Halaman

Jumat, 26 Juni 2026

Pelajaran Adab Salam dari Kisah Nabi Adam a.s.

Adab salam dalam Islam bukan sekadar ucapan pembuka percakapan, tetapi tanda kelembutan hati, kerendahan diri, dan keinginan menghadirkan keselamatan bagi orang lain. Dalam pembahasan yang dinukil dari Faydhul ‘Allām, dijelaskan bahwa salah satu adab salam adalah orang yang berjalan lebih dianjurkan memulai salam kepada orang yang sedang duduk. Adab ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Saw.:

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ.

Orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan kelompok yang sedikit memberi salam kepada kelompok yang banyak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Salah satu dalil atau penguat makna tersebut adalah kisah Nabi Adam a.s. ketika berada di surga. Dalam hadis disebutkan bahwa ketika Allah menciptakan Nabi Adam a.s., Allah memerintahkannya untuk pergi kepada sekelompok malaikat yang sedang duduk, lalu mengucapkan salam kepada mereka. Nabi Adam a.s. pun mengucapkan “As-salāmu ‘alaikum”, kemudian para malaikat menjawab dengan tambahan “wa ramatullāh. Peristiwa ini menjadi asal mula salam sebagai penghormatan bagi Nabi Adam a.s. dan keturunannya.

Dari kisah tersebut, tampak bahwa Nabi Adam a.s. berada pada posisi datang atau berjalan menuju para malaikat, sedangkan para malaikat berada dalam posisi duduk. Maka, perintah Allah kepada Nabi Adam a.s. untuk memulai salam kepada malaikat menjadi isyarat bahwa orang yang datang, lewat, atau berjalan dianjurkan lebih dahulu memberi salam kepada orang yang sedang duduk. Ini bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan pendidikan adab agar orang yang mendatangi suatu majelis datang dengan membawa keamanan, penghormatan, dan ketenangan.

Hikmah dari anjuran ini sangat indah. Orang yang berjalan atau datang menuju orang yang duduk berada dalam keadaan “mendekati” suatu tempat atau majelis. Karena itu, ia dianjurkan memulai salam agar kehadirannya tidak menimbulkan rasa canggung, curiga, atau terganggu bagi orang yang sedang duduk. Salam menjadi tanda bahwa kedatangannya membawa kebaikan, bukan keburukan; membawa kedamaian, bukan ancaman. Dengan mengucapkan salam lebih dahulu, orang yang berjalan menunjukkan sikap rendah hati dan menghormati orang yang telah lebih dahulu berada di tempat tersebut.

Dengan demikian, penjelasan dalam Faydhul ‘Allām tentang anjuran orang yang berjalan memulai salam kepada orang yang duduk mengajarkan bahwa Islam sangat memperhatikan tata krama sosial. Adab kecil seperti salam ternyata memiliki dasar yang kuat, bahkan dikaitkan dengan kisah Nabi Adam a.s. dan para malaikat. Maka, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan salam, karena di dalamnya terdapat doa, penghormatan, kasih sayang, dan penyebaran rasa aman. Ketika seseorang membiasakan diri memulai salam, ia sebenarnya sedang menghidupkan sunnah, menebarkan kedamaian, dan memperindah hubungan antar sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pelajaran Adab Salam dari Kisah Nabi Adam a.s.

Adab salam dalam Islam bukan sekadar ucapan pembuka percakapan, tetapi tanda kelembutan hati, kerendahan diri, dan keinginan menghadirkan ...