Halaman

Selasa, 24 Maret 2026

Memaknai Perumpamaan Manusia seperti Huruf dalam Kehidupan

Di dalam perjalanan hidup, kita tidak hanya berjumpa dengan berbagai peristiwa, tetapi juga dengan berbagai macam manusia yang meninggalkan pengaruh berbeda dalam hati dan pikiran kita. Ungkapan Arab:

فِي حَيَاتِنَا النَّاسُ كَالْحُرُوفِ؛ فَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ الرَّفْعَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ النَّصْبَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ الضَّمَّ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ الْكَسْرَ.

Dalam hidup kita, manusia bagaikan huruf-huruf. Sebagian ada yang layak dihormati, sebagian ada yang perlu diluruskan, sebagian ada yang patut dirangkul, dan sebagian lainnya layak diabaikan” menghadirkan perumpamaan yang indah sekaligus mendalam: manusia diibaratkan seperti huruf-huruf dalam bahasa Arab yang memiliki tanda dan posisi berbeda-beda. Ada yang layak diangkat derajatnya, ada yang perlu diluruskan sikapnya, ada yang pantas dirangkul dengan kasih sayang, dan ada pula yang lebih baik dijauhkan demi menjaga ketenangan diri. Perumpamaan ini bukan sekadar permainan kata, melainkan nasihat hidup yang mengajarkan kebijaksanaan dalam menilai, menempatkan, dan memperlakukan orang lain secara proporsional.

Bagian pertama, “فَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ الرَّفْعَ” sebagian manusia layak mendapat raf‘atau “diangkat”, dapat dimaknai sebagai orang-orang yang patut dihormati, dimuliakan, dan dihargai keberadaannya. Mereka adalah orang yang membawa kebaikan, kejujuran, ketulusan, ilmu, dan manfaat dalam kehidupan kita. Kehadiran mereka memberi semangat, menenangkan hati, dan menuntun kita ke arah yang lebih baik. Orang-orang seperti ini layak ditempatkan di posisi terhormat, baik dalam hati maupun dalam kehidupan sosial kita. Menghormati mereka bukan berarti merendahkan diri, tetapi menunjukkan bahwa kita mampu mengenali nilai dari akhlak dan kebaikan seseorang. Dalam hidup, tidak semua orang pantas diberi tempat yang sama, sebab orang yang tulus dan saleh memang pantas diangkat derajat penghormatannya.

Selanjutnya, ungkapan “وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ النَّصْبَ” yang dalam pemaknaan bebas diartikan sebagai orang yang gemar berbuat tidak lurus, memanipulasi, menyakiti, atau bahkan menipu. Mereka adalah tipe manusia yang tampak baik di luar, tetapi menyimpan niat yang tidak jujur. Dalam kehidupan nyata, kita bisa menjumpai orang seperti ini dalam lingkungan pertemanan, pekerjaan, bahkan hubungan sosial terdekat. Pesan dari perumpamaan ini adalah bahwa orang seperti itu tidak boleh dibiarkan memengaruhi hidup kita tanpa batas. Mereka perlu “diluruskan” bila memungkinkan, dinasihati jika masih bisa diperbaiki, dan diwaspadai bila tabiat buruknya terus berulang. Sikap bijak bukan berarti selalu memaafkan tanpa batas, tetapi juga berani menetapkan garis tegas agar tidak menjadi korban dari kelicikan orang lain.

Kemudian, frasa “وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ الضَّمَّ” menunjukkan bahwa ada manusia yang pantas mendapatkan dlamm atau “dirangkul, didekatkan, dan dipeluk” dengan kelembutan. Mereka mungkin bukan orang yang sempurna, tetapi memiliki hati yang baik, niat yang bersih, dan ketulusan yang layak dijaga. Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan kritik keras, melainkan dukungan, perhatian, dan pelukan emosional agar ia mampu bangkit. Dalam hidup, tidak semua orang yang lemah harus dijauhi; sebagian justru perlu didekati dengan kasih sayang. Di sinilah pentingnya kepekaan hati: mengenali siapa yang harus dinasihati dengan tegas, dan siapa yang harus dikuatkan dengan kelembutan. Kebijaksanaan sejati tampak ketika seseorang mampu membedakan antara orang yang harus dihadapi dengan ketegasan dan orang yang harus dipeluk dengan belas kasih.

Adapun bagian terakhir, “وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَحِقُّ الْكَسْرَ” dipahami sebagai sebagian manusia memang layak untuk “dikalahkan pengaruhnya” atau diabaikan keberadaannya dalam kehidupan kita. Ini bukan berarti membenci semua orang yang tidak sejalan dengan kita, melainkan menyadari bahwa tidak setiap orang harus diberi ruang dalam hati, pikiran, dan perhatian kita. Ada orang-orang yang hanya membawa energi buruk, memperkeruh suasana, menebar iri, memancing konflik, dan menguras ketenangan jiwa. Menghadapi mereka tidak selalu harus dengan pertengkaran atau permusuhan; kadang sikap terbaik justru adalah mengurangi interaksi, menjaga jarak, dan tidak memberi mereka kesempatan menguasai emosi kita. Mengabaikan orang tertentu dalam konteks ini adalah bentuk kedewasaan, yaitu menjaga diri dari hal-hal yang merusak kedamaian batin.

Dengan demikian, ungkapan tersebut mengajarkan bahwa hidup membutuhkan kecerdasan sosial dan kejernihan hati. Kita tidak boleh memperlakukan semua orang dengan pola yang sama, karena setiap manusia membawa watak, niat, dan pengaruh yang berbeda. Ada yang layak dihormati karena kebaikannya, ada yang perlu diluruskan karena keburukannya, ada yang patut direngkuh karena ketulusannya, dan ada yang lebih baik diabaikan agar hidup tetap damai. Pesan terbesarnya adalah agar kita tidak naif, tetapi juga tidak keras tanpa belas kasih. Kita diajak menjadi pribadi yang bijak: tahu siapa yang perlu dijaga, siapa yang perlu diwaspadai, siapa yang perlu dikuatkan, dan siapa yang perlu dilepaskan. Dengan begitu, kehidupan menjadi lebih seimbang, hati lebih tenang, dan relasi dengan sesama lebih sehat serta bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Lisan Melukai Hati dan Menghalangi Rezeki

Dalam perjalanan ruhani seorang mukmin, sering kali kita merasakan perubahan yang sulit dijelaskan: hati terasa keras, ibadah kehilangan k...