilmuan yang sangat mendalam.
Kitab Majma‘ az-Zawā’id
sendiri merupakan karya yang menghimpun hadis-hadis tambahan (zawā’id)
yang tidak terdapat dalam Kutubus Sittah, namun berasal dari kitab-kitab hadis
lain seperti Musnad Ahmad, Mu‘jam ath-Thabrani, dan Musnad al-Bazzar.
Al-Haitsami tidak hanya mengumpulkan riwayat, tetapi juga memberikan catatan
singkat tentang kualitas sanadnya. Riwayat “مَنْ قَالَ إِنِّي عَالِمٌ
فَهُوَ جَاهِلٌ” sering
dipahami bukan sebagai hadis yang mendorong anti-ilmu, melainkan sebagai
peringatan keras terhadap sikap ujub (membanggakan diri) dalam keilmuan.
Makna utama dari ungkapan
tersebut adalah bahwa orang yang benar-benar berilmu akan semakin sadar akan
keterbatasan dirinya. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin ia memahami
betapa banyak hal yang belum ia ketahui. Oleh karena itu, klaim sepihak “aku
adalah orang alim” menunjukkan ketidaktahuan terhadap hakikat ilmu itu sendiri.
Dalam perspektif Islam, ilmu adalah karunia Allah, bukan semata-mata hasil
kecerdasan manusia, sehingga tidak pantas dijadikan alat untuk menyombongkan
diri.
Pesan riwayat ini sejalan dengan sikap para ulama besar terdahulu. Imam Malik, misalnya, terkenal sering menjawab “لَا أَدْرِي” (saya tidak tahu) ketika ditanya persoalan yang belum jelas baginya. Begitu pula Imam asy-Syafi‘i yang mengatakan bahwa setiap kali ilmunya bertambah, ia semakin menyadari kebodohannya. Hal ini menunjukkan bahwa kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan intelektual, melainkan justru ciri kedewasaan ilmiah dan kedalaman pemahaman.
Dengan demikian, riwayat “مَنْ قَالَ إِنِّي عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ” harus dipahami sebagai nasihat etis, bukan vonis literal terhadap setiap orang berilmu. Ia mengajarkan bahwa ilmu sejati melahirkan tawadhu‘, kehati-hatian dalam berbicara, serta kesadaran akan amanah keilmuan. Dalam konteks pendidikan dan akademik masa kini, pesan ini tetap relevan agar para penuntut ilmu, pendidik, dan cendekiawan senantiasa menjaga adab, menghindari kesombongan intelektual, dan menempatkan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah serta memberi manfaat bagi sesama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar