Halaman

Senin, 16 Februari 2026

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani, BA., SH., sosok ulama dan pendidik yang tidak hanya berjasa dalam dunia pendidikan, tetapi juga menjadi figur inspiratif dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan sosial. Di tengah kecenderungan pendidikan modern yang sering menitikberatkan aspek akademik semata, beliau menunjukkan bahwa pembentukan karakter, penguatan silaturahim, dan konsistensi dalam wirid/zikir merupakan fondasi utama dalam membangun generasi yang berkualitas. Keteladanan beliau menjadi refleksi penting bahwa keberhasilan pendidikan sejati terletak pada keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Allah Swt.

Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani dikenal sebagai pejuang pendidikan yang membuktikan dedikasinya melalui pendirian Yayasan Lembaga Pendidikan Ma’arif (LPM) Walisongo Gempol Pasuruan serta perannya sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Almaarif Singosari Malang. Keberadaan beliau menjadi gambaran nyata bagaimana seorang pendidik mampu memberi kontribusi besar bagi masyarakat dengan menggabungkan semangat mencerdaskan bangsa dan komitmen terhadap ajaran agama.

Dalam pandangan beliau, pendidikan merupakan sarana utama pembentukan karakter. Proses belajar tidak boleh berhenti pada penguasaan materi pelajaran, melainkan harus menyentuh aspek moral dan spiritual peserta didik. Ilmu tanpa akhlak dianggap tidak memiliki makna, karena kecerdasan intelektual harus disertai integritas dan keimanan. Oleh sebab itu, beliau senantiasa menanamkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia sebagai bagian dari pendidikan yang utuh.

Akhlak menjadi inti ajaran yang beliau tekankan. Setiap tindakan, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam ibadah, harus mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Beliau mengajarkan bahwa akhlak adalah manifestasi iman dan menjadi indikator keberhasilan pendidikan. Dengan membiasakan sikap jujur, rendah hati, dan penuh tanggung jawab, beliau membentuk murid-muridnya agar memiliki kepribadian yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam praktik pendidikan, beliau menunjukkan pendekatan yang penuh kasih sayang. Beliau memahami bahwa setiap murid memiliki potensi yang berbeda, sehingga pendidik harus mampu menggali dan mengembangkannya dengan kelembutan dan perhatian. Melalui hubungan yang dekat dan penuh empati, beliau menciptakan suasana belajar yang kondusif. Pendekatan personal ini menjadikan proses pendidikan lebih bermakna dan membangun ikatan batin antara guru dan murid.

Selain pendidikan, beliau juga sangat menekankan pentingnya silaturahim sebagai penguat ikatan sosial. Salah satu kebiasaan yang menonjol adalah kesediaan beliau mengunjungi rumah murid-muridnya untuk memberi dukungan, bertukar pikiran, serta membimbing mereka. Silaturahim tidak hanya dipahami sebagai pertemuan fisik, tetapi sebagai cara mempererat hati, menumbuhkan empati, dan menjaga persaudaraan.

Silaturahim merupakan nilai penting lain yang dijunjung tinggi oleh beliau. Tidak hanya mengajar di ruang kelas, beliau aktif menjalin hubungan dengan murid dan masyarakat. Kebiasaan mengunjungi murid untuk berbagi nasihat dan pengalaman menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap perkembangan mereka. Silaturahim bagi beliau bukan sekadar interaksi sosial, melainkan cara mempererat hati dan menumbuhkan empati, serta sarana memperkuat persaudaraan dan membangun jaringan kebaikan.

Nilai silaturahim yang beliau praktikkan sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 1:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Silaturahim yang dilakukan oleh beliau juga sejalan dengan sabda Rasulullah Saw.:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim." (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa besar manfaat silaturahim, baik dalam aspek kehidupan dunia maupun akhirat. Silaturahim membawa banyak keberkahan, mulai dari peningkatan rezeki hingga umur yang panjang. Beliau memaknai ajaran tersebut sebagai landasan etis dalam kehidupan sosial. Dengan menjaga hubungan yang harmonis, seseorang tidak hanya memperoleh manfaat sosial, tetapi juga keberkahan spiritual.

Selain silaturahim, beliau dikenal istiqamah dalam menjaga amalan hizb, wirid, atau zikir. Bagi beliau, wirid adalah sarana membersihkan hati dan memperkuat hubungan dengan Allah, serta zikir yang dilakukan secara konsisten diyakini mampu menenangkan jiwa serta memberi keteguhan dalam menghadapi ujian hidup. Beliau mengajarkan bahwa spiritualitas harus berjalan seiring dengan aktivitas duniawi agar hidup tetap terarah.

Konsistensi menjadi prinsip penting dalam berwirid dan berzikir. Beliau menekankan bahwa amalan yang sederhana sekalipun akan bernilai besar jika dilakukan secara istiqamah dan penuh keikhlasan. Hizb, wirid, dan zikir bukan sekadar rutinitas, melainkan benteng spiritual yang menjaga manusia dari kelalaian dan godaan dunia. Melalui kedekatan dengan Allah, seseorang akan memperoleh ketenangan batin dan kekuatan moral.

Melalui momen ini, Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani memberikan keteladanan bahwa silaturahim dan wirid/zikir adalah dua pilar kehidupan yang saling melengkapi. Silaturahim menjaga harmoni hubungan antarmanusia, sedangkan wirid/zikir memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Keteladanan beliau dalam memadukan pendidikan, akhlak, kepedulian sosial, dan spiritualitas menjadi inspirasi berharga bagi generasi muda untuk membangun kehidupan yang seimbang, berintegritas, dan penuh keberkahan. Lahul Fatihah . . .

Takut kepada Allah, Dimuliakan Manusia

Di tengah kehidupan manusia yang penuh dengan penilaian, tuntutan, dan ekspektasi sosial, sering kali seseorang terjebak dalam kecemasan: takut kehilangan penilaian baik manusia, takut dicela, atau takut tidak diterima. Padahal, para ulama besar telah lama mengingatkan bahwa arah rasa takut sangat menentukan kualitas hidup dan kemuliaan seseorang. Salah satu kalam hikmah yang sangat dalam maknanya disampaikan oleh Syekh Sa‘id Ramadhan al-Buthi: “Rasa takutmu kepada Allah menjadikanmu disenangi manusia. Rasa takutmu pada manusia menjadikanmu diremehkan oleh mereka.” Ungkapan ini mengandung pelajaran akidah, akhlak, dan psikologi sosial yang sangat relevan sepanjang zaman.

Makna pertama dari hikmah ini adalah bahwa rasa takut kepada Allah melahirkan ketulusan, kejujuran, dan konsistensi dalam sikap. Orang yang takut kepada Allah akan menjaga ucapan dan perbuatannya, bukan demi pujian manusia, melainkan demi ridha-Nya. Ketika seseorang bersikap lurus karena Allah, Allah pula yang menanamkan kewibawaan dan rasa hormat di hati manusia terhadapnya. Inilah yang dimaksud bahwa rasa takut kepada Allah justru menjadikan seseorang disenangi dan dihormati, meskipun ia tidak pernah mengejar popularitas atau pengakuan.

Sebaliknya, rasa takut kepada manusia menjadikan seseorang kehilangan kemerdekaan batin. Ia akan mudah berkompromi dengan kebenaran, menukar prinsip dengan kepentingan, dan menyesuaikan sikap demi menjaga citra. Sikap semacam ini justru membuat manusia lain memandangnya lemah dan tidak memiliki pendirian. Ketika seseorang terlalu takut kepada penilaian manusia, ia akan terus berada dalam posisi tertekan, dan pada akhirnya justru diremehkan karena tidak memiliki keteguhan sikap.

Syekh Sa‘id Ramadhan al-Buthi melalui kalam hikmah ini ingin menanamkan prinsip tauhid yang kokoh: bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak ditakuti secara mutlak. Ketika rasa takut hanya tertuju kepada Allah, maka rasa takut kepada makhluk akan mengecil dengan sendirinya. Hal ini melahirkan keberanian moral, ketenangan jiwa, serta kemampuan berkata benar meski pahit. Ironisnya, justru keberanian dan keteguhan inilah yang membuat manusia menghormati dan menghargai seseorang, baik secara sadar maupun tidak.

Dengan demikian, kalam hikmah Syekh Sa‘id Ramadhan al-Buthi ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak lahir dari upaya menyenangkan sesama manusia, melainkan dari kesungguhan menyenangkan Allah. Rasa takut kepada Allah membentuk pribadi yang berwibawa, jujur, dan konsisten, sementara rasa takut kepada manusia melahirkan kegelisahan dan kehinaan. Oleh karena itu, siapa pun yang mendambakan kehormatan di mata manusia hendaknya terlebih dahulu menata hatinya agar hanya takut kepada Allah, karena dari sanalah Allah menganugerahkan kemuliaan yang sejati.

Minggu, 15 Februari 2026

Berjalan Tenang Menuju Tujuan

Dalam kehidupan yang serba cepat, manusia sering merasa tertinggal hanya karena langkahnya tidak secepat orang lain. Media sosial dan tuntutan lingkungan membuat kecepatan seolah menjadi ukuran keberhasilan. Padahal, tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan berlari. Ungkapan “Jalan kaki bukan berarti tidak sampai kan?” hadir sebagai pengingat lembut bahwa setiap orang memiliki ritme hidupnya sendiri, dan pelan bukan berarti gagal.

Kalimat “Yang lari saja kadang bisa jatuh” mengajarkan bahwa kecepatan tidak selalu menjamin keselamatan dan keberhasilan. Banyak orang yang melesat cepat dalam hidup—cepat sukses, cepat terkenal, cepat mencapai target—namun tidak sedikit pula yang akhirnya kelelahan, kehilangan arah, atau jatuh sebelum sampai tujuan. Ini menunjukkan bahwa tergesa-gesa tanpa kesiapan mental dan fondasi yang kuat justru berisiko menghentikan perjalanan lebih awal.

Ungkapan ini kemudian menegaskan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling istiqamah melangkah. Istiqamah berarti konsisten, teguh, dan tidak mudah menyerah meski langkah terasa berat. Dalam konteks hidup, istiqamah adalah kemampuan untuk terus bergerak meski hasil belum terlihat, tetap berusaha meski proses terasa panjang, dan tidak berhenti hanya karena merasa tertinggal dari orang lain.

Pesan tentang “langkah kecil yang konsisten” memiliki makna yang sangat mendalam. Langkah kecil mungkin tampak tidak berarti jika dilihat sekilas, namun jika dilakukan terus-menerus, ia akan membawa seseorang jauh lebih maju dibandingkan lari kencang yang hanya bertahan sesaat. Konsistensi membangun kebiasaan, memperkuat mental, dan menumbuhkan kepercayaan diri. Dari langkah-langkah kecil inilah perubahan besar perlahan terbentuk.

Ungkapan “Selama arahmu benar” menjadi kunci utama dalam perjalanan hidup. Kecepatan dan jarak tempuh tidak akan bermakna jika arah yang dituju keliru. Arah yang benar berarti tujuan yang jelas, nilai yang tepat, dan niat yang lurus. Selama seseorang berjalan di jalan yang benar—baik secara moral, spiritual, maupun tujuan hidup—maka setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki nilai dan makna.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan ketenangan dalam menjalani hidup. Tidak perlu tergesa, tidak perlu membandingkan langkah dengan orang lain. Selama seseorang terus melangkah dengan istiqamah dan arah yang benar, ia pasti akan sampai pada tujuan yang telah ditetapkan. Pelan bukanlah masalah, berhenti yang perlu diwaspadai. Karena dalam hidup, yang benar-benar menang bukanlah yang paling cepat, melainkan yang tetap berjalan sampai akhir.

Sabtu, 14 Februari 2026

Dunia di Tangan, Akhirat di Hati

Dalam khazanah tasawuf Islam, para ulama sering menyampaikan hikmah yang singkat namun sangat dalam maknanya. Salah satu kalam hikmah yang terkenal adalah perkataan Imam Fudhail bin Iyadh yang dinukil dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah: “Allah menjadikan segala kejelekan dalam satu rumah dan menjadikan cinta dunia sebagai kuncinya. Allah menjadikan segala kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya.” Ungkapan ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi merupakan peta spiritual yang menjelaskan akar kerusakan hati sekaligus jalan pembuka menuju keselamatan dan kemuliaan ruhani.

Makna “Allah menjadikan segala kejelekan dalam satu rumah” menunjukkan bahwa keburukan dalam kehidupan manusia sebenarnya saling terhubung dan bersumber dari satu akar yang sama. Kejelekan yang dimaksud tidak hanya dosa besar, tetapi juga penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, riya’, hasad, rakus, serta ketidakjujuran. Semua itu dapat dipahami sebagai “isi rumah” keburukan. Ketika seseorang sudah masuk ke dalam rumah tersebut, maka ia akan mudah melakukan berbagai jenis pelanggaran, baik dalam hubungan kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Hikmah ini mengajarkan bahwa dosa-dosa tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan sebab-akibat yang mengakar kuat dalam orientasi hidup manusia.

Lalu Imam Fudhail menyatakan bahwa “cinta dunia adalah kunci rumah kejelekan.” Artinya, pintu keburukan paling sering terbuka ketika hati terlalu melekat pada dunia. Cinta dunia (hubbu ad-dunya) bukan berarti sekadar memiliki harta atau menikmati kehidupan, melainkan menjadikan dunia sebagai tujuan utama, pusat kebahagiaan, dan ukuran keberhasilan. Ketika dunia dicintai secara berlebihan, manusia akan mudah menghalalkan segala cara: menipu, curang, menindas, bahkan melupakan halal-haram. Dari sinilah muncul kerusakan moral, karena orientasi hidup berpindah dari mencari ridha Allah menjadi mengejar kepentingan nafsu dan prestise duniawi.

Sebaliknya, hikmah ini menyebut bahwa “Allah menjadikan segala kebaikan dalam satu rumah.” Rumah kebaikan mencakup amal saleh yang lahir dan batin: shalat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, akhlak yang lembut, sabar, syukur, tawakal, serta rasa takut dan cinta kepada Allah. Semua bentuk kebaikan itu saling menguatkan. Jika satu kebaikan tumbuh, maka kebaikan lain akan lebih mudah mengikuti. Contohnya, orang yang jujur akan lebih mudah menjaga amanah; orang yang rendah hati akan lebih mudah menerima nasihat; orang yang ikhlas akan lebih mudah bersabar. Maka “rumah kebaikan” adalah simbol keterpaduan amal saleh yang membentuk pribadi bertakwa.

Kemudian Imam Fudhail menegaskan bahwa “zuhud adalah kunci rumah kebaikan.” Zuhud bukan berarti membenci dunia atau meninggalkan pekerjaan, melainkan mengosongkan hati dari ketergantungan kepada dunia. Dunia tetap berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati. Zuhud adalah sikap batin yang memandang dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan tujuan akhir. Orang yang zuhud tidak mudah tergoda oleh pujian, jabatan, atau kekayaan, karena ia memahami bahwa semua itu fana dan akan dipertanggungjawabkan. Dengan zuhud, hati menjadi ringan, sehingga mudah untuk ikhlas, mudah untuk taat, dan mudah untuk menahan diri dari maksiat.

Hikmah Imam Fudhail bin Iyadh ini mengajarkan bahwa inti perjalanan spiritual adalah mengatur arah cinta dalam hati. Jika cinta dunia menjadi dominan, maka pintu keburukan terbuka lebar. Namun jika zuhud tumbuh—yakni memprioritaskan akhirat dan ridha Allah—maka pintu kebaikan akan terbuka luas. Pesan ini sangat relevan sepanjang zaman, karena banyak manusia jatuh bukan karena kurang ilmu, tetapi karena hatinya terbelenggu oleh dunia. Maka solusi yang ditawarkan tasawuf bukan sekadar memperbanyak amal lahiriah, tetapi juga membangun kesadaran batin: menjadikan Allah sebagai tujuan utama dan menjadikan dunia hanya sebagai jalan. Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah hidup dalam ketaatan, ketenangan, dan keberkahan.

Jumat, 13 Februari 2026

Di Balik Keberhasilanku, Ada Doa Ibu yang Tak Pernah Putus

Di balik setiap pencapaian dan keberhasilan seseorang, sering kali tersembunyi peran besar yang tidak selalu terlihat oleh mata. Banyak orang memuji kecerdasan, kerja keras, atau kehebatan individu yang berhasil, namun lupa bahwa ada doa-doa tulus yang dipanjatkan dalam diam. Ungkapan “Bukan aku yang hebat, tapi doa ibu yang hebat” lahir dari kesadaran mendalam bahwa keberhasilan bukan semata hasil usaha pribadi, melainkan buah dari cinta, pengorbanan, dan doa seorang ibu yang tak pernah putus.

Ungkapan ini menegaskan bahwa doa ibu memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Dalam banyak nilai religius dan budaya, doa ibu dipercaya memiliki kekuatan luar biasa karena lahir dari hati yang penuh keikhlasan. Seorang ibu mendoakan anaknya tanpa pamrih, bahkan ketika ia sendiri sedang lelah, sakit, atau menghadapi kesulitan. Doa yang lahir dari kasih sayang seperti ini menjadi sumber keberkahan yang mengiringi langkah anak dalam setiap fase kehidupannya.

Selain doa, ungkapan tersebut juga mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Ada pengorbanan panjang yang sering tidak disadari, waktu yang terlewat, lelah yang disembunyikan, dan air mata yang ditahan demi masa depan anak. Dengan mengatakan “bukan aku yang hebat”, seseorang belajar merendahkan hati dan mengakui bahwa pencapaiannya adalah hasil dari dukungan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Ungkapan ini juga mengajarkan pentingnya rasa syukur dan bakti kepada orang tua, khususnya ibu. Kesadaran akan besarnya peran doa ibu mendorong seseorang untuk tidak larut dalam kesombongan, tetapi justru memperkuat sikap hormat dan kasih kepada orang tua. Menghargai ibu bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap, perilaku, dan usaha untuk menjadi pribadi yang membanggakan dan berakhlak baik.

Pada akhirnya, “Bukan aku yang hebat, tapi doa ibu yang hebat” adalah ungkapan yang sarat makna kerendahan hati, cinta, dan kesadaran spiritual. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari kemampuan seseorang menghargai orang-orang yang berperan besar dalam hidupnya. Dengan menyadari hal ini, seseorang akan melangkah dengan hati yang lebih tenang, rendah, dan penuh rasa syukur.

Kamis, 12 Februari 2026

Rasa Malu yang Menghidupkan Iman

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering tenggelam dalam rutinitas dan kelalaian hingga lupa merenungi hubungan dirinya dengan Allah. Kesibukan, keinginan, dan hawa nafsu perlahan menumpuk tanpa disadari, sementara nikmat Allah terus mengalir tanpa henti. Ungkapan “Malu itu ketika dirimu berbuat dosa tiada henti, namun nikmat Allah selalu datang silih berganti” hadir sebagai tamparan lembut bagi hati yang lalai, sekaligus panggilan untuk kembali sadar dan merenung atas diri sendiri.

Ungkapan tersebut menegaskan hakikat rasa malu yang sesungguhnya dalam konteks spiritual. Malu bukan sekadar perasaan canggung di hadapan manusia, tetapi kesadaran batin saat menyadari bahwa diri terus berbuat dosa, sementara Allah tidak pernah berhenti memberi rezeki, kesehatan, kesempatan hidup, dan berbagai nikmat lainnya. Ketimpangan inilah yang seharusnya menggugah hati, bagaimana mungkin seorang hamba terus bermaksiat, namun tetap dinaungi kasih sayang Tuhannya.

Nikmat Allah yang datang silih berganti sejatinya bukan tanda ridha atas dosa, melainkan bentuk kasih sayang dan kesempatan untuk kembali. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, memberikan waktu agar hamba-Nya sadar, menyesal, dan memperbaiki diri. Namun, ketika nikmat tersebut justru membuat seseorang semakin lalai dan berani berbuat dosa, di situlah rasa malu seharusnya tumbuh sebagai benteng iman.

Kalimat “Astaghfirullah wa atubu ilaih” menjadi penutup yang sangat bermakna dalam ungkapan ini. Ia bukan hanya ucapan lisan, tetapi pengakuan akan kelemahan diri, permohonan ampun, dan tekad untuk kembali kepada Allah. Istighfar dan tobat adalah jalan penyucian hati, sarana membersihkan dosa, dan bukti bahwa rasa malu telah berubah menjadi kesadaran dan penyesalan yang tulus.

Dengan demikian, ungkapan ini mengajak manusia untuk tidak menunda tobat dan tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Rasa malu kepada Allah adalah tanda hidupnya iman dalam hati. Dengan menjaga rasa malu tersebut, seorang hamba akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih bersyukur atas nikmat, dan lebih cepat kembali kepada Allah ketika terjatuh dalam dosa. Dari situlah lahir ketenangan, keikhlasan, dan harapan akan ampunan-Nya.

Rabu, 11 Februari 2026

Mengajar dengan Harapan, Mendidik dengan Keyakinan

Ucapan Paulo Freire, filsuf pendidikan dan penulis buku Pedagogy of the Oppressed, “Menjadi pendidik berarti percaya bahwa perubahan itu mungkin” merupakan pernyataan yang sarat makna filosofis, moral, dan kemanusiaan. Kalimat ini tidak sekadar menggambarkan profesi pendidik, tetapi menegaskan sikap batin dan keyakinan mendalam yang harus dimiliki oleh siapa pun yang memilih jalan pendidikan. Di tengah realitas sosial yang penuh ketimpangan, keterbatasan, dan tantangan, pendidikan hadir bukan hanya sebagai proses transfer ilmu, melainkan sebagai harapan akan lahirnya masa depan yang lebih adil dan manusiawi.

Makna utama dari ucapan tersebut terletak pada kata “percaya”. Bagi Freire, pendidik sejati bukanlah orang yang netral atau pasrah terhadap keadaan, melainkan individu yang memiliki keyakinan bahwa manusia dapat berkembang dan masyarakat dapat berubah. Keyakinan ini menjadi fondasi moral dalam praktik pendidikan. Tanpa kepercayaan pada kemungkinan perubahan, proses belajar akan kehilangan ruhnya dan pendidikan akan tereduksi menjadi rutinitas mekanis tanpa makna pembebasan.

Dalam pandangan Paulo Freire, pendidikan tidak boleh bersifat menindas atau menjadikan peserta didik sebagai objek pasif. Ia menolak model pendidikan yang hanya “menyimpan” pengetahuan dalam diri peserta didik. Sebaliknya, ia mengusung pendidikan dialogis yang memanusiakan, di mana pendidik dan peserta didik sama-sama belajar, berdialog, dan merefleksikan realitas. Kepercayaan bahwa perubahan itu mungkin membuat pendidik berani mengajak peserta didik berpikir kritis tentang dunia dan perannya di dalamnya.

Ucapan ini juga menegaskan bahwa pendidik adalah agen perubahan sosial. Melalui pendidikan, pendidik menanamkan kesadaran, nilai keadilan, dan keberanian untuk bertindak. Keyakinan akan perubahan mendorong pendidik untuk tidak menyerah pada keterbatasan sistem, kondisi ekonomi, atau latar belakang sosial peserta didik. Sebaliknya, pendidik justru melihat potensi, harapan, dan kemungkinan tumbuh dalam diri setiap manusia.

Lebih jauh, kepercayaan terhadap perubahan menuntut pendidik untuk terus belajar dan merefleksikan praktiknya sendiri. Pendidik tidak hanya mengubah orang lain, tetapi juga bersedia diubah oleh proses pendidikan itu sendiri. Sikap ini mencerminkan kerendahan hati intelektual dan komitmen etis, bahwa pendidikan adalah proses bersama menuju kemanusiaan yang lebih utuh.

Dengan demikian, ucapan Paulo Freire ini mengajarkan bahwa menjadi pendidik bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan menghidupi sebuah keyakinan. Percaya bahwa perubahan itu mungkin berarti percaya pada manusia, pada harapan, dan pada masa depan. Di tangan pendidik yang memiliki keyakinan ini, pendidikan menjadi ruang pembebasan, tempat lahirnya kesadaran, dan jembatan menuju dunia yang lebih adil dan bermartabat.

Selasa, 10 Februari 2026

Shalat atau Puasa: Mana Ibadah yang Paling Utama?

Dalam kajian fikih dan tasawuf, pembahasan tentang ibadah yang paling utama termasuk tema yang sering didiskusikan para ulama. Hal ini karena setiap ibadah memiliki keistimewaan dan kedudukan yang berbeda sesuai dalil serta kondisi pelakunya. Dalam kitab Ithāfu Ahlil Islām, disebutkan bahwa ulama berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama antara “shalat” dan “puasa”. Perbedaan ini bukanlah pertentangan dalam agama, melainkan bentuk keluasan rahmat Allah dalam syariat, karena masing-masing pendapat memiliki dasar hadis dan argumentasi yang kuat.

Dalam pendapat pertama, sebagian ulama menegaskan bahwa shalat adalah ibadah yang paling utama. Pendapat ini dikenal sebagai pandangan yang kuat dalam kalangan mazhab Syafi’i, karena shalat merupakan rukun Islam yang paling besar setelah syahadat. Shalat juga memiliki kedudukan istimewa karena menjadi penghubung langsung antara seorang hamba dengan Allah setiap hari, tanpa menunggu waktu tertentu seperti puasa Ramadhan. Oleh sebab itu, para ulama Syafi’iyyah menempatkan shalat sebagai ibadah yang paling tinggi nilainya dalam kehidupan seorang Muslim.

Dalil utama yang digunakan oleh ulama yang mengutamakan shalat adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud: (وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ) yang artinya “Ketahuilah, bahwasanya sebaik-baik amal ibadah kalian adalah shalat.” Hadis ini secara tegas menyebut shalat sebagai amal terbaik, sehingga menjadi hujjah yang kuat bagi pendapat ini. Shalat tidak hanya dipandang sebagai kewajiban formal, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan paling nyata yang terus berulang dalam sehari semalam, sehingga menjadi ukuran utama kualitas iman seorang hamba.

Selain itu, ulama juga berdalil dengan hadis riwayat Imam Ahmad: (الصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ) yang berarti “Shalat adalah sebaik-baik perkara yang disyariatkan.” Hadis ini menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah yang paling agung dalam syariat Islam. Bahkan dalam banyak riwayat lain, shalat disebut sebagai tiang agama dan ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Jika shalat seorang hamba baik, maka amal lain akan mengikuti; tetapi jika shalatnya rusak, maka amal lain pun terancam tertolak.

Keutamaan shalat juga terlihat dari kenyataan bahwa shalat merupakan ibadah yang tidak pernah gugur dari seorang Muslim selama akalnya masih ada. Dalam keadaan sakit, shalat tetap wajib dilakukan meskipun sambil duduk atau berbaring. Bahkan dalam situasi perang, Allah tetap mensyariatkan shalat khauf. Hal ini menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah yang paling fundamental dan menjadi tanda utama seorang hamba dalam menjaga hubungan dengan Rabb-nya. Karena itulah ulama yang mengutamakan shalat memandang bahwa ia adalah ibadah paling utama secara mutlak.

Adapun pendapat kedua menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang paling utama, dan pendapat ini dipegang oleh ulama selain Syafi’iyyah, terutama dalam sebagian pandangan ulama Hanabilah dan ulama yang menekankan aspek keikhlasan batin dalam ibadah. Mereka berargumen bahwa puasa memiliki karakteristik unik yang berbeda dari shalat, karena puasa merupakan ibadah yang lebih tersembunyi. Orang yang berpuasa menahan lapar dan haus tanpa ada bukti fisik yang jelas, sehingga puasa lebih dekat kepada sifat ikhlas dan jauh dari riya’.

Dalil yang digunakan oleh ulama yang mengutamakan puasa adalah hadis riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i: (عَلَيْكُمْ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مَثِيْلَ لَهُ) yang artinya “Hendaknya kalian berpuasa, karena puasa adalah ibadah yang tiada tara.” Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh ibadah lain. Kalimat “tiada tara” mengisyaratkan bahwa puasa mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, baik dalam pahala maupun dalam dampak spiritualnya bagi hati.

Selain itu, ada hadis riwayat An-Nasa’i: (عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عَدْلَ لَهُ) yang berarti “Hendaknya engkau berpuasa, karena puasa itu tiada bandingannya.” Hadis ini semakin menguatkan bahwa puasa memiliki keistimewaan khusus. Keutamaan ini juga selaras dengan hadis qudsi yang sangat masyhur: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Artinya, pahala puasa tidak dibatasi angka tertentu sebagaimana ibadah lain, melainkan diserahkan langsung kepada kemurahan Allah.

Ulama yang mengutamakan puasa juga menekankan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat efektif dalam menundukkan hawa nafsu. Dengan menahan makan, minum, dan syahwat, seseorang sedang melatih jiwanya untuk tunduk kepada perintah Allah. Puasa juga memperlemah dominasi setan, memperhalus hati, dan memperkuat kesabaran. Oleh karena itu, puasa dipandang sebagai ibadah yang paling besar manfaatnya dalam pendidikan ruhani dan pembentukan akhlak, sebab akar banyak dosa adalah nafsu yang tidak terkendali.

Namun pada akhirnya, para ulama menjelaskan bahwa perbedaan ini dapat dipahami dengan pendekatan yang lebih luas: shalat lebih utama dari sisi kedudukan sebagai rukun harian dan tiang agama, sedangkan puasa lebih utama dari sisi rahasia keikhlasan dan latihan jiwa. Maka yang paling tepat adalah mengatakan bahwa keutamaan itu bisa berbeda sesuai konteks: bagi orang yang lalai shalat, memperbaiki shalat lebih utama; sedangkan bagi orang yang shalatnya sudah terjaga, memperbanyak puasa sunnah menjadi jalan besar menuju derajat takwa. Dengan demikian, dalam pandangan Ithāfu Ahlil Islām, kedua ibadah ini sama-sama agung, dan yang paling utama adalah ibadah yang paling mendekatkan seorang hamba kepada Allah sesuai kondisi dirinya.

Senin, 09 Februari 2026

Ketika Lelah Datang, Tujuan Menjadi Penguat

Dalam perjalanan meraih tujuan, kelelahan adalah hal yang hampir tak terhindarkan. Ada masa ketika semangat mulai meredup, langkah terasa berat, dan keyakinan terhadap tujuan pun goyah. Pada titik inilah banyak orang memilih berhenti, bukan karena tidak mampu, tetapi karena lupa alasan awal mereka melangkah. Ungkapan “Saat kamu lelah, ingatlah alasan mengapa kamu mulai” hadir sebagai pengingat sederhana namun kuat agar seseorang kembali menautkan diri pada makna dan tujuan awal perjuangannya.

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa setiap perjalanan selalu diawali oleh alasan yang kuat, baik berupa mimpi, harapan, maupun kebutuhan. Alasan inilah yang menjadi bahan bakar utama ketika semangat masih menyala. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya tantangan, fokus sering kali bergeser pada rasa lelah, bukan pada tujuan. Dengan mengingat kembali alasan awal, seseorang dapat memulihkan motivasi dan menyadari bahwa kelelahan adalah bagian alami dari proses menuju pencapaian.

Mengingat alasan awal juga membantu seseorang menilai ulang perjuangannya secara lebih jernih. Saat lelah, emosi cenderung mendominasi pikiran sehingga segala hal terasa lebih berat dari kenyataan. Alasan awal berfungsi sebagai jangkar yang menahan diri agar tidak hanyut dalam rasa putus asa. Ia mengingatkan bahwa langkah yang telah ditempuh bukanlah sia-sia, melainkan bagian dari perjalanan yang bermakna.

Selain sebagai sumber motivasi, ungkapan ini mengajarkan keteguhan dan komitmen terhadap pilihan hidup. Setiap tujuan besar menuntut konsistensi, pengorbanan, dan kesabaran. Dengan kembali pada alasan mengapa memulai, seseorang belajar bahwa keberhasilan tidak selalu tentang kecepatan, melainkan tentang ketahanan. Kelelahan bukan tanda untuk menyerah, melainkan sinyal bahwa seseorang sedang berproses dan bertumbuh.

Dengan demikian, ungkapan “Saat kamu lelah, ingatlah alasan mengapa kamu mulai” mengajak seseorang untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ia mendorong refleksi mendalam tentang tujuan, nilai, dan makna dari setiap usaha yang dijalani. Dengan terus mengingat alasan awal, seseorang akan menemukan kekuatan baru untuk melanjutkan langkah, meski perlahan, menuju tujuan yang sejak awal diyakini.

Minggu, 08 Februari 2026

Kesusahan Menguatkan, Kemudahan Menyadarkan

Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali berharap agar semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Banyak orang ingin hidup yang penuh kenyamanan, rezeki yang mudah, dan masalah yang jauh dari dirinya. Namun kenyataannya, hidup tidak pernah benar-benar datar; selalu ada pasang surut yang datang silih berganti. Kalam hikmah dari Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.HI yang berbunyi “2 hal yang selalu mengiringi kehidupan kita, yaitu kesusahan dan kemudahan. Jika hanya ada kesusahan, kita akan stres, dan jika hanya ada kemudahan, kita tidak akan bersyukur” merupakan pengingat mendalam bahwa kehidupan ini memang diciptakan seimbang, agar manusia tetap kuat sekaligus tetap rendah hati di hadapan Allah.

Makna utama dari kalam hikmah tersebut adalah bahwa kesusahan dan kemudahan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang hidupnya selalu bahagia tanpa masalah, sebagaimana tidak ada pula yang terus-menerus berada dalam kesedihan tanpa harapan. Kesusahan hadir sebagai ujian dan proses pembentukan diri, sedangkan kemudahan hadir sebagai hadiah dan rahmat dari Allah. Dengan adanya dua kondisi ini, manusia belajar bahwa hidup tidak hanya tentang menikmati hasil, tetapi juga tentang menjalani proses dengan sabar.

Kalam hikmah ini juga menjelaskan bahwa kesusahan memiliki fungsi penting dalam membentuk ketahanan mental dan spiritual manusia. Ketika seseorang menghadapi kesulitan, ia belajar untuk bersabar, berusaha, dan berdoa. Dalam kesusahan, manusia sering lebih dekat kepada Allah karena merasa lemah dan membutuhkan pertolongan-Nya. Namun, jika hidup hanya dipenuhi kesusahan tanpa ada jeda kemudahan, manusia bisa kehilangan semangat, mengalami tekanan batin, bahkan merasa putus asa. Oleh sebab itu, Allah menghadirkan kemudahan sebagai penyejuk hati agar manusia tidak jatuh dalam stres dan kelelahan berkepanjangan.

Di sisi lain, kemudahan pun memiliki hikmah yang tidak kalah besar. Kemudahan membuat manusia merasakan nikmat, ketenangan, dan keberkahan dalam hidup. Tetapi kalam hikmah ini menegaskan bahwa jika hidup hanya berisi kemudahan, manusia justru berpotensi lupa diri. Seseorang yang selalu dimudahkan bisa merasa semua hal adalah hasil usahanya semata, sehingga timbul sifat sombong dan lalai. Kemudahan yang terus menerus tanpa ujian dapat menghilangkan rasa syukur, karena manusia tidak lagi merasakan arti perjuangan. Maka, kesusahan hadir sebagai pengingat bahwa manusia hanyalah hamba yang membutuhkan pertolongan Allah.

Pesan penting dari hikmah ini adalah bahwa keseimbangan antara kesusahan dan kemudahan mendidik manusia untuk memiliki dua sikap utama: sabar dan syukur. Ketika ditimpa kesulitan, manusia diajak untuk bersabar dan tetap yakin bahwa pertolongan Allah dekat. Ketika diberi kelapangan, manusia diajak untuk bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan. Sabar dan syukur bukan hanya sekadar ucapan, tetapi harus tampak dalam tindakan, seperti tetap beribadah, tetap menjaga akhlak, serta tetap berbagi kepada sesama. Inilah karakter seorang mukmin yang kuat, tidak mudah goyah saat diuji, dan tidak lupa diri saat diberi nikmat.

Dengan demikian, kalam hikmah Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.HI ini mengajarkan bahwa kehidupan bukanlah tentang mencari kenyamanan tanpa ujian, melainkan tentang memaknai setiap keadaan sebagai jalan menuju kedewasaan iman. Kesusahan mengajarkan manusia untuk tidak bergantung pada dunia, sedangkan kemudahan mengajarkan manusia untuk tidak lupa pada Allah. Jika manusia mampu memahami makna ini, maka ia akan menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi apa pun yang datang. Karena sejatinya, hidup bukan tentang bebas masalah, tetapi tentang bagaimana kita tetap dekat kepada Allah dalam setiap keadaan.

Sabtu, 07 Februari 2026

Menghidupkan Sya’ban: Mengenal Peristiwa Agung dan Hikmahnya

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam kalender Islam. Ia hadir sebagai jembatan spiritual antara Rajab dan Ramadhan, membawa pesan persiapan ruhani, peningkatan amal, dan penguatan ketaatan. Dalam sejarah Islam, bulan Sya’ban tidak hanya dipahami sebagai bulan sunnah memperbanyak ibadah, tetapi juga sebagai waktu terjadinya berbagai peristiwa besar dan dahsyat yang berkaitan langsung dengan pembentukan syariat serta penguatan iman umat Islam. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan betapa Sya’ban memiliki dimensi historis dan teologis yang sangat dalam.

Salah satu peristiwa luar biasa yang dikaitkan dengan bulan Sya’ban adalah mukjizat terbelahnya bulan (shaqq al-qamar) yang Allah Ta‘ala perlihatkan melalui Nabi Muhammad Saw. sebagai bukti kerasulan beliau. Peristiwa ini terjadi atas permintaan kaum musyrikin Quraisy yang menuntut tanda kenabian. Dengan izin Allah, bulan terbelah menjadi dua bagian yang dapat disaksikan secara nyata. Mukjizat ini menegaskan kekuasaan Allah yang melampaui hukum alam serta memperkuat keimanan orang-orang beriman, sekaligus menjadi hujjah bagi mereka yang masih ingkar.

Peristiwa besar lainnya adalah perpindahan arah kiblat dari Masjid al-Aqsha di Palestina menuju Ka‘bah di Makkah. Perintah ini turun pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah. Perubahan kiblat bukan sekadar perubahan arah fisik dalam shalat, melainkan simbol kemandirian umat Islam dan penegasan identitas tauhid yang berakar pada ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Peristiwa ini juga menjadi ujian ketaatan bagi kaum muslimin, apakah mereka tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah tanpa ragu.

Pada bulan Sya’ban pula Allah Ta‘ala menurunkan perintah zakat sebagai kewajiban sosial dalam Islam. Zakat berfungsi sebagai sarana penyucian harta dan jiwa, sekaligus mekanisme keadilan sosial yang menghubungkan antara golongan mampu dan yang membutuhkan. Dengan diwajibkannya zakat, Islam menegaskan bahwa ibadah tidak hanya bersifat ritual individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat untuk membangun kesejahteraan dan solidaritas umat.

Perintah puasa Ramadhan juga diturunkan pada bulan Sya’ban, sebagai bentuk persiapan spiritual umat Islam sebelum memasuki bulan suci. Puasa merupakan ibadah yang melatih kesabaran, pengendalian diri, serta keikhlasan, karena hanya Allah yang benar-benar mengetahui kualitasnya. Turunnya perintah puasa di bulan Sya’ban menunjukkan hikmah ilahiah agar kaum muslimin memiliki waktu adaptasi dan kesiapan ruhani sebelum menjalankan ibadah yang berat namun penuh kemuliaan tersebut.

Selain itu, bulan Sya’ban juga dikenal sebagai bulan diturunkannya perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 56. Perintah ini menegaskan kedudukan Rasulullah sebagai teladan utama umat manusia. Bershalawat bukan hanya bentuk cinta dan penghormatan kepada Nabi, tetapi juga sarana memperoleh rahmat Allah, penghapus dosa, dan pengangkat derajat bagi orang-orang yang melakukannya dengan ikhlas.

Salah satu keistimewaan paling masyhur di bulan Sya’ban adalah peristiwa pelaporan catatan amalan manusia kepada Allah Ta‘ala oleh para malaikat pada malam Nisfu Sya’ban. Malam ini diyakini sebagai waktu diangkatnya amal tahunan manusia, sehingga Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah, istighfar, dan puasa di bulan ini. Peristiwa ini mengingatkan setiap muslim akan pentingnya muhasabah diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.

Keseluruhan peristiwa dahsyat yang terjadi di bulan Sya’ban menunjukkan bahwa bulan ini bukanlah bulan biasa, melainkan fase penting dalam perjalanan spiritual umat Islam. Sya’ban mengajarkan keseimbangan antara iman, ibadah, dan tanggung jawab sosial, sekaligus mempersiapkan hati untuk menyambut Ramadhan dengan kesadaran dan keikhlasan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, memahami dan menghayati peristiwa-peristiwa di bulan Sya’ban akan membantu kaum muslimin menjadikannya sebagai momentum perbaikan diri dan peningkatan kualitas iman.

Jumat, 06 Februari 2026

Shalat, Kunci Ketenangan dan Keselamatan Hidup

Shalat merupakan ibadah yang paling utama dan menjadi tiang agama dalam Islam. Ia bukan sekadar rangkaian gerakan fisik dan bacaan lisan, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Allah Swt. Perintah shalat mengandung hikmah yang sangat mendalam, baik bagi kehidupan spiritual, moral, maupun sosial manusia. Oleh karena itu, memahami hikmah di balik perintah shalat akan menumbuhkan kesadaran bahwa shalat adalah kebutuhan ruhani, bukan sekadar kewajiban formal yang harus ditunaikan.

Hikmah utama dari perintah shalat adalah sebagai wujud penghambaan dan ketundukan total kepada Allah Swt. Dalam shalat, seorang hamba mengakui kelemahan dirinya dan kebesaran Rabb-nya. Allah berfirman:

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ  

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”.(QS. Thaha: 14). Ayat ini menegaskan bahwa shalat adalah sarana mengingat Allah secara terus-menerus, sehingga hati seorang mukmin selalu terhubung dengan Sang Pencipta dalam setiap kondisi kehidupan.

Shalat juga memiliki hikmah besar dalam membentuk akhlak mulia dan mencegah perbuatan keji serta mungkar. Allah Swt berfirman:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Shalat yang dilakukan dengan khusyuk akan melahirkan kesadaran moral, sehingga seseorang merasa diawasi oleh Allah dan terdorong untuk menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmah lainnya adalah shalat sebagai sarana penyucian jiwa dari dosa dan kesalahan. Rasulullah Saw. bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوْا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: فَذلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا.

“Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah salah seorang dari kalian ada sungai, lalu ia mandi di sungai itu lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?” Para sahabat menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Demikianlah shalat lima waktu, Allah menghapus dosa-dosa dengannya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa shalat memiliki fungsi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Shalat mengajarkan disiplin waktu dan tanggung jawab dalam kehidupan seorang Muslim. Waktu-waktu shalat yang telah ditentukan melatih seseorang untuk menghargai waktu dan mengatur aktivitasnya dengan baik. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa keteraturan shalat mencerminkan keteraturan hidup, karena siapa yang menjaga shalatnya, maka ia akan lebih mampu menjaga urusan lainnya dengan penuh tanggung jawab.

Dalam shalat terdapat hikmah ketenangan dan kekuatan batin. Allah Swt berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Shalat menjadi tempat mengadu dan berserah diri, terutama ketika manusia menghadapi masalah hidup. Rasulullah Saw. pun jika ditimpa kesulitan, beliau segera melaksanakan shalat, di mana hal ini menunjukkan bahwa shalat adalah sumber ketenangan sejati.

Hikmah shalat tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial. Shalat berjamaah mengajarkan persamaan, persaudaraan, dan kebersamaan tanpa membedakan status sosial. Semua berdiri sejajar di hadapan Allah. Umar bin Khattab ra. berkata, لَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ Tidak ada Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Hal ini menegaskan bahwa shalat memperkuat ikatan ukhuwah dalam masyarakat Islam.

Dengan demikian, perintah shalat mengandung hikmah yang sangat luas dan mendalam, mencakup aspek spiritual, moral, psikologis, dan sosial. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana pembinaan diri yang menyeluruh. Semakin seseorang memahami hikmah shalat, semakin ia akan merasakan bahwa shalat adalah kebutuhan hidup yang membawa keberkahan, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah Swt dalam setiap langkah kehidupannya.

Kamis, 05 Februari 2026

Ketika Iman Hidup dalam Kepercayaan dan Syukur

Perkataan ulama yang menyatakan “Iman seseorang tidak sempurna sebelum ia memiliki dua hal, yaitu percaya penuh kepada Allah dan selalu bersyukur kepada Allah” merupakan nasihat spiritual yang sangat mendalam dan relevan sepanjang zaman. Ungkapan ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan atau ritual ibadah semata, melainkan kondisi batin yang tercermin dalam keyakinan hati dan sikap hidup sehari-hari. Melalui pernyataan ini, ulama mengajak umat untuk merenungi kualitas iman yang dimiliki, apakah sudah benar-benar hidup dan membimbing setiap langkah kehidupan.

Percaya penuh kepada Allah merupakan fondasi utama keimanan. Kepercayaan ini mencakup keyakinan bahwa segala ketentuan Allah adalah yang terbaik, baik yang tampak menyenangkan maupun yang terasa berat. Seseorang yang memiliki kepercayaan penuh kepada Allah akan berserah diri (tawakal) setelah berikhtiar, serta tidak mudah goyah oleh ujian hidup. Keimanan seperti ini melahirkan ketenangan batin, karena hati yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana atas segala sesuatu.

Selain kepercayaan yang utuh, iman yang sempurna juga ditandai dengan sikap selalu bersyukur kepada Allah. Rasa syukur bukan hanya diungkapkan ketika memperoleh nikmat besar, tetapi juga dalam hal-hal kecil dan bahkan dalam kondisi sulit. Bersyukur berarti menyadari bahwa segala yang dimiliki bersumber dari Allah dan digunakan sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan bersyukur, seseorang tidak hanya menjaga hubungan spiritual dengan Allah, tetapi juga membentuk kepribadian yang rendah hati dan tidak mudah mengeluh.

Kedua unsur tersebut—percaya penuh dan bersyukur—saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Kepercayaan tanpa syukur dapat melahirkan sikap pasif dan kurang menghargai nikmat, sedangkan syukur tanpa kepercayaan yang kuat bisa berubah menjadi formalitas semata. Ketika keduanya bersatu, iman akan tampak dalam sikap optimis, sabar, dan konsisten dalam kebaikan. Inilah gambaran iman yang hidup dan berpengaruh nyata dalam perilaku seseorang.

Dengan demikian, ucapan ulama tersebut mengajarkan bahwa kesempurnaan iman bukanlah tujuan yang instan, melainkan proses pembinaan hati yang berkelanjutan. Percaya penuh kepada Allah menumbuhkan keteguhan, sementara rasa syukur menjaga kelembutan jiwa. Keduanya menjadi penopang utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi dinamika kehidupan. Melalui iman yang dilandasi kepercayaan dan syukur, manusia akan mampu menjalani hidup dengan penuh makna, ketenangan, dan kedekatan kepada Allah.

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...