Dalam khazanah keilmuan Islam
klasik, kalam hikmah para ulama dan tokoh salaf memiliki kedudukan penting
sebagai cermin kedalaman iman dan kejernihan akal. Salah satu ungkapan penuh
makna datang dari Iyas bin Mu‘awiyah, seorang qadhi dan ulama tabi‘in yang
dikenal karena kecerdasan serta ketajaman analisanya. Dalam kitab Al-Amtsal
wal Hikam, beliau menyampaikan sebuah kalam hikmah yang singkat namun sarat
makna: “Sifat tamak adalah gambaran kecilnya keyakinan.” Ungkapan ini
bukan sekadar nasihat moral, melainkan kritik spiritual yang menyentuh akar
persoalan keimanan manusia.
Secara bahasa, “tamak”
menunjukkan sikap rakus, berambisi berlebihan, dan tidak pernah merasa cukup
terhadap apa yang dimiliki. Sementara itu, “keyakinan” (yaqīn) dalam
konteks keislaman berkaitan erat dengan kepercayaan penuh terhadap janji Allah,
baik terkait rezeki, takdir, maupun masa depan. Ketika Iyas bin Mu‘awiyah
menyebut tamak sebagai gambaran kecilnya keyakinan, beliau menegaskan bahwa
kerakusan manusia bukanlah semata-mata persoalan ekonomi atau keinginan
duniawi, melainkan refleksi lemahnya kepercayaan kepada Allah sebagai Pemberi
rezeki.
Orang yang memiliki keyakinan
kuat akan menyadari bahwa rezeki telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan
tertukar. Kesadaran ini melahirkan sikap qana‘ah, tenang, dan
proporsional dalam mengejar dunia. Sebaliknya, sifat tamak muncul ketika
seseorang merasa cemas terhadap masa depan, takut kekurangan, dan bergantung
sepenuhnya pada usaha dirinya sendiri tanpa melibatkan tawakal. Dengan
demikian, tamak bukan hanya sikap tercela secara akhlak, tetapi juga indikasi
rapuhnya fondasi iman dalam hati.
Kalam hikmah ini juga mengajarkan bahwa iman dan perilaku memiliki hubungan yang sangat erat. Keyakinan yang benar akan membuahkan akhlak yang lurus, sedangkan keyakinan yang lemah akan melahirkan penyimpangan sikap, termasuk kerakusan dan ketidakpuasan. Dalam kehidupan sosial, sifat tamak sering menjadi sumber ketidakadilan, penindasan, dan rusaknya hubungan antar manusia. Oleh karena itu, perbaikan iman menjadi kunci utama dalam mengatasi penyakit tamak, bukan sekadar dengan nasihat etika atau aturan lahiriah semata.
Melalui ungkapan singkat ini, Iyas bin Mu‘awiyah mengingatkan bahwa ukuran kualitas iman seseorang dapat tercermin dari sikapnya terhadap dunia. Semakin kuat keyakinannya kepada Allah, semakin kecil ketergantungannya pada materi dan semakin besar ketenangan jiwanya. Sebaliknya, semakin besar sifat tamak, semakin jelas tanda kegelisahan batin dan lemahnya kepercayaan kepada ketetapan Allah. Kalam hikmah ini relevan sepanjang zaman, khususnya di era modern yang sarat dengan kompetisi dan orientasi material, sebagai ajakan untuk meneguhkan iman dan menata ulang orientasi hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar