Halaman

Rabu, 25 Maret 2026

Cinta yang Setara untuk Perjalanan Seumur Hidup

Pada Sabtu, 14 Maret 2026 pukul 15.39 WIB, saya menerima pesan WhatsApp dari saudara Muhammad Khasbi Rahbini, S.Pd. (alumnus PIQ Singosari Malang), yang menanyakan kabar sekaligus menyampaikan keinginannya untuk sowan (bertamu). Dari pesan itu, saya sempat menduga bahwa kunjungan tersebut berkaitan dengan undangan pernikahan, karena memang sudah menjadi hal yang lazim ketika seorang alumnus yang lama tidak berjumpa tiba-tiba menghubungi lalu ingin bertamu. Dugaan itu pun terbukti benar, karena pada Ahad, 15 Maret 2026 sekitar pukul 14.45 WIB, saudara Muhammad Khasbi Rahbini, S.Pd. datang berkunjung ke rumah saya dan secara langsung menyerahkan undangan pernikahannya.

Dalam pertemuan yang meskipun tidak berlangsung terlalu lama, sekitar 20 menit, sambil menunggu hujan reda, suasana terasa hangat dan penuh makna. Pada kesempatan itu, saya menyampaikan sedikit “wejangan” tentang pernikahan, sebagai bekal awal bagi saudara Muhammad Khasbi Rahbini, S.Pd. dalam menapaki fase hidup yang baru. Nasihat tersebut saya ambil dari teks yang pernah saya baca dalam kitab Al-‘Arabiyyah Baina Yadaika bab Al-Hayāt al-Zaujiyyah, yang memandang pernikahan bukan sekadar ikatan sesaat, melainkan sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan hati, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Saya juga menyampaikan bahwa salah satu kunci utama keberhasilan dalam kehidupan rumah tangga adalah komunikasi. Dalam teks bahasa Arab di kitab tersebut disebutkan, عَلَى الشَّبَابِ أَنْ يَعْرِفُوْا أَنَّ الْحَيَاةَ الزَّوْجِيَّةَ رِحْلَةٌ طَوِيْلَةٌ، وَأَنَّ السَّبِيْلَ إِلَى النَّجَاحِ فِي الْحَيَاةِ الزَّوْجِيَّةِ، هُوَ الْحِوَارُ yang berarti “Para pemuda harus tahu bahwa kehidupan rumah tangga adalah perjalanan panjang, dan jalan keberhasilan di dalamnya adalah dialog (komunikasi).” Pesan ini sangat penting, sebab dalam kehidupan pernikahan, saling memahami, saling mendengar, dan membangun dialog yang baik menjadi fondasi agar setiap persoalan dapat dihadapi bersama dengan tenang dan dewasa.

Di samping nasihat tersebut, saya juga menyampaikan bahwa pernikahan adalah ikatan yang dijalani seumur hidup, sebuah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, pengertian, dan komitmen yang terus dirawat dari waktu ke waktu. Karena itulah, melalui tulisan sederhana ini, saya berharap dapat menitipkan makna yang lebih dalam, sehingga ia bukan sekadar catatan pertemuan, melainkan dapat menjadi semacam “kado pernikahan” yang berkesan bagi saudara Muhammad Khasbi Rahbini, S.Pd. (Putra Pertama Bapak Nur Cholis dan Ibu Hj. Ni’matillah Fauzi/Gondanglegi Malang) dengan Indriani, A.Md. Kep (Putri Ketiga Almarhum Bapak H. Abd Muhid dan Ibu Hj. Erlin Prayati/Pagelaran Malang), sebagai bekal awal dalam menapaki kehidupan rumah tangga bersama setelah melaksanakan akad nikah pada Kamis, 26 Maret 2026 pukul 08.00 WIB yang bertempat di kediaman mempelai wanita (Jalan Untung Suropati RT.15/RW.02 Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur).   

Seumur hidup, dua kata yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya memuat rentang waktu yang panjang, kompleks, dan penuh dinamika. Di dalamnya ada fase bertumbuh, jatuh bangun, perubahan karakter, pergeseran prioritas, hingga ujian yang tak terduga. karena itu, saya teringat ungkapan “Seumur hidup itu lama, maka carilah pasangan yang cintanya setara”, di mana ungkapan ini bukan hanya sekadar nasihat romantis, melainkan prinsip hidup yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa pernikahan atau hubungan jangka panjang bukan hanya soal rasa sesaat, tetapi tentang keberlanjutan, ketahanan emosional, dan keseimbangan komitmen.

Pertama, frasa “seumur hidup itu lama” menegaskan bahwa hubungan yang diniatkan untuk selamanya memerlukan kesiapan mental dan kedewasaan. Dalam jangka panjang, daya tarik fisik dan euforia awal hubungan akan mengalami penurunan intensitas secara alami. Yang tersisa adalah nilai, visi, cara menyelesaikan konflik, dan kemampuan untuk tetap memilih satu sama lain setiap hari. Waktu yang panjang akan menguji konsistensi, bukan sekadar perasaan. Karena itu, keputusan memilih pasangan seharusnya tidak didasarkan hanya pada kenyamanan sementara, tetapi pada kecocokan prinsip dan ketahanan karakter.

Kedua, ungkapan “cintanya setara” berbicara tentang keseimbangan emosional dan komitmen timbal balik. Cinta yang setara berarti tidak ada pihak yang terus-menerus berkorban sendirian, tidak ada yang merasa lebih mencintai atau lebih membutuhkan. Relasi yang sehat ditandai oleh resiprositas—saling memberi, saling mendukung, dan saling menghargai. Dalam psikologi hubungan, ketimpangan afeksi dapat memicu kelelahan emosional dan ketidakpuasan jangka panjang. Ketika cinta tidak setara, relasi menjadi timpang; satu pihak memikul beban lebih besar, sementara yang lain mungkin merasa terlalu dominan atau bahkan acuh.

Ketiga, cinta yang setara juga berkaitan dengan kesetaraan dalam visi dan pertumbuhan. Manusia berubah sepanjang hidupnya—karir berkembang, pola pikir matang, nilai bisa diperhalus oleh pengalaman. Pasangan yang cintanya setara akan saling mendorong untuk bertumbuh, bukan saling menahan. Mereka tidak merasa terancam oleh kesuksesan satu sama lain, melainkan merayakannya bersama. Dalam relasi seperti ini, cinta bukan sekadar emosi, melainkan kolaborasi jangka panjang yang produktif dan suportif.

Keempat, kesetaraan cinta mencakup komunikasi dan penyelesaian konflik. Dalam perjalanan panjang sebuah hubungan, perbedaan pendapat tidak bisa dihindari. Namun pasangan yang saling mencintai secara setara akan berupaya menyelesaikan konflik dengan adil, bukan mencari kemenangan sepihak. Mereka mampu mendengar, meminta maaf, dan memperbaiki diri. Ketika dua individu memiliki tingkat komitmen yang sama, konflik menjadi sarana pendewasaan, bukan pemicu perpecahan.

Melalui “kado pernikahan” ini, kita diajak untuk bersikap bijaksana dalam memilih pasangan hidup. Karena “seumur hidup” adalah investasi waktu, energi, dan emosi yang besar, maka memilih seseorang yang mencintai dengan intensitas, komitmen, dan ketulusan yang seimbang adalah bentuk perlindungan terhadap diri sendiri. Cinta yang setara menciptakan rasa aman, stabilitas, dan kebahagiaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, nasihat ini bukan tentang mencari yang sempurna, melainkan mencari yang seimbang, karena dalam perjalanan yang panjang, keseimbanganlah yang menjaga cinta tetap hidup dan bermakna.

بَارَكَ اللهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Lisan Melukai Hati dan Menghalangi Rezeki

Dalam perjalanan ruhani seorang mukmin, sering kali kita merasakan perubahan yang sulit dijelaskan: hati terasa keras, ibadah kehilangan k...