Halaman

Selasa, 13 Januari 2026

Bulan Ampunan dan Keselamatan: Makna Rajab dalam Kalam Auliya

Dalam tradisi tasawuf dan keilmuan Islam, bulan-bulan tertentu memiliki kedudukan spiritual yang istimewa karena menjadi momentum turunnya rahmat, ampunan, dan perlindungan Allah Ta’ala. Para ulama dan wali Allah sering menuturkan kalam hikmah untuk mengingatkan umat agar tidak lalai dalam memaknai waktu-waktu mulia tersebut. Salah satu ungkapan yang masyhur dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah dalam kitab Al-Ātsār al-Marfū‘ah adalah penjelasan tentang sebab bulan Rajab disebut sebagai Syahrullah (bulan Allah), yang mengandung pesan rohani mendalam bagi perjalanan iman seorang hamba.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani menyebutkan bahwa sebab pertama Rajab dinamakan Syahrullah adalah karena ia merupakan bulan penuh ampunan. Pada bulan ini, pintu maghfirah Allah terbuka luas bagi hamba-hamba-Nya yang kembali dengan hati tunduk dan penyesalan yang tulus. Penekanan pada ampunan menunjukkan bahwa Rajab menjadi awal penyucian diri sebelum memasuki bulan-bulan agung berikutnya, yakni Sya‘ban dan Ramadhan. Dengan memperbanyak istighfar, seorang mukmin dilatih untuk membersihkan hati dari dosa sebagai bekal menuju kedekatan dengan Allah.

Sebab kedua adalah karena pada bulan Rajab dilarang terjadinya pertumpahan darah dan peperangan. Rajab termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah, di mana pelanggaran dan kezaliman dipandang lebih berat. Larangan perang ini mengandung hikmah besar, yaitu menanamkan nilai perdamaian, pengendalian hawa nafsu, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia. Secara spiritual, larangan ini mengisyaratkan bahwa hati seorang mukmin seharusnya juga “mengharamkan” permusuhan, dendam, dan agresi selama bulan yang dimuliakan ini.

Sebab ketiga yang disebutkan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani adalah bahwa pada bulan Rajab Allah menerima tobat para nabi-Nya. Pernyataan ini menunjukkan kemuliaan Rajab sebagai bulan penerimaan dan kasih sayang Ilahi. Tobat para nabi menjadi simbol bahwa Rajab adalah waktu yang sangat layak untuk kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Bagi umat Islam, hal ini menjadi dorongan kuat untuk tidak menunda tobat, karena jika Allah menerima tobat hamba-hamba pilihan-Nya pada bulan ini, maka harapan penerimaan bagi umat Muhammad Saw. semakin terbuka luas.

Sebab keempat, Rajab disebut Syahrullah karena Allah menyelamatkan para kekasih-Nya (auliyā’) dari tangan musuh-musuh mereka. Ini menunjukkan bahwa Rajab adalah bulan perlindungan Ilahi, di mana Allah menampakkan penjagaan-Nya kepada hamba-hamba yang ikhlas dan dekat kepada-Nya. Perlindungan ini tidak selalu berupa keselamatan fisik semata, tetapi juga keselamatan iman, hati, dan istiqamah dalam kebenaran. Melalui hikmah ini, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani mengajak kaum mukminin untuk memperkuat hubungan dengan Allah pada bulan Rajab, agar termasuk golongan yang berada dalam lindungan dan penjagaan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bulan Ampunan dan Keselamatan: Makna Rajab dalam Kalam Auliya

Dalam tradisi tasawuf dan keilmuan Islam, bulan-bulan tertentu memiliki kedudukan spir...