Haul ke-6 Almaghfurlah K.H.M.
Basori Alwi Murtadho yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 17 Januari 2026 M/28
Rajab 1447 H di PIQ Ba Murtadho Tamanharjo Singosari Malang bukan sekadar momentum
mengenang wafatnya seorang Alim Qur’aniy, tetapi merupakan ruang ruhani
untuk menghadirkan kembali jejak keilmuan, keteladanan akhlak, dan keikhlasan
pengabdian beliau kepada Al-Qur’an dan umat. Dalam kiprah keilmuan dan dakwah, beliau
menanamkan ilmu yang menyejukkan hati, membimbing generasi dengan kasih sayang,
serta menghidupkan tradisi pesantren sebagai pusat cahaya Al-Qur’an. Melalui
haul ini, kita tidak hanya mengirim doa, tetapi juga memperbarui janji moral
untuk melanjutkan estafet perjuangan beliau: menjaga kemurnian niat,
menghidupkan Al-Qur’an dalam laku kehidupan, dan menebarkan kesejukan ilmu bagi
masyarakat luas.
Melalui peringatan haul Alim
Qur’aniy K.H.M. Basori Alwi Murtadho ke-6 dan Ibu Nyai Hj. Qomariyah Abdul
Hamid ke-8 serta haul Bani Basori: Gus H. Farid Basori, Gus H. Anis Basori,
Ning Hj. Hanik Luthfiati Basori, dan Gus Habiburrahman Faiz, kita bisa belajar
dan mengambil faidah dari filosofi logo haul yang mengajak kita merenungi jejak
keilmuan dan keteladanan beliau dalam bahasa simbol yang sarat makna. Setiap
unsur dalam logo bukan sekadar ornamen visual, melainkan cermin dari perjalanan
hidup seorang guru Al-Qur’an yang menyejukkan, menghidupkan, dan menumbuhkan
iman umat. Melalui simbol tetesan air yang jernih, tangan pengayom, dan
warna-warna penuh makna, logo ini menuturkan pesan tentang keikhlasan,
kelembutan dakwah, dan keberlanjutan ilmu yang beliau wariskan. Dengan memahami
filosofi logo haul, kita tidak hanya mengenang beliau secara historis, tetapi
juga meneguhkan komitmen untuk melanjutkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam
kehidupan, sebagaimana yang telah beliau teladankan dengan penuh kesabaran dan
cinta.
Makna Angka 6 Sebagai Tetesan Air
Angka “6” yang diwujudkan dalam
bentuk tetesan air mengandung filosofi yang sangat dalam. Tetesan air
melambangkan kesucian, kejernihan, dan rahmat Allah Swt yang turun tanpa henti.
Angka enam menandai tahun keenam haul, sebuah fase yang menunjukkan
kesinambungan doa dan cinta murid kepada guru. Seperti tetesan air yang tampak
kecil namun mampu memberi kehidupan, haul yang terus dilaksanakan menjadi
simbol bahwa doa dan ingatan kepada ulama tidak pernah sia-sia, melainkan
mengalirkan keberkahan.
Ilmu Al-Qur’an yang diwariskan Almaghfurlah
K.H.M. Basori Alwi Murtadho digambarkan sebagai air yang menyejukkan dan
menghidupkan. Julukan “Profesor Al-Qur’an” bukan sekadar gelar akademik, tetapi
pengakuan atas keluasan, kedalaman, dan kemurnian ilmunya. Air tidak memilih
tempat untuk mengalir; demikian pula ilmu beliau yang disebarkan dengan kasih
sayang kepada siapa pun tanpa membedakan latar belakang. Filosofi ini
menegaskan bahwa ilmu sejati adalah yang memberi kehidupan ruhani dan membentuk
akhlak.
Makna Tangan Mengadah ke Atas
Bentuk tangan yang mengadah ke atas menjadi simbol kuat dari peran beliau sebagai pengayom umat. Tangan ini melambangkan doa yang tak pernah putus, kasih sayang yang menaungi, serta tanggung jawab moral seorang kiai dalam membimbing santri dan masyarakat. Dalam konteks pendidikan Al-Qur’an, tangan mengadah juga bermakna kerendahan hati, bahwa ilmu yang diajarkan selalu disandarkan kepada Allah Swt, bukan pada kehebatan diri. Sikap inilah yang menjadikan dakwah beliau penuh keberkahan.
Siluet Kitab/Al-Qur’an
Siluet kitab terbuka dalam logo
menggambarkan keterbukaan ilmu dan kesinambungan sanad keilmuan. Kitab terbuka
menandakan bahwa Al-Qur’an bukan untuk disimpan, tetapi untuk dibaca,
dipelajari, diamalkan, dan diajarkan. Seluruh perjuangan Almaghfurlah K.H.M.
Basori Alwi Murtadho berporos pada pelestarian pendidikan pesantren yang
berakar kuat pada Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Simbol ini mengajak generasi
penerus untuk menjaga amanah ilmu agar tetap hidup dan relevan sepanjang zaman.
Filosofi Warna Biru
Warna biru dalam logo
memancarkan ketenangan, kedalaman, dan keluasan ilmu, sebagaimana lautan yang
luas dan menenangkan. Biru mencerminkan karakter dakwah beliau yang lembut,
bijaksana, dan penuh kesejukan. Dalam dunia yang sering dipenuhi ketegangan,
dakwah beliau hadir sebagai peneduh, mengajak dengan hikmah dan keteladanan.
Warna ini mengingatkan bahwa kekuatan dakwah tidak selalu terletak pada suara
yang keras, tetapi pada akhlak yang menenangkan.
Filosofi Warna Hijau
Warna hijau melambangkan
kesuburan iman, keberkahan amal, dan identitas keislaman Ahlussunnah wal
Jama’ah an-Nahdliyah. Hijau juga menggambarkan pertumbuhan kebaikan yang
berkesinambungan. Ilmu Al-Qur’an yang beliau tanamkan tidak berhenti pada satu
generasi, tetapi terus tumbuh, berkembang, dan berbuah dalam kehidupan santri
dan umat. Filosofi ini menegaskan bahwa pendidikan yang beliau bangun adalah
pendidikan yang hidup dan menumbuhkan.
Filosofi Warna Putih
Warna putih menjadi simbol kesucian niat, kejernihan hati, dan ketulusan pengabdian. Putih menggambarkan bahwa seluruh perjuangan Almaghfurlah K.H.M. Basori Alwi Murtadho dilandasi keikhlasan murni karena Allah Swt. Dalam mengajarkan dan mengamalkan Al-Qur’an, beliau tidak mengejar pujian atau kepentingan duniawi, tetapi semata-mata mencari ridha Ilahi. Filosofi ini menjadi pengingat bagi para santri, alumni, muhibbin, dan jamaah haul bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal.
Keseluruhan filosofi logo haul ke-6 Almaghfurlah K.H.M. Basori Alwi Murtadho membentuk satu kesatuan pesan tentang ilmu, akhlak, dan keberlanjutan perjuangan. Logo ini menjadi simbol estafet keilmuan Al-Qur’an dalam tradisi pesantren, dari guru kepada murid, dari generasi ke generasi. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap filosofi ini, haul diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum ruhani untuk memperkuat komitmen mencintai Al-Qur’an, meneladani akhlak ulama, dan melanjutkan perjuangan dakwah yang menyejukkan umat. Lahumul Fatihah . . .


Tidak ada komentar:
Posting Komentar