Halaman

Sabtu, 11 Juli 2026

Kebaikan Sejati Ada dalam Diri, Bukan pada Harta

Di tengah kehidupan yang sering mengukur manusia dari apa yang tampak di luar, kalam hikmah ini datang sebagai pengingat yang sangat tajam. Banyak orang mudah terpesona kepada seseorang karena hartanya, jabatannya, fasilitasnya, atau kenikmatan yang ia miliki. Padahal, tidak semua orang yang memiliki banyak “kebaikan” secara materi benar-benar memiliki kebaikan di dalam dirinya. Kalam hikmah:

لَا تَبْحَثُوْا عَنِ الشَّخْصِ الَّذِي عِنْدَهُ خَيْرٌ، اِبْحَثُوْا عَنِ الشَّخْصِ الَّذِي فِيْهِ خَيْرٌ، فَأَكْثَرُ الَّذِيْنَ عِنْدَهُمْ خَيْرٌ وَلٰكِنْ لَا خَيْرَ فِيْهِمْ

Janganlah kalian mencari orang yang memiliki kebaikan (harta atau kenikmatan), tetapi carilah orang yang di dalam dirinya ada kebaikan. Karena kebanyakan orang yang memiliki banyak kebaikan (materi), namun tidak ada kebaikan dalam dirinya” mengajak kita melihat manusia bukan hanya dari kepemilikannya, tetapi dari isi hatinya, akhlaknya, dan cara ia memperlakukan orang lain.

Makna “orang yang memiliki kebaikan” dalam kalam hikmah ini dapat dipahami sebagai orang yang mempunyai harta, kedudukan, fasilitas, popularitas, atau kenikmatan duniawi. Ia mungkin tampak berhasil, dihormati banyak orang, dan memiliki banyak hal yang diinginkan manusia. Namun, semua itu belum tentu menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang baik. Harta bisa berada di tangan orang yang dermawan, tetapi juga bisa berada di tangan orang yang sombong. Jabatan bisa dimiliki oleh orang yang amanah, tetapi juga bisa dimiliki oleh orang yang zalim. Karena itu, ukuran kebaikan tidak cukup dilihat dari banyaknya nikmat yang seseorang miliki.

Adapun “orang yang di dalam dirinya ada kebaikan” adalah orang yang memiliki akhlak mulia, hati yang lembut, niat yang bersih, dan perilaku yang menenangkan. Ia mungkin tidak kaya, tidak terkenal, dan tidak memiliki kedudukan tinggi, tetapi kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain. Ia jujur dalam berbicara, amanah ketika dipercaya, rendah hati ketika dihormati, dan tetap peduli meskipun tidak memiliki banyak harta. Kebaikan seperti ini lebih berharga, karena ia melekat pada karakter, bukan hanya pada kepemilikan.

Kalam hikmah ini juga mengingatkan bahwa banyak orang tertipu oleh tampilan luar. Seseorang yang memiliki harta sering dianggap otomatis baik, padahal belum tentu ia menggunakan hartanya untuk kebaikan. Ada orang yang kaya, tetapi pelit; ada yang berkuasa, tetapi merendahkan; ada yang berilmu, tetapi tidak beradab; ada yang tampak dermawan, tetapi menyimpan kepentingan. Karena itu, kalimat “banyak orang yang memiliki kebaikan materi, namun tidak ada kebaikan dalam dirinya” menjadi nasihat agar kita tidak mudah menilai manusia hanya dari apa yang ia punya.

Dalam pergaulan, nasihat ini sangat penting. Ketika memilih teman, guru, pasangan, pemimpin, atau orang yang kita percayai, jangan hanya melihat keuntungan duniawi yang bisa kita peroleh darinya. Lihatlah akhlaknya ketika berbicara, sikapnya kepada orang kecil, caranya memperlakukan orang yang tidak menguntungkannya, dan bagaimana ia menjaga amanah. Orang yang memiliki kebaikan dalam dirinya akan tetap baik meskipun tidak sedang dilihat, tetap lembut meskipun berbeda pendapat, dan tetap menjaga orang lain meskipun ia mampu menyakiti.

Dengan demikian, kalam hikmah ini mengajarkan bahwa nilai manusia yang sejati terletak pada kebaikan batin dan akhlak, bukan semata-mata pada harta, kenikmatan, atau kedudukan. Mencari orang yang “di dalam dirinya ada kebaikan” berarti mencari orang yang kehadirannya membawa ketenangan, ucapannya membawa manfaat, dan perilakunya mencerminkan kemuliaan hati. Sebab materi dapat hilang, jabatan dapat berganti, dan popularitas dapat pudar, tetapi kebaikan yang tertanam dalam diri seseorang akan tetap memancarkan cahaya dalam keadaan apa pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kebaikan Sejati Ada dalam Diri, Bukan pada Harta

Di tengah kehidupan yang sering mengukur manusia dari apa yang tampak di luar, kalam hikmah ini datang sebagai pengingat yang sangat tajam...