Halaman

Selasa, 20 Januari 2026

Boleh Berencana, Tapi Allah yang Menentukan

Kalam hikmah “أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُmerupakan ungkapan singkat namun sarat makna teologis dan spiritual. Kalimat ini sering dikutip dalam tradisi tasawuf dan mau‘izhah sebagai pengingat tentang hakikat kehendak manusia yang terbatas dan kehendak Allah yang mutlak. Di dalamnya terkandung ajaran tauhid, adab seorang hamba kepada Rabb-nya, serta pendidikan batin agar manusia tidak terjebak pada kesombongan dan kekecewaan dalam menghadapi kehidupan.

Secara makna bahasa, ungkapan ini berarti: “Aku berkehendak, engkau berkehendak, dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” Kalimat ini menegaskan bahwa manusia memang memiliki iradah (kehendak) dan ikhtiar, demikian pula orang lain, namun semua kehendak tersebut tidak berdiri sendiri. Di atas seluruh kehendak makhluk, terdapat kehendak Allah yang bersifat mutlak, menentukan, dan tidak dapat dihalangi oleh siapa pun. Inilah dasar pemahaman tentang qadha dan qadar dalam Islam.

Dari sisi akidah, kalam hikmah ini mengajarkan keseimbangan antara usaha manusia dan ketundukan kepada ketentuan Allah. Islam tidak menafikan ikhtiar, sebab manusia diperintahkan untuk berusaha dan memilih. Namun, hasil akhir dari setiap usaha sepenuhnya berada dalam genggaman Allah. Dengan pemahaman ini, seorang mukmin tidak terjatuh pada paham jabariyah (fatalisme) yang meniadakan usaha, dan tidak pula pada kesombongan qodariyah yang menganggap manusia berkuasa penuh atas nasibnya.

Dalam dimensi spiritual dan tasawuf, ungkapan ini melatih hati agar tunduk, ridha, dan lapang menerima takdir Allah. Banyak kegelisahan hidup muncul karena keinginan manusia tidak sejalan dengan ketentuan Allah. Kalam hikmah ini mengajak manusia untuk melembutkan keinginannya di hadapan kehendak Allah, sehingga hatinya tidak mudah marah, kecewa, atau putus asa ketika realitas tidak sesuai dengan rencana pribadi.

Selain itu, kalam hikmah ini juga berfungsi sebagai pendidikan adab dalam berdoa dan berharap. Seorang hamba boleh memiliki cita-cita, rencana, dan harapan besar, namun semuanya harus disertai dengan sikap tawakkal dan penyerahan diri. Ketika doa belum terkabul atau hasil belum tercapai, ia menyadari bahwa Allah memilihkan yang terbaik sesuai hikmah-Nya, bukan semata-mata sesuai keinginannya sendiri.

Dengan demikian, kalam hikmah “أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُmenjadi pedoman hidup yang menumbuhkan ketenangan batin, kedewasaan iman, dan keikhlasan. Ia mengajarkan manusia untuk berusaha secara maksimal, berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh ridha. Inilah sikap seorang hamba yang mengenal Tuhannya: aktif dalam ikhtiar, tenang dalam takdir, dan yakin bahwa kehendak Allah selalu mengandung kebaikan dan hikmah.

2 komentar:

Boleh Berencana, Tapi Allah yang Menentukan

Kalam hikmah “ أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ ” merupa...