Halaman

Minggu, 11 Januari 2026

Kesufian sebagai Penyerahan Mutlak kepada Allah

Dalam tradisi tasawuf Islam, kalam hikmah para sufi besar menjadi pedoman penting dalam membentuk kesadaran ruhani dan penyucian jiwa. Salah satu tokoh sentral dalam dunia tasawuf awal adalah Sahl bin Abdullah At-Tusturī, seorang imam sufi yang dikenal dengan kezuhudan, kedalaman ma‘rifat, dan keteguhan dalam menjaga adab kepada Allah. Dalam kitab Al-Risālah al-Qusyairiyyah, disebutkan sebuah kalam hikmah beliau yang sangat mendalam: “Seorang sufi adalah orang yang menganggap bahwa darah dan hartanya tidak memiliki harga bagi dirinya (semuanya adalah milik dan hak Allah).” Ungkapan ini merangkum esensi sikap totalitas penghambaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Secara makna, ungkapan ini tidak dimaksudkan untuk meremehkan nilai nyawa atau meniadakan hukum syariat tentang perlindungan jiwa dan harta. Sebaliknya, Sahl At-Tusturī berbicara pada level batin dan spiritual, yaitu bagaimana seorang sufi memandang kepemilikan. Seorang sufi sejati menyadari bahwa hakikat kepemilikan mutlak hanyalah milik Allah, sedangkan manusia hanyalah pemegang amanah. Oleh karena itu, darah (nyawa) dan harta tidak lagi dipandang sebagai milik pribadi yang harus dipertahankan demi ego, melainkan titipan yang sepenuhnya berada dalam kuasa dan kehendak Allah.

Pandangan ini melahirkan sikap zuhud yang sejati, yakni keterlepasan hati dari dunia tanpa harus meninggalkan aktivitas dunia itu sendiri. Ketika seorang sufi tidak menganggap hartanya sebagai sesuatu yang bernilai bagi dirinya, ia akan mudah bersedekah, berkorban, dan membantu sesama tanpa rasa berat. Demikian pula, ketika ia memandang nyawanya sebagai milik Allah, ia akan senantiasa tunduk, sabar, dan ridha terhadap ketetapan-Nya, bahkan dalam ujian yang berat. Inilah puncak tawakal dan keikhlasan dalam tasawuf.

Kalam hikmah ini juga menanamkan keberanian moral dan kebersihan hati. Seseorang yang tidak terikat oleh kepentingan harta dan keselamatan diri tidak mudah takut kehilangan, tidak tergoda oleh dunia, dan tidak rela mengorbankan kebenaran demi keuntungan pribadi. Dalam konteks ini, tasawuf bukanlah pelarian dari kehidupan, tetapi justru pembebasan dari perbudakan hawa nafsu. Seorang sufi berdiri tegak di hadapan manusia karena hatinya telah tunduk sepenuhnya kepada Allah.

Melalui ungkapan singkat namun padat makna ini, Sahl bin Abdullah At-Tusturī mengajarkan bahwa inti kesufian adalah penyerahan total kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Ketika seseorang telah memandang darah dan hartanya sebagai hak Allah, maka hidupnya dipenuhi keikhlasan, ketenangan, dan kesadaran ilahiah. Kalam hikmah ini tetap relevan hingga hari ini, terutama di tengah kehidupan modern yang menjadikan materi dan keamanan diri sebagai tujuan utama, sebagai pengingat bahwa kemuliaan sejati terletak pada kebebasan batin dan keikhlasan penghambaan kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesufian sebagai Penyerahan Mutlak kepada Allah

Dalam tradisi tasawuf Islam, kalam hikmah para sufi besar menjadi pedoman penting dala...