Halaman

Rabu, 29 Juli 2026

Membaca Al-Qur’an dengan Hati yang Penuh Bakti

Di tengah rutinitas membaca Al-Qur’an, terkadang kita terlalu fokus pada bacaan, target halaman, atau kelancaran tajwid, tetapi lupa pada adab-adab batin yang menyertainya. Kalam hikmah KH. M. Anas Basori, Lc., MA, “Jangan lupa ketika akan membaca Al-Qur’an, kirimkan Al-Fatihah kepada kedua orang tua dan para guru,” menjadi pengingat yang lembut sekaligus mendalam. Pesan ini mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya hubungan antara seorang hamba dengan kalam Allah, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk mengingat jasa orang-orang yang telah menjadi sebab hadirnya ilmu, iman, dan kebaikan dalam hidup kita.

Mengirimkan Al-Fatihah kepada kedua orang tua sebelum membaca Al-Qur’an merupakan bentuk bakti yang indah. Orang tua adalah perantara hadirnya kita di dunia, orang yang merawat, mendoakan, membimbing, dan berkorban tanpa perhitungan. Meskipun seorang anak tidak selalu mampu membalas seluruh jasa mereka, ia tetap dapat menghadiahkan doa dan bacaan yang baik. Dengan membaca Al-Fatihah untuk orang tua, seorang anak sedang menunjukkan bahwa ia tidak melupakan sumber kasih sayang dan perjuangan yang telah mengantarkannya hingga dapat mengenal Allah dan membaca Al-Qur’an.

Selain kepada orang tua, kalam hikmah tersebut juga menekankan pentingnya mengirimkan Al-Fatihah kepada para guru. Guru adalah orang yang membuka jalan pemahaman, mengajarkan huruf, ilmu, akhlak, dan cara menjalani kehidupan dengan lebih benar. Dalam tradisi keilmuan Islam, menghormati guru bukan hanya dilakukan ketika masih belajar secara langsung, tetapi juga setelah ilmu itu melekat dalam diri murid. Menghadiahkan Al-Fatihah kepada guru menjadi tanda bahwa ilmu yang kita miliki tidak lahir begitu saja, melainkan melalui bimbingan, kesabaran, dan doa para pendidik.

Pesan ini juga mengandung nilai adab sebelum membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang mulia, sehingga membacanya sebaiknya tidak dilakukan dengan hati yang kosong dari rasa hormat dan syukur. Ketika seseorang memulai bacaan dengan mengingat orang tua dan guru, hatinya akan lebih lembut, rendah hati, dan sadar bahwa dirinya tidak berdiri sendiri. Ia menjadi pribadi yang tidak sombong terhadap ilmu, karena menyadari bahwa kemampuan membaca, memahami, dan mencintai Al-Qur’an adalah hasil dari banyak kebaikan orang lain yang Allah hadirkan dalam hidupnya.

Mengirimkan Al-Fatihah juga dapat memperluas keberkahan bacaan Al-Qur’an. Bacaan yang semula menjadi ibadah pribadi berubah menjadi doa, hadiah kebaikan, dan bentuk kasih sayang kepada orang lain. Hal ini mengajarkan bahwa seorang muslim sebaiknya tidak hanya mencari pahala untuk dirinya sendiri, tetapi juga mengingat orang-orang yang berjasa. Dengan begitu, membaca Al-Qur’an menjadi ibadah yang menyambungkan banyak kebaikan: hubungan dengan Allah, bakti kepada orang tua, penghormatan kepada guru, dan rasa terima kasih atas jalan ilmu yang telah diterima.

Secara keseluruhan, kalam hikmah KH. M. Anas Basori, Lc., MA mengajak kita untuk membaca Al-Qur’an dengan hati yang penuh adab, syukur, dan penghormatan. Sebelum membuka mushaf dan melantunkan ayat-ayat suci, kita diingatkan untuk tidak melupakan dua pihak besar dalam hidup: orang tua yang menjadi sebab keberadaan kita, dan guru yang menjadi sebab terang ilmu kita. Dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada mereka, bacaan Al-Qur’an menjadi lebih bermakna, karena tidak hanya menghidupkan hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga menghidupkan rasa bakti, cinta, dan penghargaan kepada orang-orang yang telah berjasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membaca Al-Qur’an dengan Hati yang Penuh Bakti

Di tengah rutinitas membaca Al-Qur’an, terkadang kita terlalu fokus pada bacaan, target halaman, atau kelancaran tajwid, tetapi lupa pada ...