Dalam perjalanan mengenal
Allah, akal dan usaha manusia sering kali merasa cukup dengan pencarian,
perenungan, dan pembuktian rasional. Namun, para sahabat Nabi Muhammad Saw. yang
memiliki kedalaman iman justru mengajarkan bahwa pengenalan sejati kepada Allah
tidak berhenti pada usaha manusia semata. Salah satu kalam hikmah yang sangat
dalam maknanya adalah perkataan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kitab Hidayatul
Murid:
عَرَفْتُ رَبِّي بِرَبِّي،
وَلَوْ لَا رَبِّي مَا عَرَفْتُ رَبِّي
“Sebab Tuhanku aku kenal Tuhanku. Kalau bukan
karena Tuhanku aku tak (mungkin) kenal Tuhanku.” Ungkapan ini mengajak kita
menyelami hakikat ma’rifat, bahwa mengenal Allah sejatinya adalah anugerah,
bukan semata hasil kecerdasan manusia.
Makna utama dari kalam hikmah
ini adalah penegasan bahwa Allah adalah sumber segala hidayah dan pengetahuan
tentang-Nya. Manusia tidak mungkin mengenal Allah dengan benar kecuali jika
Allah sendiri yang memperkenalkan diri-Nya kepada hamba tersebut. Akal, ilmu,
dan pengalaman hanyalah sarana, bukan penentu. Tanpa taufik dan cahaya dari
Allah, semua sarana itu dapat menjadi jalan yang buntu atau bahkan menyesatkan.
Ungkapan “Sebab Tuhanku aku
kenal Tuhanku” menunjukkan kedalaman tauhid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia menyadari
bahwa bahkan kemampuan untuk mengenal Allah pun berasal dari Allah. Ini adalah
puncak kerendahan hati seorang hamba, yang tidak menisbatkan keimanannya pada
dirinya sendiri, tetapi sepenuhnya kepada karunia Rabb-nya. Sikap ini sekaligus
membersihkan hati dari rasa ujub dan merasa paling benar dalam urusan iman.
Sementara itu, bagian “Kalau
bukan karena Tuhanku aku tak (mungkin) kenal Tuhanku” mengandung pengakuan akan
keterbatasan manusia. Betapa pun tajam akal seseorang, ia tetap makhluk yang
lemah dan bergantung. Banyak orang berilmu, tetapi tidak sampai kepada
ma’rifat; sebaliknya, ada hamba sederhana yang hatinya dipenuhi cahaya iman.
Ini menegaskan bahwa ma’rifat bukan sekadar hasil logika, melainkan buah dari
hidayah dan kesucian hati.
Kalam hikmah ini juga mengajarkan adab dalam menuntut ilmu dan beribadah. Seorang hamba hendaknya selalu memohon kepada Allah agar diberi pengenalan yang benar tentang-Nya. Kesungguhan belajar dan beramal harus disertai doa, ketawadhuan, serta rasa butuh yang mendalam kepada Allah. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kedekatan dan ketundukan kepada-Nya.
Secara keseluruhan, perkataan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ini merupakan pelajaran agung tentang tauhid, ma’rifat, dan adab seorang hamba di hadapan Allah. Ia mengingatkan bahwa iman dan pengenalan kepada Allah adalah karunia yang patut disyukuri, bukan prestasi yang dibanggakan. Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin ia merasa kecil, bergantung, dan penuh harap kepada-Nya. Inilah hakikat ma’rifat sejati: mengenal Allah dengan Allah, dan kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar