Di tengah
kehidupan yang sering mengukur manusia dari apa yang tampak di luar, kalam
hikmah ini datang sebagai pengingat yang sangat tajam. Banyak orang mudah
terpesona kepada seseorang karena hartanya, jabatannya, fasilitasnya, atau
kenikmatan yang ia miliki. Padahal, tidak semua orang yang memiliki banyak
“kebaikan” secara materi benar-benar memiliki kebaikan di dalam dirinya. Kalam
hikmah:
لَا تَبْحَثُوْا عَنِ الشَّخْصِ
الَّذِي عِنْدَهُ خَيْرٌ، اِبْحَثُوْا عَنِ الشَّخْصِ الَّذِي فِيْهِ خَيْرٌ، فَأَكْثَرُ
الَّذِيْنَ عِنْدَهُمْ خَيْرٌ وَلٰكِنْ لَا خَيْرَ فِيْهِمْ
“Janganlah
kalian mencari orang yang memiliki kebaikan (harta atau kenikmatan), tetapi
carilah orang yang di dalam dirinya ada kebaikan. Karena kebanyakan orang yang
memiliki banyak kebaikan (materi), namun tidak ada kebaikan dalam dirinya”
mengajak kita melihat manusia bukan hanya dari kepemilikannya, tetapi dari isi
hatinya, akhlaknya, dan cara ia memperlakukan orang lain.
Makna “orang
yang memiliki kebaikan” dalam kalam hikmah ini dapat dipahami sebagai orang
yang mempunyai harta, kedudukan, fasilitas, popularitas, atau kenikmatan
duniawi. Ia mungkin tampak berhasil, dihormati banyak orang, dan memiliki
banyak hal yang diinginkan manusia. Namun, semua itu belum tentu menunjukkan
bahwa ia adalah pribadi yang baik. Harta bisa berada di tangan orang yang
dermawan, tetapi juga bisa berada di tangan orang yang sombong. Jabatan bisa
dimiliki oleh orang yang amanah, tetapi juga bisa dimiliki oleh orang yang
zalim. Karena itu, ukuran kebaikan tidak cukup dilihat dari banyaknya nikmat
yang seseorang miliki.
Adapun “orang
yang di dalam dirinya ada kebaikan” adalah orang yang memiliki akhlak
mulia, hati yang lembut, niat yang bersih, dan perilaku yang menenangkan. Ia
mungkin tidak kaya, tidak terkenal, dan tidak memiliki kedudukan tinggi, tetapi
kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain. Ia jujur dalam berbicara, amanah
ketika dipercaya, rendah hati ketika dihormati, dan tetap peduli meskipun tidak
memiliki banyak harta. Kebaikan seperti ini lebih berharga, karena ia melekat
pada karakter, bukan hanya pada kepemilikan.
Kalam hikmah ini
juga mengingatkan bahwa banyak orang tertipu oleh tampilan luar. Seseorang yang
memiliki harta sering dianggap otomatis baik, padahal belum tentu ia
menggunakan hartanya untuk kebaikan. Ada orang yang kaya, tetapi pelit; ada
yang berkuasa, tetapi merendahkan; ada yang berilmu, tetapi tidak beradab; ada
yang tampak dermawan, tetapi menyimpan kepentingan. Karena itu, kalimat “banyak
orang yang memiliki kebaikan materi, namun tidak ada kebaikan dalam dirinya”
menjadi nasihat agar kita tidak mudah menilai manusia hanya dari apa yang ia
punya.
Dalam pergaulan, nasihat ini sangat penting. Ketika memilih teman, guru, pasangan, pemimpin, atau orang yang kita percayai, jangan hanya melihat keuntungan duniawi yang bisa kita peroleh darinya. Lihatlah akhlaknya ketika berbicara, sikapnya kepada orang kecil, caranya memperlakukan orang yang tidak menguntungkannya, dan bagaimana ia menjaga amanah. Orang yang memiliki kebaikan dalam dirinya akan tetap baik meskipun tidak sedang dilihat, tetap lembut meskipun berbeda pendapat, dan tetap menjaga orang lain meskipun ia mampu menyakiti.
Dengan demikian, kalam hikmah ini mengajarkan bahwa nilai manusia yang sejati terletak pada kebaikan batin dan akhlak, bukan semata-mata pada harta, kenikmatan, atau kedudukan. Mencari orang yang “di dalam dirinya ada kebaikan” berarti mencari orang yang kehadirannya membawa ketenangan, ucapannya membawa manfaat, dan perilakunya mencerminkan kemuliaan hati. Sebab materi dapat hilang, jabatan dapat berganti, dan popularitas dapat pudar, tetapi kebaikan yang tertanam dalam diri seseorang akan tetap memancarkan cahaya dalam keadaan apa pun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar