Halaman

Rabu, 14 Januari 2026

Ketika Jiwa Kehilangan Arah

Dalam tradisi keilmuan dan tasawuf Islam, para ulama tidak hanya berbicara tentang kecerdasan akal, tetapi juga tentang kecerdasan jiwa. Jiwa yang cerdas adalah jiwa yang hidup, sadar akan tujuan penciptaannya, dan bergerak menuju kebaikan. Sebaliknya, jiwa yang bodoh bukanlah jiwa yang kurang pengetahuan, melainkan jiwa yang lalai dan salah arah. Ungkapan ulama yang menyatakan bahwa “kebodohan jiwa disebabkan oleh tiga hal: mengutamakan kepentingan duniawi, menunda amal, dan lemahnya niat serta himmah” merupakan peringatan mendalam agar manusia tidak terjebak dalam kelalaian batin meskipun tampak cerdas secara lahiriah.

Penyebab pertama, yaitu mengutamakan kepentingan duniawi, menunjukkan kondisi ketika dunia dijadikan tujuan utama hidup, bukan sekadar sarana. Jiwa yang terlalu terpaut pada harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan akan kehilangan kejernihan dalam melihat hakikat. Orientasi duniawi yang berlebihan membuat seseorang mengukur segalanya dengan keuntungan sesaat, sehingga nilai akhirat dan keridaan Allah tersingkir ke pinggir. Inilah awal kebodohan jiwa, karena ia tertipu oleh sesuatu yang fana dan melupakan tujuan hidup yang kekal.

Penyebab kedua adalah menunda amal. Menunda kebaikan sering kali lahir dari rasa aman palsu, seolah-olah waktu selalu tersedia dan kesempatan tidak akan habis. Padahal, amal yang ditunda sangat berisiko tidak pernah terlaksana. Jiwa yang terbiasa menunda akan melemah, malas, dan kehilangan sensitivitas terhadap panggilan kebaikan. Dalam pandangan ulama, penundaan amal bukan hanya masalah manajemen waktu, tetapi tanda tumpulnya kesadaran ruhani dan kebodohan dalam memanfaatkan nikmat waktu.

Penyebab ketiga adalah lemahnya niat dan himmah. Niat adalah arah, sedangkan himmah adalah energi batin yang mendorong seseorang untuk bergerak. Ketika niat tidak jelas atau mudah goyah, dan himmah rendah, seseorang akan cepat puas dengan keadaan yang biasa-biasa saja. Jiwa menjadi pasif, tidak memiliki cita-cita luhur dalam ibadah, ilmu, dan perbaikan diri. Lemahnya niat dan himmah menjadikan seseorang berhenti di tengah jalan, meskipun ia mengetahui kebenaran dan keutamaan suatu amal.

Ketiga penyebab ini saling berkaitan dan saling menguatkan. Orientasi duniawi yang dominan melemahkan niat akhirat, lemahnya niat melahirkan kebiasaan menunda amal, dan penundaan amal semakin menenggelamkan jiwa dalam kelalaian dunia. Akibatnya, jiwa menjadi tumpul, tidak peka terhadap nasihat, dan sulit merasakan kelezatan ibadah. Inilah bentuk kebodohan jiwa yang paling berbahaya, karena ia sering tersembunyi di balik aktivitas, kesibukan, bahkan pengetahuan.

Melalui ungkapan ini, para ulama mengajak untuk menghidupkan kembali kecerdasan jiwa dengan menata orientasi hidup, menyegerakan amal, dan menguatkan niat serta himmah. Dunia harus diletakkan sebagai sarana, bukan tujuan; amal harus disegerakan sebelum kesempatan hilang; dan niat harus diarahkan kepada Allah dengan tekad yang kuat. Dengan demikian, jiwa akan kembali hidup, cerdas, dan berjalan menuju kesempurnaan sebagai hamba Allah. Nasihat ini sangat relevan di setiap zaman, terutama di tengah kehidupan modern yang sarat distraksi dan penundaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Jiwa Kehilangan Arah

Dalam tradisi keilmuan dan tasawuf Islam, para ulama tidak hanya berbicara tentang kec...