Membaca Al-Qur’an bukan sekadar
melafalkan huruf-huruf suci, tetapi juga menghadirkan seluruh diri dalam ibadah
yang penuh keberkahan. Kalam hikmah “Kala dirimu membaca Al-Qur’an, maka
kamu telah memberi kedua matamu nikmat melihat, kedua telingamu nikmat
mendengar, dan mulutmu nikmat mengucap” mengingatkan kita bahwa tilawah
Al-Qur’an adalah cara indah untuk memuliakan nikmat yang Allah titipkan kepada
manusia. Mata, telinga, dan lisan yang sering digunakan untuk urusan dunia akan
menjadi lebih bernilai ketika diarahkan untuk berinteraksi dengan kalam Allah.
Ketika seseorang membaca
Al-Qur’an, kedua matanya mendapatkan nikmat melihat sesuatu yang paling mulia,
yaitu ayat-ayat Allah. Mata tidak hanya dipakai untuk memandang hal-hal yang
indah secara lahir, tetapi juga untuk menatap petunjuk yang menuntun hati
menuju kebenaran. Allah Swt. berfirman:
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ
وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut
ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (QS.
An-Nahl: 78). Ayat ini menegaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati
adalah nikmat Allah yang seharusnya digunakan untuk bersyukur.
Selain mata, kedua telinga juga
mendapatkan nikmat mendengar saat seseorang membaca Al-Qur’an. Telinga yang
mendengar lantunan ayat suci akan menerima suara yang menenangkan,
mengingatkan, dan melembutkan hati. Tidak semua suara membawa kebaikan; ada
suara yang membuat lalai, marah, atau gelisah. Namun, ketika telinga mendengar
bacaan Al-Qur’an, jiwa diajak kembali kepada Allah, pikiran menjadi lebih
tenang, dan hati mendapatkan nasihat yang tidak selalu bisa diberikan oleh
manusia.
Kemudian, mulut mendapatkan
nikmat mengucap ketika digunakan untuk melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Lisan
adalah anggota tubuh yang sangat menentukan baik buruknya seseorang, karena
dari lisan dapat lahir doa, zikir, nasihat, tetapi juga bisa lahir ucapan yang
menyakiti. Maka, lisan yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an sedang diarahkan
pada kemuliaan. Rasulullah saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ
الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar
Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).
Kalam hikmah ini juga mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang melibatkan tubuh dan hati sekaligus. Mata melihat ayat, telinga mendengar bacaan, mulut melafalkan kalam Allah, dan hati seharusnya ikut merenungkan maknanya. Karena itu, membaca Al-Qur’an tidak sebaiknya dilakukan hanya sebagai rutinitas tanpa penghayatan. Semakin seseorang menghadirkan hati saat membaca Al-Qur’an, semakin besar pula pengaruhnya terhadap akhlak, ketenangan batin, dan cara menjalani kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, membaca Al-Qur’an adalah bentuk syukur yang sangat indah atas nikmat pancaindra. Mata menjadi mulia karena melihat ayat Allah, telinga menjadi mulia karena mendengar kalam Allah, dan mulut menjadi mulia karena mengucapkannya. Jika kebiasaan ini terus dijaga, maka Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai bacaan, tetapi juga sebagai cahaya yang membimbing hidup. Orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan lebih mudah menjaga pandangan, pendengaran, ucapan, dan hatinya agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah Swt.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar