Kalam hikmah ulama “Kekuatan
itu bukan dari makanan dan minuman, tetapi kekuatan itu timbul karena kosongnya
hati dari segala kesibukan duniawi” mengandung pesan spiritual yang sangat
mendalam. Kalimat ini mengajak kita untuk merenungi kembali sumber kekuatan
sejati dalam kehidupan manusia. Banyak orang mengira bahwa kekuatan berasal
dari fisik yang sehat, asupan yang cukup, dan kenyamanan hidup, padahal para
ulama menegaskan bahwa kekuatan hakiki justru bersumber dari hati yang bersih
dan fokus kepada Allah SWT.
Secara lahiriah, makanan dan
minuman memang penting untuk menjaga tubuh tetap hidup dan berfungsi. Namun,
Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hanya terdiri dari jasad, melainkan juga
ruh dan hati. Ketika hati terlalu sibuk dengan urusan dunia—seperti ambisi
berlebihan, kecemasan terhadap harta, jabatan, dan popularitas—maka kekuatan
batin akan melemah, meskipun fisik tampak kuat. Inilah sebabnya mengapa sebagian
orang yang bergelimang kenikmatan dunia justru mudah lelah, gelisah, dan rapuh
secara mental.
Sebaliknya, hati yang “kosong
dari kesibukan duniawi” bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi
melepaskan keterikatan yang berlebihan terhadapnya. Hati yang tidak diperbudak
oleh dunia akan lebih tenang, jernih, dan lapang. Dari ketenangan inilah lahir
kekuatan luar biasa: kekuatan untuk bersabar, istiqamah dalam ibadah, dan tegar
menghadapi ujian hidup. Banyak ulama dan orang saleh memiliki fisik sederhana,
bahkan lemah, namun daya juang dan keteguhan mereka sangat besar karena hati
mereka terhubung kuat dengan Allah.
Kekuatan yang bersumber dari hati juga menjadikan seseorang lebih fokus dan ikhlas dalam beramal. Ketika hati tidak disibukkan oleh hiruk-pikuk dunia, ibadah menjadi ringan, doa menjadi khusyuk, dan amal terasa penuh makna. Inilah rahasia kekuatan para salafus shalih yang mampu beribadah lama, menuntut ilmu dengan tekun, dan berdakwah dengan sabar, meskipun fasilitas hidup mereka sangat terbatas.
Oleh karena itu, kalam hikmah ulama tersebut menjadi pengingat penting bagi setiap Muslim untuk lebih memperhatikan kondisi hatinya. Mengurangi kesibukan yang tidak perlu, memperbanyak zikir, dan meluruskan niat dalam menjalani kehidupan dunia akan menumbuhkan kekuatan sejati dalam diri. Kekuatan itu bukan sekadar tenaga jasmani, tetapi keteguhan hati yang membuat seseorang tetap kokoh di jalan Allah, tenang dalam ujian, dan kuat dalam ketaatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar