Dalam kehidupan
beragama, sering kali manusia mudah terpesona oleh amal yang tampak besar di
mata manusia: banyaknya ibadah, panjangnya bacaan, besarnya sedekah, atau
beratnya perjuangan lahiriah. Namun para ulama mengingatkan bahwa inti dari
semua amal itu berada di dalam hati. Karena itu, terdapat perkataan
ulama yang sangat dalam maknanya:
ذَرَّةٌ مِنْ أَعْمَالِ
الْقُلُوْبِ خَيْرٌ مِنْ جِبَالٍ مِنْ أَعْمَالِ الْأَبْدَانِ
“Seberat
dzarrah (biji sawi) dari amalan hati (seperti iman, ikhlas, dan lain-lain) itu
lebih baik daripada bergunung-gunung amalan badan (seperti shalat, puasa, zikir
yang tidak disertai ikhlas).” Ungkapan ini bukan untuk meremehkan amal
lahiriah, tetapi untuk menegaskan bahwa kualitas batin adalah ruh dari setiap
ibadah.
Yang dimaksud
dengan أَعْمَالُ الْقُلُوْبِ atau amalan hati adalah ibadah batin yang tempatnya di
dalam hati, seperti ikhlas, tawakal, sabar, syukur, cinta kepada Allah, takut
kepada siksa-Nya, berharap rahmat-Nya, ridha terhadap ketentuan-Nya, serta
merasa diawasi oleh Allah. Amalan-amalan ini tidak selalu terlihat oleh
manusia, tetapi sangat agung nilainya di sisi Allah. Seseorang bisa saja tampak
sederhana amal lahiriahnya, tetapi jika hatinya penuh keikhlasan, ketundukan,
dan cinta kepada Allah, maka amalnya memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Adapun أَعْمَالُ الْأَبْدَانِ atau amalan badan adalah ibadah yang dilakukan oleh
anggota tubuh, seperti shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an,
berdakwah, membantu sesama, dan berbagai bentuk ketaatan lahiriah lainnya.
Semua amal ini sangat penting dan tetap wajib dijaga sesuai tuntunan syariat.
Namun, amal badan akan menjadi besar nilainya apabila disertai amal hati yang
benar. Shalat, misalnya, bukan hanya gerakan berdiri, rukuk, dan sujud, tetapi
harus dihidupkan dengan khusyuk, ikhlas, dan rasa hadir di hadapan Allah.
Makna perkataan ulama tersebut adalah bahwa amal yang kecil secara lahiriah bisa menjadi sangat besar apabila didasari hati yang tulus. Sebaliknya, amal yang tampak besar di hadapan manusia bisa menjadi ringan nilainya apabila dilakukan karena riya’ (pamer), ingin dipuji, sombong, atau sekadar menggugurkan kewajiban tanpa menghadirkan hati. Maka, ukuran utama kemuliaan amal bukan hanya banyaknya aktivitas lahiriah, tetapi juga keadaan hati ketika melakukannya. Inilah sebabnya para ulama sangat menekankan pentingnya memperbaiki niat sebelum, ketika, dan setelah beramal.
Dengan demikian, ungkapan ذَرَّةٌ مِنْ أَعْمَالِ الْقُلُوْبِ خَيْرٌ مِنْ جِبَالٍ مِنْ أَعْمَالِ الْأَبْدَانِ mengajarkan bahwa hati adalah pusat nilai ibadah. Seorang muslim tidak cukup hanya memperbanyak amal lahiriah, tetapi juga harus membersihkan hati dari penyakit seperti riya’, ujub, dengki, dan kesombongan. Amal badan dan amal hati seharusnya berjalan bersama: anggota tubuh taat kepada Allah, sedangkan hati ikhlas, tunduk, dan berharap hanya kepada-Nya. Jika keduanya bersatu, maka ibadah menjadi lebih hidup, bermakna, dan bernilai tinggi di sisi Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar