Kalam hikmah “أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ
تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ”merupakan ungkapan singkat namun sarat makna
teologis dan spiritual. Kalimat ini sering dikutip dalam tradisi tasawuf dan
mau‘izhah sebagai pengingat tentang hakikat kehendak manusia yang terbatas dan
kehendak Allah yang mutlak. Di dalamnya terkandung ajaran tauhid, adab seorang
hamba kepada Rabb-nya, serta pendidikan batin agar manusia tidak terjebak pada
kesombongan dan kekecewaan dalam menghadapi kehidupan.
Secara makna bahasa, ungkapan
ini berarti: “Aku berkehendak, engkau berkehendak, dan Allah melakukan apa
yang Dia kehendaki.” Kalimat ini menegaskan bahwa manusia memang memiliki iradah
(kehendak) dan ikhtiar, demikian pula orang lain, namun semua kehendak tersebut
tidak berdiri sendiri. Di atas seluruh kehendak makhluk, terdapat kehendak
Allah yang bersifat mutlak, menentukan, dan tidak dapat dihalangi oleh siapa
pun. Inilah dasar pemahaman tentang qadha dan qadar dalam Islam.
Dari sisi akidah, kalam hikmah
ini mengajarkan keseimbangan antara usaha manusia dan ketundukan kepada
ketentuan Allah. Islam tidak menafikan ikhtiar, sebab manusia diperintahkan
untuk berusaha dan memilih. Namun, hasil akhir dari setiap usaha sepenuhnya
berada dalam genggaman Allah. Dengan pemahaman ini, seorang mukmin tidak
terjatuh pada paham jabariyah (fatalisme) yang meniadakan usaha, dan
tidak pula pada kesombongan qodariyah yang menganggap manusia berkuasa
penuh atas nasibnya.
Dalam dimensi spiritual dan
tasawuf, ungkapan ini melatih hati agar tunduk, ridha, dan lapang menerima
takdir Allah. Banyak kegelisahan hidup muncul karena keinginan manusia tidak
sejalan dengan ketentuan Allah. Kalam hikmah ini mengajak manusia untuk
melembutkan keinginannya di hadapan kehendak Allah, sehingga hatinya tidak
mudah marah, kecewa, atau putus asa ketika realitas tidak sesuai dengan rencana
pribadi.
Selain itu, kalam hikmah ini juga berfungsi sebagai pendidikan adab dalam berdoa dan berharap. Seorang hamba boleh memiliki cita-cita, rencana, dan harapan besar, namun semuanya harus disertai dengan sikap tawakkal dan penyerahan diri. Ketika doa belum terkabul atau hasil belum tercapai, ia menyadari bahwa Allah memilihkan yang terbaik sesuai hikmah-Nya, bukan semata-mata sesuai keinginannya sendiri.
Dengan demikian, kalam hikmah “أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ”menjadi pedoman hidup yang menumbuhkan ketenangan batin, kedewasaan iman, dan keikhlasan. Ia mengajarkan manusia untuk berusaha secara maksimal, berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh ridha. Inilah sikap seorang hamba yang mengenal Tuhannya: aktif dalam ikhtiar, tenang dalam takdir, dan yakin bahwa kehendak Allah selalu mengandung kebaikan dan hikmah.

Luar biasa
BalasHapusSubhanallah ustadz
BalasHapus