Dalam tradisi hadis dan
mau‘izhah Islam, terdapat ungkapan-ungkapan singkat yang memiliki daya dorong
spiritual sangat kuat dalam membentuk kesadaran hidup seorang Muslim. Salah
satunya adalah kalam hikmah yang diriwayatkan dari Sayyidina Abdullah bin Umar radhiyallahu
‘anhuma dalam kitab Al-Arba‘in an-Nawawiyyah, yang berbunyi: “إِذَا
أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ.
وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَفِي حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ”
(Jika masuk waktu pagi, maka jangan tunggu sore untuk beramal. Jika masuk
waktu sore, maka jangan tunggu waktu pagi. Manfaatkan sehatmu untuk menghadapi
sakitmu. Manfaatkan hidupmu untuk menghadapi kematianmu). Nasihat ini
merupakan ringkasan sikap hidup seorang Mukmin yang sadar akan waktu, amal, dan
tujuan akhir kehidupannya.
Bagian pertama dari kalam
hikmah ini menekankan pentingnya tidak menunda amal. Ungkapan “jika
masuk waktu pagi jangan menunggu sore, dan jika masuk waktu sore jangan
menunggu pagi” mengajarkan bahwa waktu adalah nikmat yang sangat cepat berlalu
dan tidak pernah terjamin keberlangsungannya. Penundaan amal sering kali lahir
dari rasa aman semu, seolah-olah manusia memiliki kendali penuh atas masa
depan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap detik kehidupan adalah
kesempatan yang bisa saja menjadi yang terakhir.
Nasihat ini juga menumbuhkan
sikap kesigapan spiritual (al-mubādarah ilā al-khair). Seorang
mukmin idealnya selalu siap beramal saleh kapan pun kesempatan datang, tanpa
menunggu kondisi “sempurna”. Abdullah bin Umar dikenal sebagai sahabat yang
sangat serius dalam mengamalkan ajaran Nabi Muhammad Saw., dan perkataan ini
mencerminkan praktik hidup beliau sendiri. Amal yang ditunda sering kali
berakhir tidak terlaksana, sementara amal yang disegerakan menjadi bekal nyata
di sisi Allah.
Bagian berikutnya, “manfaatkan
sehatmu untuk menghadapi sakitmu”, mengingatkan bahwa kesehatan adalah modal
utama untuk beramal. Ketika seseorang sehat, ia memiliki tenaga, pikiran
jernih, dan kesempatan luas untuk melakukan kebaikan. Namun, kesehatan bukanlah
kondisi yang abadi. Sakit dapat datang kapan saja dan membatasi kemampuan fisik
maupun mental. Oleh karena itu, waktu sehat seharusnya diisi dengan ibadah,
kebaikan, dan persiapan ruhani, bukan dihabiskan dalam kelalaian.
Ungkapan terakhir, “manfaatkan hidupmu untuk menghadapi kematianmu”, membawa pesan paling mendasar dalam ajaran Islam: kesadaran akan akhir kehidupan. Hidup di dunia bukan tujuan akhir, melainkan fase persiapan menuju kehidupan yang kekal. Kesadaran ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan berlebihan, tetapi untuk melahirkan kesungguhan, keikhlasan, dan orientasi akhirat dalam setiap aktivitas duniawi. Dengan perspektif ini, setiap amal kecil sekalipun memiliki nilai besar jika diniatkan untuk Allah.
Secara keseluruhan, kalam hikmah Abdullah bin Umar ini membentuk kerangka hidup yang seimbang antara waktu, kesehatan, dan tujuan akhir manusia. Ia mengajarkan manajemen waktu berbasis iman, etos amal tanpa penundaan, serta kesadaran mendalam akan kefanaan dunia. Nasihat ini sangat relevan sepanjang zaman, terutama di tengah kehidupan modern yang sering membuat manusia terlena oleh rutinitas dan angan-angan masa depan. Dengan mengamalkan hikmah ini, seorang Muslim diharapkan mampu menjalani hidup dengan penuh makna, kesiapan, dan tanggung jawab spiritual.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar