Ilmu itu seperti amanah: indah
ketika disampaikan oleh orang yang memahami jalan dan batasnya, tetapi bisa
berubah menjadi kekacauan ketika dibicarakan tanpa bekal. Dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dikenal
menegaskan makna hikmah: “Apabila seseorang
berbicara tentang sesuatu yang bukan bidang keahliannya, ia akan mendatangkan
hal-hal yang aneh.” Ungkapan Arabnya sering dinukil dengan
redaksi: مَنْ تَكَلَّمَ فِي غَيْرِ فَنِّهِ أَتَى بِالْعَجَائِبِ
‘man takallama fī ghairi fannihi atā bil-‘ajā’ib’
(siapa yang berbicara di luar bidangnya, ia akan datang
membawa keanehan-keanehan). Nukilan ini dikaitkan dengan Fathul Bari dan disebut pula dalam pembahasan para
ulama kontemporer tentang adab berbicara dalam ilmu.
Maksud utama dari nasihat tersebut
adalah bahwa setiap orang harus mengenali kapasitas
dirinya. Dalam tradisi keilmuan Islam, berbicara bukan hanya
soal mampu menyusun kata, tetapi juga soal tanggung jawab ilmiah dan moral.
Seseorang yang belum menguasai suatu bidang seharusnya berhati-hati, tidak
tergesa-gesa memberi kesimpulan, apalagi mengeluarkan pendapat yang memengaruhi
orang banyak. Diam dalam perkara yang belum dikuasai bukan tanda kebodohan,
melainkan tanda adab dan keselamatan.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani melalui
semangat penjelasan dalam Fathul Bari
menunjukkan bahwa ilmu memiliki disiplin, metode, dan ahlinya masing-masing.
Seorang ahli hadis, misalnya, memiliki perangkat untuk menilai sanad dan matan;
seorang ahli fikih (faqih) memiliki perangkat untuk menggali hukum; seorang
ahli bahasa memiliki perangkat untuk memahami struktur lafaz. Ketika seseorang
masuk ke wilayah yang bukan keahliannya tanpa bekal, ia mudah salah memahami
istilah, salah menempatkan dalil, dan akhirnya menghasilkan kesimpulan yang
tampak meyakinkan tetapi sebenarnya ganjil.
Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan modern, terutama ketika banyak orang mudah berkomentar tentang agama, kesehatan, pendidikan, politik, atau hukum hanya berdasarkan potongan informasi. Dalam konteks ini, “hal-hal yang aneh” bukan sekadar pendapat yang lucu atau berbeda, tetapi bisa berupa kesimpulan keliru, tuduhan tidak berdasar, penyederhanaan berlebihan, bahkan penyebaran kerancuan. Karena itu, berbicara sesuai kapasitas berarti menjaga akal, menjaga lisan, dan menjaga masyarakat dari informasi yang merusak.
Kesimpulannya, pesan dari ungkapan yang dinisbatkan kepada Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari adalah ajakan untuk tawadhu dalam ilmu: berbicaralah ketika memiliki dasar, bertanyalah kepada ahlinya ketika belum tahu, dan jangan malu mengatakan “saya belum memahami perkara ini.” Sikap seperti ini bukan membatasi diri untuk belajar, tetapi justru membuka jalan agar ilmu diperoleh dengan benar. Orang berilmu tidak hanya diukur dari banyaknya bicara, melainkan dari kemampuannya menempatkan ucapan pada tempat yang tepat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar