Halaman

Sabtu, 20 Juni 2026

Ketika Lisan Melampaui Ilmu: Hikmah dari Fathul Bari

Ilmu itu seperti amanah: indah ketika disampaikan oleh orang yang memahami jalan dan batasnya, tetapi bisa berubah menjadi kekacauan ketika dibicarakan tanpa bekal. Dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dikenal menegaskan makna hikmah: “Apabila seseorang berbicara tentang sesuatu yang bukan bidang keahliannya, ia akan mendatangkan hal-hal yang aneh.” Ungkapan Arabnya sering dinukil dengan redaksi: مَنْ تَكَلَّمَ فِي غَيْرِ فَنِّهِ أَتَى بِالْعَجَائِبِman takallama fī ghairi fannihi atā bil-‘ajā’ib’ (siapa yang berbicara di luar bidangnya, ia akan datang membawa keanehan-keanehan). Nukilan ini dikaitkan dengan Fathul Bari dan disebut pula dalam pembahasan para ulama kontemporer tentang adab berbicara dalam ilmu.

Maksud utama dari nasihat tersebut adalah bahwa setiap orang harus mengenali kapasitas dirinya. Dalam tradisi keilmuan Islam, berbicara bukan hanya soal mampu menyusun kata, tetapi juga soal tanggung jawab ilmiah dan moral. Seseorang yang belum menguasai suatu bidang seharusnya berhati-hati, tidak tergesa-gesa memberi kesimpulan, apalagi mengeluarkan pendapat yang memengaruhi orang banyak. Diam dalam perkara yang belum dikuasai bukan tanda kebodohan, melainkan tanda adab dan keselamatan.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani melalui semangat penjelasan dalam Fathul Bari menunjukkan bahwa ilmu memiliki disiplin, metode, dan ahlinya masing-masing. Seorang ahli hadis, misalnya, memiliki perangkat untuk menilai sanad dan matan; seorang ahli fikih (faqih) memiliki perangkat untuk menggali hukum; seorang ahli bahasa memiliki perangkat untuk memahami struktur lafaz. Ketika seseorang masuk ke wilayah yang bukan keahliannya tanpa bekal, ia mudah salah memahami istilah, salah menempatkan dalil, dan akhirnya menghasilkan kesimpulan yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya ganjil.

Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan modern, terutama ketika banyak orang mudah berkomentar tentang agama, kesehatan, pendidikan, politik, atau hukum hanya berdasarkan potongan informasi. Dalam konteks ini, “hal-hal yang aneh” bukan sekadar pendapat yang lucu atau berbeda, tetapi bisa berupa kesimpulan keliru, tuduhan tidak berdasar, penyederhanaan berlebihan, bahkan penyebaran kerancuan. Karena itu, berbicara sesuai kapasitas berarti menjaga akal, menjaga lisan, dan menjaga masyarakat dari informasi yang merusak.

Kesimpulannya, pesan dari ungkapan yang dinisbatkan kepada Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari adalah ajakan untuk tawadhu dalam ilmu: berbicaralah ketika memiliki dasar, bertanyalah kepada ahlinya ketika belum tahu, dan jangan malu mengatakan “saya belum memahami perkara ini.” Sikap seperti ini bukan membatasi diri untuk belajar, tetapi justru membuka jalan agar ilmu diperoleh dengan benar. Orang berilmu tidak hanya diukur dari banyaknya bicara, melainkan dari kemampuannya menempatkan ucapan pada tempat yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Lisan Melampaui Ilmu: Hikmah dari Fathul Bari

Ilmu itu seperti amanah: indah ketika disampaikan oleh orang yang memahami jalan dan batasnya, tetapi bisa berubah menjadi kekacauan ketik...