Halaman

Sabtu, 31 Januari 2026

Tasmi’ & Tasyakuran Khotmil Qur'an 30 Juz Bil-Ghoib: Ikrar Kesetiaan Seorang Hafizhah kepada Al-Qur’an

Pada hari Kamis-Jum’at, 29-30 Januari 2026 M/10-11 Sya’ban 1447 H, Athiyah Haniyah Binti M. Abdullah Charis (Singosari Malang) santri putri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Asy-Syadzili 4 dan siswi kelas X SMK Tahfidh Asy-Syadzili Putukrejo Gondanglegi Malang di bawah asuhan Ibu Nyai Hj. Mufidah Syadzili dan KH. Nur Muhammad Hasyim, meraih pencapaian yang sangat membanggakan dalam perjalanan hidupnya, yaitu “tasmi’ Al-Qur'an 30 juz bil-ghoib”. Ini bukan sekadar momen seremonial, tetapi juga simbol dedikasi, kerja keras, dan kecintaan yang mendalam terhadap Kitab Suci Al-Qur'an. Menyelesaikan hafalan 30 juz adalah pencapaian yang tidak hanya mengharuskan hafalan yang kuat, tetapi juga ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Proses ini mencerminkan ketulusan hati yang ingin selalu mendekatkan diri kepada Allah melalui bacaan dan pemahaman Al-Qur'an.

Tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib adalah momentum puncak dalam proses tahfizh: seorang hafizhah memperdengarkan hafalannya tanpa melihat mushaf, mengalir dari Al-Fatihah sampai An-Nas, dengan menjaga ketepatan lafadz, tajwid, waqaf-ibtida’, dan adab. Kegiatan ini bukan sekadar “uji hafalan”, tetapi juga bentuk syiar, penguatan sanad pembelajaran (melalui penyimakan guru/penyimak), serta pembuktian kedisiplinan muraja’ah yang panjang. Karena itu, tasmi’ 30 juz biasanya dipandang sebagai capaian komprehensif: menggabungkan kemampuan kognitif (memori), teknis (makharij-tajwid), spiritual (ikhlas dan adab), dan mental (stamina serta fokus).

Keberhasilan tasmi’ bil-ghoib pada level 30 juz sangat ditentukan oleh ketahanan muraja’ah. Banyak penghafal mampu menambah hafalan baru, tetapi yang membedakan capaian adalah kemampuannya menjaga hafalan lama tetap hidup, tidak “berdebu”. Di sinilah muraja’ah berperan sebagai “jantung tahfizh”: pengulangan yang terstruktur membuat jalur memori semakin kuat, mengurangi potensi tertukar ayat yang mirip (mutasyabihat), dan menstabilkan ritme bacaan dari awal sampai akhir.

Secara teknis, tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib menuntut kesiapan pada tiga lapisan: (1) kualitas bacaan (tajwid, makharij, sifat huruf, panjang pendek, ghunnah), (2) peta hafalan (tahu posisi ayat, awal-akhir halaman, keterkaitan antar tema), dan (3) ketahanan performa (stamina, fokus, pengendalian gugup). Di pesantren tahfizh seperti Asy Syadzili 4, mekanisme penyimakan biasanya ketat: penyimak akan mengoreksi kesalahan lafadz/harakat, mengingatkan tempat waqaf yang tepat, dan memastikan bacaan tidak melenceng dari rasm serta qira’ah yang digunakan. Kesiapan Athiyah Haniyah berarti ia telah melewati latihan yang tidak ringan pada ketiga lapisan ini.

Dari sisi makna, tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib adalah “akad” batin: meneguhkan hubungan penghafal dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar capaian akademik. Banyak hafizhah merasakan bahwa hari tasmi’ adalah hari yang menguji keikhlasan, apakah ia membaca untuk Allah atau untuk penilaian manusia. Karena itu, keberkahan tasmi’ biasanya dijaga dengan adab: memperbanyak doa, menjaga lisan dan pandangan, memuliakan guru/penyimak, serta menata hati agar tidak terpancing panik saat ada koreksi.

Perjalanan menuju tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Setiap huruf, setiap ayat yang dihafalkan memerlukan usaha keras dan ketelitian. Namun, bagi Athiyah Haniyah, setiap langkah menuju pencapaian ini dipenuhi dengan rasa syukur dan semangat yang membara. Dalam setiap detik yang dilalui, ia tidak hanya menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga berusaha untuk menghayati maknanya. Kekuatan doa dan keyakinan kepada Allah menjadi pendorong utama yang membantunya melewati tantangan demi tantangan yang hadir dalam perjalanan ini.

Pencapaian ini tentu saja tidak hanya milik Athiyah Haniyah seorang diri. Di balik setiap hafalan, ada dukungan dari keluarga, guru, dan lingkungan yang turut serta berperan dalam kesuksesannya. Orang tua yang selalu memberikan doa dan motivasi, guru yang sabar membimbing dengan penuh kasih sayang, serta teman-teman yang memberikan semangat, semua menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan ini. Tanpa dukungan mereka, perjalanan menuju hafalannya mungkin akan terasa lebih berat. Oleh karena itu, tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib ini juga merupakan hasil kolaborasi antara usaha pribadi dan bantuan dari orang-orang yang memiliki niat baik.

Tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib juga membawa tanggung jawab yang lebih besar. Menjadi seorang hafizhah bukan hanya soal memiliki kemampuan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga tentang bagaimana mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Athiyah Haniyah, dengan pencapaian ini, memiliki kesempatan untuk lebih memperdalam pemahamannya tentang ajaran Islam dan menjadi contoh bagi orang lain dalam mempraktikkan Al-Qur'an. Setiap langkah yang diambilnya, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun spiritual, akan dipandang dengan lebih besar oleh masyarakat sebagai seorang teladan yang membawa pesan-pesan kebaikan.

Tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib ini bukan hanya sebuah pencapaian pribadi, tetapi juga kontribusi besar bagi umat Islam. Al-Qur'an, sebagai petunjuk hidup umat manusia, membutuhkan para penghafalnya untuk menjaga dan menyebarluaskan ajaran-ajarannya. Dengan kemampuan hafalan yang dimiliki, Athiyah Haniyah dapat menjadi bagian dari generasi penerus yang meneruskan tradisi menjaga dan mengamalkan Al-Qur'an. Selain itu, pencapaian ini juga membuka peluang bagi dirinya untuk berperan aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan Islam, sehingga memberikan dampak positif bagi banyak orang.

Namun, pencapaian ini tidak berhenti hanya pada momen tasmi’. Athiyah Haniyah tentu akan terus berusaha untuk memperdalam pengetahuan tentang Al-Qur'an dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Setiap hafalan yang dimiliki bukanlah tujuan akhir, tetapi justru awal dari perjalanan yang lebih panjang, untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan berbagi manfaat kepada sesama. Ia akan terus melanjutkan langkahnya, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan kontribusi positif bagi umat.

Pencapaian ini juga merupakan sebuah inspirasi bagi generasi muda yang bercita-cita untuk menghafal Al-Qur'an. Melihat kesuksesan Athiyah Haniyah, mereka dapat merasa termotivasi untuk mengikut jejaknya dan membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, segala impian -termasuk menghafal seluruh Al-Qur'an- dapat tercapai. Hal ini memberikan gambaran bahwa meski banyak tantangan dalam proses menghafal, hasil yang didapat akan sebanding dengan usaha dan pengorbanan yang diberikan.

Akhirnya, kesuksesan tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib pada 29–30 Januari 2026 itu dapat dipahami sebagai hasil dari proses panjang yang konsisten: disiplin ziyadah, muraja’ah yang tertata, bimbingan guru, lingkungan pesantren yang mendukung, dan penjagaan hati. Semoga tasmi’ 30 juz Al-Qur’an bil-ghoib ini menjadi amal jariyah, mengokohkan dirinya sebagai penjaga Kalamullah, serta menginspirasi santri lain bahwa capaian besar selalu lahir dari langkah kecil yang dijaga setiap hari, dengan niat lurus, adab yang benar, dan kesabaran yang terus diperbarui. Semoga melalui pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an, baik dalam hafalan, pembelajaran, maupun pengamalannya. Dan bagi Athiyah Haniyah, ini adalah awal dari perjalanan panjang sebagai seorang hafizhah yang terus berkarya dan memberikan kebaikan untuk dunia dan akhirat. Allahumma irhamnā bil Qur’an, serta selamat dan sukses ya ahlal Qur’an!

Satu Abad NU: Mengawal Kemerdekaan, Menuntun Peradaban

Satu abad perjalanan bukanlah waktu yang singkat, terlebih bagi sebuah organisasi keagamaan yang lahir dari keprihatinan, keikhlasan, dan cita-cita besar untuk umat dan bangsa. Pada tanggal 31 Januari 2026, Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia 100 tahun, menandai satu abad pengabdian yang konsisten dalam menjaga agama, merawat tradisi, dan membangun peradaban. Dengan mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”, peringatan 1 abad NU menjadi momentum reflektif sekaligus proyektif—menengok sejarah perjuangan, menilai realitas kekinian, dan menatap masa depan Indonesia dengan penuh harapan.

Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 oleh para ulama besar, dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai tokoh sentral, di tengah situasi penjajahan dan tekanan terhadap praktik keagamaan tradisional. Sejak awal kelahirannya, NU hadir sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berpijak pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus menjadi benteng akidah, syariah, dan tasawuf umat Islam Nusantara. NU tidak hanya berperan dalam ranah keagamaan, tetapi juga dalam memperjuangkan martabat bangsa dan identitas keislaman yang ramah terhadap budaya lokal.

Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, NU memiliki kontribusi historis yang sangat penting. Salah satu tonggak utamanya adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban agama. Sikap ini membuktikan bahwa NU sejak awal berdiri telah menempatkan nasionalisme dan keislaman sebagai dua nilai yang saling menguatkan, bukan bertentangan. Oleh karena itu, tema “Mengawal Indonesia Merdeka” mencerminkan komitmen NU yang tidak pernah terputus dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Memasuki usia satu abad, NU tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial. Melalui jaringan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi, NU berkontribusi besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di bidang sosial dan kemanusiaan, NU aktif dalam pelayanan kesehatan, pengentasan kemiskinan, serta penguatan ekonomi umat. Semua ini menunjukkan bahwa NU memaknai kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, melainkan juga bebas dari kebodohan, ketertinggalan, dan ketidakadilan.

Tema “Menuju Peradaban Mulia” menegaskan visi NU untuk membangun masa depan yang berlandaskan nilai-nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan. Peradaban mulia yang dimaksud bukan hanya kemajuan material dan teknologi, tetapi juga keluhuran akhlak, toleransi, keadilan sosial, serta harmoni antarumat beragama. Dalam era globalisasi dan disrupsi digital, NU berupaya menjadi penuntun umat agar mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman yang moderat.

Peringatan 1 abad NU juga menjadi ajakan untuk melakukan muhasabah kolektif, merenungkan tantangan internal dan eksternal yang dihadapi umat dan bangsa. Tantangan seperti radikalisme, polarisasi sosial, krisis lingkungan, serta degradasi etika publik menuntut peran NU yang semakin strategis. Dengan prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil), NU diharapkan terus menjadi penyejuk dan pemersatu di tengah dinamika kehidupan berbangsa.

Dengan demikian, peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama (1926–2026) bukan sekadar perayaan usia, melainkan peneguhan tekad untuk melanjutkan khidmah kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan. Tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” mengandung pesan kuat bahwa kemerdekaan harus terus dijaga, diisi, dan diarahkan menuju kehidupan yang berkeadaban. Dengan warisan ulama, kekuatan jamaah, dan semangat kebersamaan, NU siap melangkah ke abad kedua sebagai pilar penting dalam mewujudkan Indonesia yang damai, adil, dan bermartabat.

Jumat, 30 Januari 2026

Merendah Tanpa Rendah Diri

Kalam hikmah Abdullah bin Mubarak yang diriwayatkan dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, التَّكَبُّرُ عَلَى الْأَغْنِيَاءِ وَالتَّوَاضُعُ لِلْفُقَرَاءِ مِنَ التَّوَاضُعِ Bersikap sombong pada orang kaya dan bersikap tawadhu’ pada orang fakir itu termasuk sifat tawadhu’”, sekilas terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin sikap sombong justru dianggap bagian dari tawadhu’? Namun di balik ungkapan yang singkat ini tersembunyi kedalaman makna spiritual yang mengajarkan keseimbangan sikap seorang hamba dalam memandang dunia, manusia, dan nilai kemuliaan yang sesungguhnya di sisi Allah Swt.

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar, ahli hadis, sekaligus sufi yang dikenal kezuhudan dan keluasan ilmunya, tidak sedang menganjurkan kesombongan dalam arti tercela. Yang dimaksud dengan “bersikap sombong kepada orang kaya” adalah menjaga izzah (harga diri) dan tidak merendahkan diri di hadapan orang yang memiliki harta dan kekuasaan. Sikap ini mencegah seorang hamba dari ketergantungan hati kepada makhluk dan dari kecenderungan mengagungkan dunia secara berlebihan.

Sering kali kekayaan menjadi sebab seseorang diperlakukan dengan penuh penghormatan, sanjungan, bahkan ketundukan yang berlebihan. Dalam konteks inilah, “sombong” bermakna tidak tunduk kepada harta, tidak menjilat demi kepentingan duniawi, dan tidak menukar prinsip agama dengan materi. Sikap tegas dan menjaga jarak batin dari gemerlap dunia ini justru merupakan bentuk tawadhu’ kepada Allah, karena hati tidak tunduk kecuali kepada-Nya.

Adapun “bersikap tawadhu’ kepada orang fakir” mengajarkan kepekaan sosial dan kemuliaan akhlak. Orang fakir sering kali dipandang rendah karena tidak memiliki kekuatan materi. Dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka, seorang hamba dilatih untuk memuliakan manusia bukan karena hartanya, tetapi karena kemanusiaan dan ketakwaannya. Inilah akhlak Rasulullah Saw. yang selalu mendahulukan orang-orang lemah dan memuliakan mereka dengan kasih sayang dan perhatian.

Kalam hikmah ini menegaskan bahwa hakikat tawadhu’ bukanlah merendahkan diri di hadapan semua orang tanpa pandang bulu, melainkan menempatkan sikap secara proporsional dan adil. Tawadhu’ yang sejati adalah tunduk kepada kebenaran dan memuliakan orang yang lemah, sekaligus tidak tunduk kepada kebatilan, kesombongan dunia, dan ketergantungan pada kekayaan. Dengan demikian, tawadhu’ bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan batin yang lahir dari keimanan yang kokoh.

Pada akhirnya, hikmah Abdullah bin Mubarak ini mengajarkan adab hati dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Seorang hamba yang benar-benar tawadhu’ akan menjaga kehormatan dirinya di hadapan orang kaya, sekaligus melapangkan hatinya untuk merendah dan berempati kepada orang fakir. Inilah keseimbangan akhlak yang melahirkan keadilan, kemuliaan jiwa, dan kedekatan kepada Allah Swt, serta menjauhkan manusia dari kesombongan yang tercela dan kehinaan karena dunia.

Kamis, 29 Januari 2026

Kebenaran sebagai Kompas Profesi Hukum

Ungkapan “Jadilah penasihat hukum yang mencari kebenaran bukan pembenaran” mengandung pesan moral yang sangat dalam dan relevan bagi dunia hukum modern. Kalimat ini bukan sekadar nasihat etis, melainkan sebuah pengingat akan tanggung jawab besar yang dipikul oleh profesi hukum. Di tengah kompleksitas kasus, tekanan kepentingan, dan tuntutan klien, seorang penasihat hukum dituntut untuk tetap berpegang pada nilai kejujuran dan keadilan. Ungkapan ini mengajak para praktisi hukum untuk menempatkan kebenaran sebagai kompas utama dalam menjalankan tugas profesionalnya.

Makna utama dari ungkapan tersebut terletak pada perbedaan mendasar antara kebenaran dan pembenaran. Kebenaran berkaitan dengan fakta, realitas, dan keadilan yang objektif, sedangkan pembenaran sering kali merupakan upaya subjektif untuk membela kepentingan tertentu, meskipun bertentangan dengan fakta atau nurani. Seorang penasihat hukum yang hanya mencari pembenaran berisiko memanipulasi hukum demi kemenangan semata, tanpa mempertimbangkan dampak moral maupun sosial dari tindakannya.

Sebagai bagian dari sistem peradilan, penasihat hukum memiliki peran strategis dalam menegakkan supremasi hukum. Mencari kebenaran berarti membantu klien dengan cara yang sah, etis, dan bertanggung jawab, termasuk memberikan nasihat yang jujur meskipun tidak selalu menyenangkan. Dalam konteks ini, penasihat hukum tidak hanya bertindak sebagai pembela klien, tetapi juga sebagai penjaga integritas hukum agar proses peradilan berjalan secara adil dan bermartabat.

Ungkapan ini juga menekankan pentingnya integritas pribadi dan profesional. Seorang penasihat hukum yang berorientasi pada kebenaran akan berani menolak praktik-praktik yang menyimpang, seperti rekayasa bukti atau penyesatan fakta. Sikap ini menuntut keberanian moral, karena sering kali kebenaran tidak sejalan dengan kepentingan jangka pendek. Namun, justru dari komitmen inilah kepercayaan publik terhadap profesi hukum dapat tumbuh dan terjaga.

Dengan demikian, ungkapan “Jadilah penasihat hukum yang mencari kebenaran bukan pembenaran” merupakan seruan etis yang menempatkan hukum sebagai sarana keadilan, bukan sekadar alat kemenangan. Pesan ini relevan tidak hanya bagi penasihat hukum, tetapi juga bagi seluruh aparat penegak hukum dan masyarakat luas. Ketika kebenaran dijadikan tujuan utama, hukum akan berfungsi sebagaimana mestinya: melindungi yang benar, menegur yang salah, dan menciptakan tatanan sosial yang adil dan beradab.

Rabu, 28 Januari 2026

Belajar dari Para Shalihin atau Menanggung Penyesalan

Ilmu para shalihin adalah warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh orang-orang yang hidupnya dipenuhi ketaatan dan keikhlasan kepada Allah Swt. Ilmu ini bukan sekadar rangkaian pengetahuan, melainkan cahaya yang membimbing hati, meluruskan niat, dan membentuk akhlak. Perkataan ulama, “Jika engkau enggan mempelajari ilmu shalihin, maka cukuplah hal itu membuatmu terhina dan menyesal untuk selamanya,” hadir sebagai peringatan keras namun penuh kasih, agar manusia tidak meremehkan nilai ilmu yang diwariskan oleh orang-orang saleh.

Ilmu shalihin adalah ilmu yang lahir dari hati yang bersih, amal yang ikhlas, dan kedekatan dengan Allah Swt. Ilmu ini tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga bagaimana menjalankan kebenaran tersebut dalam kehidupan. Para shalihin mengajarkan agama bukan sekadar dengan lisan, melainkan dengan teladan hidup. Oleh karena itu, mempelajari ilmu mereka berarti belajar cara hidup yang diridhai Allah, bukan hanya menambah wawasan intelektual semata.

Keengganan mempelajari ilmu shalihin sering kali lahir dari kesombongan, merasa cukup dengan pengetahuan sendiri, atau terbuai oleh ilmu duniawi yang tampak lebih menjanjikan secara materi. Sikap ini membuat seseorang terputus dari mata rantai keteladanan dan hikmah. Ia mungkin terlihat berilmu, tetapi kehilangan arah dan kedalaman makna. Inilah bentuk kehinaan yang dimaksud, bukan kehinaan lahiriah, melainkan kehinaan batin karena jauh dari cahaya hidayah.

Penyesalan yang dimaksud dalam perkataan ulama ini bukan sekadar penyesalan sesaat, tetapi penyesalan yang terus menghantui, terutama ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya kosong dari nilai keberkahan. Di akhirat, penyesalan itu menjadi semakin nyata ketika ilmu yang seharusnya menuntun kepada keselamatan tidak pernah dicari. Kesempatan belajar dari para shalihin yang dahulu terbuka lebar telah tertutup rapat oleh kematian dan waktu yang tak bisa kembali.

Perkataan ulama ini mengajak setiap Muslim untuk bersikap rendah hati dalam menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh mendekat kepada para shalihin, baik melalui majelis ilmu, kitab-kitab mereka, maupun keteladanan hidupnya. Selama hayat masih dikandung badan, pintu belajar dan memperbaiki diri masih terbuka. Dengan mempelajari ilmu shalihin, seseorang bukan hanya terhindar dari kehinaan dan penyesalan, tetapi juga memperoleh kemuliaan hidup, ketenangan hati, dan harapan keselamatan di akhirat.

Selasa, 27 Januari 2026

Ketika Mata Tak Memandang, Telinga Menghidupkan Cinta

Kalam hikmah Al-Habib Ali Al-Habsyi yang berbunyi “Bila matamu belum bisa memandang wajah Rasulullah secara langsung, maka jangan sampai telingamu tidak bisa merasakan nikmat mendengarkan sifat-sifat mulianya” adalah ungkapan yang sarat dengan cinta, kerinduan, dan pendidikan ruhani. Kalimat ini tidak hanya menyentuh perasaan, tetapi juga mengarahkan umat Islam pada cara menghadirkan Rasulullah Saw. dalam kehidupan, meskipun terpisah oleh ruang dan waktu. Ia menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Nabi.

Makna pertama dari kalam hikmah ini terletak pada kesadaran bahwa umat Islam saat ini tidak hidup sezaman dengan Rasulullah Saw., sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memandang wajah beliau secara langsung. Namun, Al-Habib Ali Al-Habsyi menegaskan bahwa ketidakhadiran fisik tersebut tidak boleh memutus hubungan batin dengan Nabi. Kerinduan yang sejati justru diuji ketika seseorang tetap berusaha mendekatkan diri kepada Rasulullah melalui cara-cara yang Allah dan Rasul-Nya ridai.

Mendengarkan sifat-sifat mulia Rasulullah Saw. baik melalui sirah, maulid, shalawat, maupun majelis ilmu menjadi jembatan spiritual untuk mengenal dan mencintai beliau. Telinga yang terbiasa mendengar akhlak Nabi akan menghidupkan hati, karena setiap kisah tentang kesabaran, kelembutan, kejujuran, dan kasih sayang beliau mengandung cahaya petunjuk. Dari sinilah rasa nikmat yang dimaksud dalam kalam hikmah tersebut muncul, yaitu kenikmatan ruhani yang menumbuhkan kecintaan dan keteladanan.

Lebih jauh, kalam hikmah ini juga mengandung pesan pendidikan akhlak. Mengenal sifat-sifat Rasulullah Saw. bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang sering mendengar tentang akhlak Nabi, maka secara perlahan sikap dan perilakunya akan dibentuk oleh nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, hubungan dengan Rasulullah Saw. tidak berhenti pada rasa cinta emosional, tetapi terwujud dalam amal dan akhlak yang nyata.

Dengan demikian, pesan Al-Habib Ali Al-Habsyi mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah Saw. dapat terus hidup meskipun kita tidak melihat beliau secara langsung. Selama telinga masih terbuka untuk mendengar kisah dan sifat-sifat mulia beliau, dan hati siap menerimanya dengan penuh kerinduan, maka hubungan ruhani dengan Nabi akan tetap terjaga. Kalam hikmah ini menjadi ajakan lembut agar umat Islam senantiasa menghidupkan majelis ilmu, shalawat, dan maulid sebagai sarana menumbuhkan cinta, iman, dan akhlak yang mulia.

Senin, 26 Januari 2026

Ketika Mimpi Tinggi Menuntut Pribadi yang Tangguh

Ungkapan “Mimpi-mimpi besar membutuhkan orang-orang besar untuk mewujudkannya” mengandung makna yang dalam tentang hubungan antara cita-cita dan kualitas manusia di baliknya. Sejak awal peradaban, kemajuan besar umat manusia tidak pernah lahir dari mimpi yang kecil atau usaha yang setengah-setengah. Setiap perubahan besar selalu diawali oleh keberanian untuk bermimpi tinggi, lalu diikuti oleh kehadiran individu-individu yang memiliki keteguhan, integritas, dan komitmen luar biasa untuk mengubah mimpi tersebut menjadi kenyataan.

Mimpi besar pada hakikatnya adalah gambaran masa depan yang melampaui kondisi saat ini. Mimpi semacam ini sering kali menantang kebiasaan, melawan keterbatasan, dan menuntut pengorbanan. Karena itu, mimpi besar tidak cukup hanya dengan niat atau angan-angan, melainkan memerlukan visi yang jelas dan tujuan yang terarah. Tanpa mimpi besar, manusia cenderung terjebak dalam zona nyaman dan sulit berkembang, baik secara pribadi maupun kolektif.

Namun, mimpi besar tidak akan pernah terwujud tanpa kehadiran orang-orang besar. Yang dimaksud orang besar bukan semata-mata mereka yang memiliki kekuasaan atau jabatan tinggi, melainkan individu yang besar dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Orang-orang seperti ini memiliki keberanian untuk mengambil risiko, ketekunan dalam menghadapi kegagalan, serta kerendahan hati untuk terus belajar. Mereka mampu melihat rintangan sebagai tantangan, bukan sebagai alasan untuk menyerah.

Selain itu, orang-orang besar memahami bahwa mewujudkan mimpi besar jarang bisa dilakukan seorang diri. Mereka mampu bekerja sama, menginspirasi, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan bersama. Kepemimpinan, empati, dan kemampuan membangun kepercayaan menjadi kualitas penting yang membuat mimpi besar tidak hanya menjadi milik pribadi, tetapi berubah menjadi gerakan yang berdampak luas bagi banyak orang.

Pada akhirnya, ungkapan tersebut mengajarkan bahwa mimpi dan manusia adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Mimpi besar menuntut pertumbuhan diri agar seseorang menjadi “besar” dalam nilai dan karakter. Sebaliknya, orang-orang besar akan selalu menantang dirinya dengan mimpi-mimpi besar agar hidupnya bermakna. Dengan demikian, mewujudkan mimpi besar bukan hanya soal mencapai hasil akhir, tetapi juga tentang proses pembentukan manusia yang tangguh, visioner, dan bertanggung jawab. 

Minggu, 25 Januari 2026

Setiap Hati Menyimpan Cerita yang Tak Terucap

Ungkapan “Hidup ini tidak akan ideal untuk siapa pun. Kita akan menjalaninya dengan segala manis dan pahitnya. Maka jangan menorehkan luka pada siapa pun, sebab setiap hati sudah cukup terbebani” merupakan refleksi mendalam tentang realitas kehidupan dan pentingnya empati antar sesama. Sejak manusia mulai memahami makna hidup, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa kebahagiaan dan penderitaan berjalan beriringan. Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya sempurna, dan setiap orang, tanpa terkecuali, memikul beban yang sering kali tidak tampak oleh mata.

Bagian pertama ungkapan ini menegaskan bahwa hidup tidak pernah ideal. Setiap individu memiliki perjalanan yang unik, lengkap dengan harapan yang terwujud maupun yang gagal. Kondisi ini mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian alami dari proses hidup. Dengan menyadari ketidaksempurnaan ini, manusia diharapkan mampu menerima dirinya dan orang lain dengan lebih lapang, tanpa tuntutan yang berlebihan terhadap kesempurnaan.

Selanjutnya, pernyataan bahwa hidup dijalani dengan manis dan pahit menggambarkan dinamika emosi dan pengalaman manusia. Kebahagiaan memberi makna dan harapan, sementara penderitaan membentuk ketangguhan dan kedewasaan. Keduanya saling melengkapi dan menjadikan manusia lebih bijaksana. Tanpa pahitnya pengalaman, manisnya hidup akan kehilangan arti, dan tanpa manisnya kebahagiaan, manusia akan kehilangan semangat untuk bertahan.

Bagian paling kuat dari ungkapan ini terletak pada ajakan untuk tidak menorehkan luka pada siapa pun. Kesadaran bahwa setiap orang telah memikul bebannya sendiri menuntut sikap empati, kehati-hatian dalam berkata, serta kelembutan dalam bertindak. Luka emosional sering kali lebih dalam dan bertahan lebih lama daripada luka fisik. Oleh karena itu, menjaga perasaan orang lain menjadi bentuk tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan nilai kemanusiaan yang luhur: hidup mungkin tidak bisa dibuat ideal, tetapi sikap kita terhadap sesama dapat membuatnya lebih manusiawi. Dengan memilih untuk tidak menyakiti, bahkan berusaha menguatkan satu sama lain, kita ikut meringankan beban yang dipikul banyak hati. Inilah makna kebijaksanaan sejati—menerima realitas hidup dengan lapang dan menjalaninya dengan empati serta kasih sayang.

Sabtu, 24 Januari 2026

Menjadi Lebih Baik dari Kemarin

Ungkapan “Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi versi terbaik dirimu” merupakan pesan motivasional yang menegaskan bahwa kehidupan selalu menyediakan ruang untuk pertumbuhan dan perbaikan diri. Setiap pagi yang datang membawa kemungkinan baru, tanpa harus dibebani sepenuhnya oleh kesalahan atau kegagalan masa lalu. Kata-kata ini mengajak kita memandang hidup sebagai proses yang dinamis, di mana perubahan positif selalu mungkin selama seseorang memiliki kesadaran dan kemauan untuk berkembang.

Makna utama ungkapan tersebut terletak pada pemahaman bahwa diri manusia tidak bersifat statis. Menjadi versi terbaik bukan berarti mencapai kesempurnaan mutlak, melainkan berusaha menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten—dalam sikap, kebiasaan, maupun cara berpikir—akan membentuk pertumbuhan jangka panjang. Dengan sudut pandang ini, setiap hari menjadi titik awal yang bermakna, bukan sekadar pengulangan rutinitas.

Ungkapan ini juga memberikan harapan bagi siapa pun yang pernah merasa gagal atau tertinggal. Kesalahan di masa lalu tidak harus menjadi penjara yang menghambat langkah ke depan. Justru, pengalaman tersebut dapat dijadikan pelajaran berharga untuk membuat pilihan yang lebih bijak hari ini. Kesempatan baru setiap hari memungkinkan seseorang memperbaiki sikap, memperbarui niat, dan menata ulang tujuan hidupnya.

Selain itu, menjadi versi terbaik diri sendiri menuntut kesadaran dan tanggung jawab pribadi. Tidak ada orang lain yang dapat menjalani proses ini selain diri sendiri. Dibutuhkan disiplin, kejujuran, dan komitmen untuk terus belajar dan memperbaiki diri, meskipun perubahan itu terasa lambat. Dengan menjadikan setiap hari sebagai peluang, seseorang belajar untuk fokus pada proses, bukan hanya hasil akhir.

Pada akhirnya, ungkapan “Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi versi terbaik dirimu” mengajarkan sikap optimis dan penuh harapan dalam menjalani kehidupan. Hidup tidak ditentukan oleh satu kesalahan atau satu keberhasilan semata, melainkan oleh usaha berkelanjutan untuk bertumbuh. Dengan memaknai setiap hari sebagai anugerah dan peluang, manusia dapat menjalani hidup yang lebih sadar, bermakna, dan selaras dengan potensi terbaik yang dimilikinya.

Jumat, 23 Januari 2026

Mampu Belajar tapi Lalai, Berilmu tapi Tak Mengamalkan

Ilmu adalah cahaya yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya sebagai jalan menuju kemuliaan dunia dan akhirat. Namun cahaya itu hanya akan bermakna jika dicari dengan kesungguhan dan diamalkan dengan keikhlasan. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir: أَشَدُّ النَّاسِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَمْكَنَهُ طَلَبُ الْعِلْمِ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَطْلُبْهُ، وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَانْتَفَعَ بِهِ مَنْ سَمِعَهُ مِنْهُ دُوْنَهُ (Orang yang paling menyesal/paling rugi pada hari kiamat adalah seseorang yang ada kemampuan untuk menuntut ilmu di dunia tetapi dia tidak menuntut ilmu, dan seseorang yang mengajarkan suatu ilmu namun ia dimanfaatkan oleh orang lain yang mendengarnya namun tidak bermanfaat buat dirinya) hadir sebagai peringatan yang sangat tajam dan menyentuh nurani, bahwa penyesalan terbesar di hari kiamat bukan semata karena kekurangan harta atau jabatan, melainkan karena kelalaian terhadap ilmu yang seharusnya bisa diraih dan diamalkan selama hidup di dunia.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa orang yang paling menyesal pada hari kiamat ada dua golongan. Pertama, seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menuntut ilmu di dunia, tetapi ia menyia-nyiakannya. Kedua, seseorang yang telah memiliki dan mengajarkan ilmu, namun ilmu itu justru memberi manfaat kepada orang lain, sementara dirinya sendiri tidak mengambil manfaat darinya. Dua gambaran ini menunjukkan bahwa penyesalan terbesar lahir dari sikap menyia-nyiakan potensi dan tidak menyelaraskan ilmu dengan amal.

Golongan pertama adalah orang yang hidup dalam kondisi memungkinkan untuk belajar—baik dari sisi waktu, akal, maupun sarana—namun memilih berpaling dari ilmu. Ia lebih sibuk mengejar urusan dunia, hiburan, atau hal-hal yang fana, sehingga kesempatan emas untuk menuntut ilmu terlewatkan. Penyesalan golongan ini menjadi sangat berat karena pada hari kiamat ia menyadari bahwa jalan keselamatan dan kedekatan kepada Allah sebenarnya terbuka lebar, namun ia sendiri yang menutupnya dengan kelalaian dan kemalasan.

Adapun golongan kedua adalah orang yang telah dianugerahi ilmu, bahkan mampu mengajarkannya kepada orang lain, namun ilmu tersebut tidak tercermin dalam perilaku dan amalnya. Ia mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengamalkannya; ia menyeru kepada kebaikan, tetapi lalai melaksanakannya. Penyesalan golongan ini lebih pedih, karena ia menyaksikan orang-orang yang belajar darinya justru selamat dan memperoleh pahala, sementara dirinya terhenti oleh kelalaiannya sendiri.

Hadis ini mengandung peringatan keras bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab. Ilmu yang tidak dicari padahal mampu, dan ilmu yang tidak diamalkan padahal diketahui, sama-sama dapat menjadi sebab penyesalan di akhirat. Oleh karena itu, Islam menekankan keseimbangan antara thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu) dan ‘amal bil ‘ilmi (mengamalkan ilmu), karena keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.

Melalui hadis riwayat Ibnu ‘Asakir ini, setiap Muslim diajak untuk melakukan muhasabah diri: sejauh mana kita bersungguh-sungguh menuntut ilmu, dan sejauh mana ilmu itu membentuk akhlak serta amal kita. Selama pintu usia masih terbuka, kesempatan belajar dan memperbaiki diri masih ada. Hadis ini seakan mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan pada banyaknya ilmu yang diketahui, tetapi pada ilmu yang dicari dengan ikhlas dan diamalkan dengan istiqamah, sehingga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada berguna di hari kiamat.

Kamis, 22 Januari 2026

Empat Peran, Satu Jiwa: Makna Kepemimpinan Sejati

Pemimpin yang ideal bukan sekadar sosok yang memberi perintah atau menetapkan kebijakan, melainkan figur yang benar-benar hadir secara utuh di tengah orang-orang yang dipimpinnya. Ungkapan “Pemimpin yang ideal itu yang hadir sebagai Leader, Teacher, Father, dan Partner” menggambarkan kepemimpinan yang bersifat manusiawi, relasional, dan transformatif. Kepemimpinan seperti ini tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses pembentukan karakter, kepercayaan, dan kolaborasi. Dalam konteks organisasi, pendidikan, maupun masyarakat, model kepemimpinan ini menjadi sangat relevan karena menjawab kebutuhan manusia yang semakin kompleks.

Sebagai Leader, pemimpin berperan sebagai penentu arah dan pengambil keputusan strategis. Ia memiliki visi yang jelas, mampu membaca situasi, serta berani mengambil tanggung jawab atas setiap keputusan yang dibuat. Seorang leader tidak berjalan sendiri, tetapi mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah bersama menuju tujuan bersama. Keteladanan menjadi kunci utama, karena bawahan akan lebih mudah mengikuti pemimpin yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Dengan demikian, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan pengaruh yang dibangun melalui integritas dan kepercayaan.

Peran pemimpin sebagai Teacher menekankan pentingnya proses pembelajaran dalam kepemimpinan. Pemimpin ideal tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga membimbing, mengarahkan, dan mengembangkan potensi setiap individu. Ia bersedia berbagi ilmu, memberikan umpan balik yang membangun, serta membuka ruang untuk bertanya dan berdiskusi. Dalam peran ini, kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan semata-mata untuk dihukum. Dengan menjadi teacher, pemimpin menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kompetensi dan profesionalisme.

Sebagai Father, pemimpin hadir dengan sisi empati dan kepedulian. Ia mampu memahami kondisi emosional, personal, dan sosial orang-orang yang dipimpinnya. Peran ini tidak berarti bersikap otoriter, melainkan memberikan rasa aman, perlindungan, dan perhatian yang tulus. Pemimpin sebagai father akan menegur dengan bijak, mendisiplinkan dengan adil, serta mendukung saat anggota menghadapi kesulitan. Hubungan yang terbangun pun menjadi lebih kuat karena dilandasi rasa saling percaya dan penghargaan.

Peran Partner menunjukkan bahwa pemimpin tidak menempatkan diri sebagai pihak yang selalu paling benar atau paling tinggi. Ia mau berjalan sejajar, mendengarkan pendapat, dan menghargai kontribusi orang lain. Dalam posisi ini, komunikasi bersifat dua arah dan keputusan sering kali dihasilkan melalui kolaborasi. Pemimpin sebagai partner mendorong partisipasi aktif dan rasa memiliki terhadap organisasi atau tim. Hal ini penting untuk menciptakan budaya kerja yang inklusif dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, ungkapan Leader, Teacher, Father, dan Partner menggambarkan kepemimpinan yang holistik dan seimbang. Pemimpin ideal mampu menyesuaikan perannya sesuai dengan situasi dan kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan memadukan ketegasan, pembinaan, kepedulian, dan kolaborasi, kepemimpinan tidak hanya menghasilkan kinerja yang baik, tetapi juga membentuk manusia yang berkembang secara utuh. Inilah esensi kepemimpinan sejati yang tidak hanya memimpin, tetapi juga menginspirasi dan memberdayakan.

Rabu, 21 Januari 2026

Fokus Amal, Bukan Komentar: Seni Menjaga Hati dari Pujian dan Celaan

Dalam perjalanan hidup, salah satu ujian paling halus adalah keinginan untuk selalu diakui, dipuji, dan dibenarkan oleh manusia. Hati sering gelisah bukan karena kurang beramal, melainkan karena terlalu sibuk mendengarkan penilaian orang lain. Ungkapan reflektif “Jangan fokus mencari tahu apa yang dikatakan manusia tentang dirimu, sebab kamu akan tersakiti dengan pahitnya celaan dan tertipu dengan manisnya pujian. Fokuslah perbaiki amalmu, sebab hisabmu di sisi Allah bukan di sisi manusia” hadir sebagai nasihat yang menenangkan jiwa, mengajak manusia untuk mengalihkan pusat perhatian dari suara manusia menuju penilaian Allah yang Maha Adil.

Bagian pertama ungkapan ini menegaskan bahwa terlalu fokus pada ucapan manusia akan melahirkan luka batin. Celaan yang pahit dapat menjatuhkan semangat, melahirkan dendam, dan membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri. Sebaliknya, pujian yang manis pun tidak selalu menyehatkan hati, karena dapat menipu dan menumbuhkan rasa bangga diri. Dengan kata lain, baik celaan maupun pujian sama-sama berbahaya jika dijadikan tolok ukur nilai diri.

Ungkapan ini juga mengajarkan kematangan jiwa dalam menyikapi pandangan sosial. Manusia menilai berdasarkan apa yang tampak, sementara Allah menilai berdasarkan niat dan keikhlasan. Ketika seseorang menjadikan komentar manusia sebagai pusat orientasi hidupnya, ia akan mudah berubah sikap demi citra, bukan demi kebenaran. Akibatnya, amal kehilangan ruh keikhlasan dan berubah menjadi sekadar pencitraan.

Karena itu, nasihat ini mengarahkan fokus kepada hal yang lebih substansial, yaitu “memperbaiki amal”. Memperbaiki amal berarti meluruskan niat, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperbaiki akhlak dalam keseharian. Orang yang sibuk membenahi amalnya tidak akan sempat larut dalam penilaian manusia, sebab ia menyadari bahwa setiap detik hidup adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Pada akhirnya, ungkapan ini ditutup dengan pengingat paling mendasar: “hisab kita bukan di sisi manusia, tetapi di sisi Allah”. Di hadapan Allah, pujian tidak menyelamatkan dan celaan tidak mencelakakan. Yang bernilai hanyalah iman, keikhlasan, dan amal saleh. Kesadaran inilah yang melahirkan ketenangan, keberanian untuk berbuat benar, dan kebebasan batin dari belenggu penilaian manusia.

Selasa, 20 Januari 2026

Boleh Berencana, Tapi Allah yang Menentukan

Kalam hikmah “أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُmerupakan ungkapan singkat namun sarat makna teologis dan spiritual. Kalimat ini sering dikutip dalam tradisi tasawuf dan mau‘izhah sebagai pengingat tentang hakikat kehendak manusia yang terbatas dan kehendak Allah yang mutlak. Di dalamnya terkandung ajaran tauhid, adab seorang hamba kepada Rabb-nya, serta pendidikan batin agar manusia tidak terjebak pada kesombongan dan kekecewaan dalam menghadapi kehidupan.

Secara makna bahasa, ungkapan ini berarti: “Aku berkehendak, engkau berkehendak, dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” Kalimat ini menegaskan bahwa manusia memang memiliki iradah (kehendak) dan ikhtiar, demikian pula orang lain, namun semua kehendak tersebut tidak berdiri sendiri. Di atas seluruh kehendak makhluk, terdapat kehendak Allah yang bersifat mutlak, menentukan, dan tidak dapat dihalangi oleh siapa pun. Inilah dasar pemahaman tentang qadha dan qadar dalam Islam.

Dari sisi akidah, kalam hikmah ini mengajarkan keseimbangan antara usaha manusia dan ketundukan kepada ketentuan Allah. Islam tidak menafikan ikhtiar, sebab manusia diperintahkan untuk berusaha dan memilih. Namun, hasil akhir dari setiap usaha sepenuhnya berada dalam genggaman Allah. Dengan pemahaman ini, seorang mukmin tidak terjatuh pada paham jabariyah (fatalisme) yang meniadakan usaha, dan tidak pula pada kesombongan qodariyah yang menganggap manusia berkuasa penuh atas nasibnya.

Dalam dimensi spiritual dan tasawuf, ungkapan ini melatih hati agar tunduk, ridha, dan lapang menerima takdir Allah. Banyak kegelisahan hidup muncul karena keinginan manusia tidak sejalan dengan ketentuan Allah. Kalam hikmah ini mengajak manusia untuk melembutkan keinginannya di hadapan kehendak Allah, sehingga hatinya tidak mudah marah, kecewa, atau putus asa ketika realitas tidak sesuai dengan rencana pribadi.

Selain itu, kalam hikmah ini juga berfungsi sebagai pendidikan adab dalam berdoa dan berharap. Seorang hamba boleh memiliki cita-cita, rencana, dan harapan besar, namun semuanya harus disertai dengan sikap tawakkal dan penyerahan diri. Ketika doa belum terkabul atau hasil belum tercapai, ia menyadari bahwa Allah memilihkan yang terbaik sesuai hikmah-Nya, bukan semata-mata sesuai keinginannya sendiri.

Dengan demikian, kalam hikmah “أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُmenjadi pedoman hidup yang menumbuhkan ketenangan batin, kedewasaan iman, dan keikhlasan. Ia mengajarkan manusia untuk berusaha secara maksimal, berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh ridha. Inilah sikap seorang hamba yang mengenal Tuhannya: aktif dalam ikhtiar, tenang dalam takdir, dan yakin bahwa kehendak Allah selalu mengandung kebaikan dan hikmah.

Senin, 19 Januari 2026

Keberhasilan Dimulai dari Proses, Bukan Sekadar Hasil

Ungkapan “Berproseslah jangan takut soal hasil, tidak ada hal yang besar jika tidak dimulai dari yang kecil” merupakan nasihat reflektif yang menanamkan sikap sabar, tekun, dan optimis dalam menjalani kehidupan. Ungkapan ini mengajak seseorang untuk lebih menghargai perjalanan daripada sekadar terpaku pada capaian akhir. Dalam kehidupan modern yang serba instan, pesan ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan sejati lahir dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi.

Makna utama dari ungkapan ini terletak pada ajakan untuk fokus pada proses, bukan semata-mata hasil. Ketakutan terhadap hasil sering kali membuat seseorang enggan memulai atau mudah menyerah di tengah jalan. Padahal, hasil yang baik merupakan buah dari proses yang benar dan berkesinambungan. Dengan berani menjalani proses, seseorang sedang membangun fondasi yang kuat berupa pengalaman, keterampilan, dan kedewasaan diri.

Ungkapan tersebut juga menegaskan bahwa segala sesuatu yang besar selalu berawal dari langkah kecil. Tidak ada pencapaian luar biasa yang muncul secara tiba-tiba tanpa fase awal yang sederhana. Langkah kecil ini mungkin terlihat remeh, tetapi jika dilakukan secara konsisten, ia akan berkembang menjadi kekuatan besar. Kesadaran ini melatih seseorang untuk tidak meremehkan usaha kecil yang dilakukan hari ini.

Selain itu, proses yang dijalani dengan sabar memiliki peran penting dalam pembentukan mental dan karakter. Tantangan, kegagalan, dan keterbatasan yang ditemui selama proses justru menjadi sarana pembelajaran yang berharga. Melalui proses, seseorang belajar disiplin, tangguh, dan mampu mengelola emosi. Karakter inilah yang kelak menjadi penopang utama saat keberhasilan mulai diraih.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan bahwa keberanian untuk memulai dan ketekunan dalam berproses jauh lebih penting daripada kecemasan terhadap hasil yang belum tentu terwujud. Dengan memulai dari hal kecil dan terus melangkah, seseorang telah membuka jalan menuju pencapaian besar yang bermakna. Hasil akan datang pada waktunya, sementara proses yang dijalani dengan ikhlas akan meninggalkan jejak kebaikan dan pertumbuhan dalam diri.

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...