Dalam tradisi tasawuf Islam,
kalam hikmah para sufi besar menjadi pedoman penting dalam membentuk kesadaran
ruhani dan penyucian jiwa. Salah satu tokoh sentral dalam dunia tasawuf awal
adalah Sahl bin Abdullah At-Tusturī, seorang imam sufi yang dikenal dengan
kezuhudan, kedalaman ma‘rifat, dan keteguhan dalam menjaga adab kepada Allah.
Dalam kitab Al-Risālah al-Qusyairiyyah, disebutkan sebuah kalam hikmah
beliau yang sangat mendalam: “Seorang sufi adalah orang yang menganggap bahwa
darah dan hartanya tidak memiliki harga bagi dirinya (semuanya adalah milik dan
hak Allah).” Ungkapan ini merangkum esensi sikap totalitas penghambaan
seorang hamba kepada Tuhannya.
Secara makna, ungkapan ini
tidak dimaksudkan untuk meremehkan nilai nyawa atau meniadakan hukum syariat
tentang perlindungan jiwa dan harta. Sebaliknya, Sahl At-Tusturī berbicara pada
level batin dan spiritual, yaitu bagaimana seorang sufi memandang kepemilikan.
Seorang sufi sejati menyadari bahwa hakikat kepemilikan mutlak hanyalah milik
Allah, sedangkan manusia hanyalah pemegang amanah. Oleh karena itu, darah
(nyawa) dan harta tidak lagi dipandang sebagai milik pribadi yang harus
dipertahankan demi ego, melainkan titipan yang sepenuhnya berada dalam kuasa
dan kehendak Allah.
Pandangan ini melahirkan sikap
zuhud yang sejati, yakni keterlepasan hati dari dunia tanpa harus meninggalkan
aktivitas dunia itu sendiri. Ketika seorang sufi tidak menganggap hartanya
sebagai sesuatu yang bernilai bagi dirinya, ia akan mudah bersedekah,
berkorban, dan membantu sesama tanpa rasa berat. Demikian pula, ketika ia
memandang nyawanya sebagai milik Allah, ia akan senantiasa tunduk, sabar, dan
ridha terhadap ketetapan-Nya, bahkan dalam ujian yang berat. Inilah puncak
tawakal dan keikhlasan dalam tasawuf.
Kalam hikmah ini juga menanamkan keberanian moral dan kebersihan hati. Seseorang yang tidak terikat oleh kepentingan harta dan keselamatan diri tidak mudah takut kehilangan, tidak tergoda oleh dunia, dan tidak rela mengorbankan kebenaran demi keuntungan pribadi. Dalam konteks ini, tasawuf bukanlah pelarian dari kehidupan, tetapi justru pembebasan dari perbudakan hawa nafsu. Seorang sufi berdiri tegak di hadapan manusia karena hatinya telah tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Melalui ungkapan singkat namun padat makna ini, Sahl bin Abdullah At-Tusturī mengajarkan bahwa inti kesufian adalah penyerahan total kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Ketika seseorang telah memandang darah dan hartanya sebagai hak Allah, maka hidupnya dipenuhi keikhlasan, ketenangan, dan kesadaran ilahiah. Kalam hikmah ini tetap relevan hingga hari ini, terutama di tengah kehidupan modern yang menjadikan materi dan keamanan diri sebagai tujuan utama, sebagai pengingat bahwa kemuliaan sejati terletak pada kebebasan batin dan keikhlasan penghambaan kepada Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar