Halaman

Kamis, 08 Januari 2026

Saat Ilmu Melahirkan Kerendahan Hati

Dalam tradisi keilmuan Islam, adab (etika) menempati posisi yang sangat tinggi, bahkan sering kali didahulukan sebelum ilmu itu sendiri. Para ulama sejak generasi salaf menekankan bahwa ilmu yang tidak dibarengi dengan kerendahan hati akan kehilangan keberkahannya. Salah satu riwayat yang sering dikutip dalam konteks ini terdapat dalam kitab Majma‘ az-Zawā’id karya al-Haitsami, yang berbunyi: “مَنْ قَالَ إِنِّي عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ(Barang siapa berkata bahwa dirinya adalah orang alim, maka sesungguhnya dia adalah orang bodoh). Riwayat ini, meskipun perlu dikaji dari sisi sanadnya, mengandung pesan moral dan etika keilmuan yang sangat mendalam.

Kitab Majma‘ az-Zawā’id sendiri merupakan karya yang menghimpun hadis-hadis tambahan (zawā’id) yang tidak terdapat dalam Kutubus Sittah, namun berasal dari kitab-kitab hadis lain seperti Musnad Ahmad, Mu‘jam ath-Thabrani, dan Musnad al-Bazzar. Al-Haitsami tidak hanya mengumpulkan riwayat, tetapi juga memberikan catatan singkat tentang kualitas sanadnya. Riwayat “مَنْ قَالَ إِنِّي عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ sering dipahami bukan sebagai hadis yang mendorong anti-ilmu, melainkan sebagai peringatan keras terhadap sikap ujub (membanggakan diri) dalam keilmuan.

Makna utama dari ungkapan tersebut adalah bahwa orang yang benar-benar berilmu akan semakin sadar akan keterbatasan dirinya. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin ia memahami betapa banyak hal yang belum ia ketahui. Oleh karena itu, klaim sepihak “aku adalah orang alim” menunjukkan ketidaktahuan terhadap hakikat ilmu itu sendiri. Dalam perspektif Islam, ilmu adalah karunia Allah, bukan semata-mata hasil kecerdasan manusia, sehingga tidak pantas dijadikan alat untuk menyombongkan diri.

Pesan riwayat ini sejalan dengan sikap para ulama besar terdahulu. Imam Malik, misalnya, terkenal sering menjawab “لَا أَدْرِي (saya tidak tahu) ketika ditanya persoalan yang belum jelas baginya. Begitu pula Imam asy-Syafi‘i yang mengatakan bahwa setiap kali ilmunya bertambah, ia semakin menyadari kebodohannya. Hal ini menunjukkan bahwa kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan intelektual, melainkan justru ciri kedewasaan ilmiah dan kedalaman pemahaman.

Dengan demikian, riwayat “مَنْ قَالَ إِنِّي عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ harus dipahami sebagai nasihat etis, bukan vonis literal terhadap setiap orang berilmu. Ia mengajarkan bahwa ilmu sejati melahirkan tawadhu‘, kehati-hatian dalam berbicara, serta kesadaran akan amanah keilmuan. Dalam konteks pendidikan dan akademik masa kini, pesan ini tetap relevan agar para penuntut ilmu, pendidik, dan cendekiawan senantiasa menjaga adab, menghindari kesombongan intelektual, dan menempatkan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah serta memberi manfaat bagi sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tilawah dan Tadabur di Ramadan: Jalan untuk Menghidupkan Jiwa

Ramadan adalah bulan penuh keberkahan, di mana setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Di bulan ini, Al-Qur'an diturunkan sebaga...