Tahun Baru
Islam 1 Muharam 1418 H menjadi momentum yang indah untuk menata kembali arah
hidup, memperbarui niat, dan menguatkan hubungan kita dengan Allah Swt. Tema “Semoga
setiap langkah bernilai ibadah, setiap usaha berubah berkah, menjadi pribadi
yang lebih bertakwa, dalam ridha Allah Yang Maha Kuasa” mengajak kita
memahami bahwa hidup bukan sekadar berjalan dari hari ke hari, melainkan
perjalanan spiritual menuju keridaan Allah. Setiap detik yang kita lalui dapat
menjadi ladang pahala apabila disertai niat yang benar, cara yang halal, dan
tujuan yang mulia. Inilah makna mendalam dari Tahun Baru Islam: bukan hanya
pergantian waktu, tetapi juga kesempatan untuk berhijrah dari kelalaian menuju
ketaatan.
Bulan Muharam
adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Allah Swt. berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ
الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ . . . (الآيَة).
“Sesungguhnya
bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan
Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya
ada empat bulan haram . . . . (QS. At-Taubah: 36). Para ulama
menjelaskan bahwa Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram tersebut,
yaitu bulan yang memiliki kehormatan khusus, sehingga umat Islam dianjurkan
memperbanyak amal saleh dan menjauhi dosa. Dengan memahami kemuliaan Muharam,
kita diajak untuk memulai tahun baru dengan kesadaran bahwa waktu adalah
amanah. Waktu yang digunakan untuk taat akan mendekatkan kita kepada Allah,
sedangkan waktu yang diisi dengan maksiat akan menjadi penyesalan.
Agar setiap
langkah bernilai ibadah, hal pertama yang harus dijaga adalah niat.
Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . . .
“Sesungguhnya
amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai
dengan apa yang ia niatkan . . .” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa pekerjaan sehari-hari seperti belajar, bekerja,
mencari nafkah, membantu keluarga, menuntut ilmu, bahkan tersenyum kepada
sesama dapat bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Maka, langkah
praktisnya adalah membiasakan diri membaca basmalah sebelum beraktivitas,
meluruskan niat sebelum memulai pekerjaan, serta bertanya kepada diri sendiri: apakah
yang aku lakukan ini mendekatkan aku kepada Allah atau justru menjauhkan?
Agar setiap
usaha berubah menjadi berkah, seorang Muslim perlu menjaga kehalalan cara
dan tujuan. Berkah bukan hanya berarti banyaknya hasil, tetapi hadirnya
kebaikan, ketenangan, manfaat, dan rida Allah dalam hasil tersebut. Allah Swt.
berfirman:
. . . . وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ
مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ
اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“. . .
. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan
keluar baginya, dan Dia menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak
dia duga (tidak disangka-sangka). Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan
urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3). Ayat ini
mengajarkan bahwa ketakwaan adalah pintu keberkahan. Karena itu, usaha harus
dijalankan dengan jujur, disiplin, amanah, tidak menipu, tidak mengambil hak
orang lain, serta selalu bersandar kepada Allah melalui doa dan tawakal.
Menjadi pribadi
yang lebih bertakwa berarti terus berusaha menjalankan perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya, baik ketika dilihat manusia maupun ketika sendiri. Takwa
bukan hanya tampak dalam ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an,
tetapi juga dalam akhlak, ucapan, keputusan, dan cara memperlakukan orang lain.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran: 102). Langkah untuk
meraihnya antara lain memperbaiki shalat lima waktu, memperbanyak istighfar,
menjaga lisan dari dusta dan ghibah, menjauhi pergaulan yang buruk, serta
memilih lingkungan yang mengingatkan kepada kebaikan.
Untuk menjaga
agar hidup selalu berada dalam ridha Allah Yang Maha Kuasa, kita perlu
membangun kebiasaan muhasabah, yaitu mengevaluasi diri. Allah Swt.
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).
Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Amirul
Mukminin Umar bin Khattab r.a. pernah
menasihati:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ
قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، فَإِنَّ
أَهْوَنَ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ اليَوْمَ،
وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ، لَا تَخْفَى مِنْكُمْ
خَافِيَةٌ.
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.
Timbanglah amal-amal kalian sebelum amal-amal itu ditimbang. Sebab, akan lebih
ringan bagi kalian dalam perhitungan kelak apabila kalian menghisab diri kalian
pada hari ini. Dan berhiaslah kalian untuk menghadapi pertemuan agung, pada
hari ketika kalian dihadapkan kepada Allah; tidak ada sesuatu pun dari diri
kalian yang tersembunyi.” Muhasabah dapat
dilakukan setiap hari dengan meninjau kembali apa yang sudah kita ucapkan,
lakukan, pikirkan, dan niatkan. Bila ada kesalahan, segera bertobat; bila ada
kebaikan, syukuri dan lanjutkan. Tahun Baru Islam menjadi saat yang tepat untuk
membuat rencana perbaikan: memperbaiki ibadah, meningkatkan ilmu, mempererat silaturahim,
mengurangi dosa yang berulang, dan menetapkan target amal yang realistis namun
konsisten.
Cara lain untuk
meraih keberkahan dan ketakwaan adalah dengan memperkuat hubungan sosial yang
diridhai Allah. Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga
kesalehan sosial. Rasulullah Saw. bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ
لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad,
Ath-Thabrani, dan lainnya). Maka, setiap langkah menuju kebaikan
dapat diwujudkan dengan membantu sesama, menghormati orang tua, menyayangi
keluarga, berlaku adil, memaafkan kesalahan orang lain, serta berbagi kepada
yang membutuhkan. Ketika hidup kita membawa manfaat, maka usaha kita tidak
hanya bernilai duniawi, tetapi juga menjadi bekal akhirat.
Dengan demikian,
peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1418 H hendaknya menjadi pengingat bahwa
hidup adalah perjalanan hijrah yang terus berlangsung. Kita berhijrah dari
malas menuju rajin, dari lalai menuju sadar, dari dosa menuju tobat, dari
egoisme menuju kepedulian, dan dari sekadar mengejar dunia menuju mencari ridha
Allah. Semoga setiap langkah kita benar-benar bernilai ibadah, setiap usaha
yang kita lakukan berubah menjadi berkah, dan diri kita semakin dekat kepada
derajat takwa. Dengan niat yang ikhlas, amal yang benar, hati yang bersih,
serta doa yang tidak pernah putus, semoga Allah Swt. membimbing kita menjadi
hamba yang hidup dalam ketaatan dan wafat dalam husnul khatimah. Aamiin.
Disampaikan pada peringatan Tahun Baru Islam 1448 H di masjid Al-Hidayah Jalan Titan Perumahan Puri Kartika Indah Purwantoro Malang (Sabtu, 20 Juni 2026)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar