Di tengah
rutinitas membaca Al-Qur’an, terkadang kita terlalu fokus pada bacaan, target
halaman, atau kelancaran tajwid, tetapi lupa pada adab-adab batin yang
menyertainya. Kalam hikmah KH. M. Anas Basori, Lc., MA, “Jangan lupa ketika
akan membaca Al-Qur’an, kirimkan Al-Fatihah kepada kedua orang tua dan para
guru,” menjadi pengingat yang lembut sekaligus mendalam. Pesan ini
mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya hubungan antara seorang hamba
dengan kalam Allah, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk mengingat jasa
orang-orang yang telah menjadi sebab hadirnya ilmu, iman, dan kebaikan dalam
hidup kita.
Mengirimkan
Al-Fatihah kepada kedua orang tua sebelum membaca Al-Qur’an merupakan bentuk
bakti yang indah. Orang tua adalah perantara hadirnya kita di dunia, orang yang
merawat, mendoakan, membimbing, dan berkorban tanpa perhitungan. Meskipun
seorang anak tidak selalu mampu membalas seluruh jasa mereka, ia tetap dapat
menghadiahkan doa dan bacaan yang baik. Dengan membaca Al-Fatihah untuk orang
tua, seorang anak sedang menunjukkan bahwa ia tidak melupakan sumber kasih
sayang dan perjuangan yang telah mengantarkannya hingga dapat mengenal Allah
dan membaca Al-Qur’an.
Selain kepada
orang tua, kalam hikmah tersebut juga menekankan pentingnya mengirimkan Al-Fatihah
kepada para guru. Guru adalah orang yang membuka jalan pemahaman, mengajarkan
huruf, ilmu, akhlak, dan cara menjalani kehidupan dengan lebih benar. Dalam
tradisi keilmuan Islam, menghormati guru bukan hanya dilakukan ketika masih
belajar secara langsung, tetapi juga setelah ilmu itu melekat dalam diri murid.
Menghadiahkan Al-Fatihah kepada guru menjadi tanda bahwa ilmu yang kita miliki
tidak lahir begitu saja, melainkan melalui bimbingan, kesabaran, dan doa para
pendidik.
Pesan ini juga
mengandung nilai adab sebelum membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kalam Allah
yang mulia, sehingga membacanya sebaiknya tidak dilakukan dengan hati yang
kosong dari rasa hormat dan syukur. Ketika seseorang memulai bacaan dengan
mengingat orang tua dan guru, hatinya akan lebih lembut, rendah hati, dan sadar
bahwa dirinya tidak berdiri sendiri. Ia menjadi pribadi yang tidak sombong
terhadap ilmu, karena menyadari bahwa kemampuan membaca, memahami, dan
mencintai Al-Qur’an adalah hasil dari banyak kebaikan orang lain yang Allah
hadirkan dalam hidupnya.
Mengirimkan Al-Fatihah juga dapat memperluas keberkahan bacaan Al-Qur’an. Bacaan yang semula menjadi ibadah pribadi berubah menjadi doa, hadiah kebaikan, dan bentuk kasih sayang kepada orang lain. Hal ini mengajarkan bahwa seorang muslim sebaiknya tidak hanya mencari pahala untuk dirinya sendiri, tetapi juga mengingat orang-orang yang berjasa. Dengan begitu, membaca Al-Qur’an menjadi ibadah yang menyambungkan banyak kebaikan: hubungan dengan Allah, bakti kepada orang tua, penghormatan kepada guru, dan rasa terima kasih atas jalan ilmu yang telah diterima.
Secara keseluruhan, kalam hikmah KH. M. Anas Basori, Lc., MA mengajak kita untuk membaca Al-Qur’an dengan hati yang penuh adab, syukur, dan penghormatan. Sebelum membuka mushaf dan melantunkan ayat-ayat suci, kita diingatkan untuk tidak melupakan dua pihak besar dalam hidup: orang tua yang menjadi sebab keberadaan kita, dan guru yang menjadi sebab terang ilmu kita. Dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada mereka, bacaan Al-Qur’an menjadi lebih bermakna, karena tidak hanya menghidupkan hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga menghidupkan rasa bakti, cinta, dan penghargaan kepada orang-orang yang telah berjasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar