Dalam perjalanan hidup, salah
satu ujian paling halus adalah keinginan untuk selalu diakui, dipuji, dan
dibenarkan oleh manusia. Hati sering gelisah bukan karena kurang beramal,
melainkan karena terlalu sibuk mendengarkan penilaian orang lain. Ungkapan
reflektif “Jangan fokus mencari tahu apa yang dikatakan manusia tentang
dirimu, sebab kamu akan tersakiti dengan pahitnya celaan dan tertipu dengan
manisnya pujian. Fokuslah perbaiki amalmu, sebab hisabmu di sisi Allah bukan di
sisi manusia” hadir sebagai nasihat yang menenangkan jiwa, mengajak manusia
untuk mengalihkan pusat perhatian dari suara manusia menuju penilaian Allah
yang Maha Adil.
Bagian pertama ungkapan ini
menegaskan bahwa terlalu fokus pada ucapan manusia akan melahirkan luka batin.
Celaan yang pahit dapat menjatuhkan semangat, melahirkan dendam, dan membuat
seseorang kehilangan kepercayaan diri. Sebaliknya, pujian yang manis pun tidak
selalu menyehatkan hati, karena dapat menipu dan menumbuhkan rasa bangga diri.
Dengan kata lain, baik celaan maupun pujian sama-sama berbahaya jika dijadikan
tolok ukur nilai diri.
Ungkapan ini juga mengajarkan
kematangan jiwa dalam menyikapi pandangan sosial. Manusia menilai berdasarkan
apa yang tampak, sementara Allah menilai berdasarkan niat dan keikhlasan.
Ketika seseorang menjadikan komentar manusia sebagai pusat orientasi hidupnya,
ia akan mudah berubah sikap demi citra, bukan demi kebenaran. Akibatnya, amal
kehilangan ruh keikhlasan dan berubah menjadi sekadar pencitraan.
Karena itu, nasihat ini mengarahkan fokus kepada hal yang lebih substansial, yaitu “memperbaiki amal”. Memperbaiki amal berarti meluruskan niat, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperbaiki akhlak dalam keseharian. Orang yang sibuk membenahi amalnya tidak akan sempat larut dalam penilaian manusia, sebab ia menyadari bahwa setiap detik hidup adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pada akhirnya, ungkapan ini ditutup dengan pengingat paling mendasar: “hisab kita bukan di sisi manusia, tetapi di sisi Allah”. Di hadapan Allah, pujian tidak menyelamatkan dan celaan tidak mencelakakan. Yang bernilai hanyalah iman, keikhlasan, dan amal saleh. Kesadaran inilah yang melahirkan ketenangan, keberanian untuk berbuat benar, dan kebebasan batin dari belenggu penilaian manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar