Kalam hikmah Al-Habib Ahmad bin
Hasan Al-Athos "Seumpama kita bersujud (beribadah) sejak dilahirkan hingga meninggal dunia, demi mensyukuri dijadikan bagian dari umat Rasulullah Saw. pasti hal itu tidak akan cukup" mengajak kita untuk merenungkan kedalaman makna syukur atas
nikmat terbesar yang kita terima, yaitu menjadi bagian dari umat Rasulullah Saw.
Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita berusaha untuk bersyukur
dengan cara apapun, baik melalui ibadah, perbuatan baik, atau pengabdian, semua
itu tidak akan cukup untuk membayar betapa besar dan agungnya anugerah ini.
Menjadi bagian dari umat Rasulullah Saw. adalah karunia yang sangat besar, yang
hanya bisa dibalas dengan syukur yang tak terhingga. Meskipun kita beribadah
sepanjang hidup, kita tetap tidak bisa sepenuhnya membayar nikmat yang telah
diberikan oleh Allah dengan memilih kita untuk menjadi umat Nabi Muhammad Saw.
Al-Habib Ahmad bin Hasan
Al-Athos mengingatkan kita bahwa meskipun kita beribadah sepanjang hidup, baik
dalam bentuk shalat, zikir, puasa, atau amal baik lainnya, semua itu tidak
cukup untuk membayar rasa syukur kita atas kesempatan menjadi umat Rasulullah
Saw. Hal ini mengajak kita untuk menyadari bahwa meskipun kita sudah memberikan
yang terbaik, selalu ada ruang untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan
kita. Tidak ada ibadah yang bisa dikatakan cukup untuk membalas kasih sayang
Allah dan Rasul-Nya, karena apa yang telah diberikan kepada kita jauh lebih
besar dari apa yang bisa kita lakukan sebagai bentuk balasan.
Pernyataan ini juga
menggambarkan kerendahan hati kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw. Kita harus
menyadari bahwa meskipun kita berusaha sebaik mungkin untuk taat kepada Allah, kita
tidak akan pernah mampu membalas seluruh nikmat yang telah diberikan. Dalam
perspektif ini, rasa syukur menjadi sebuah perjalanan yang tidak pernah
berhenti, di mana setiap ibadah yang kita lakukan adalah bentuk pengakuan atas
kebesaran Allah dan keutamaan Rasul-Nya. Ini adalah perjalanan spiritual yang
harus kita jalani dengan penuh keikhlasan, dan bukan semata-mata karena
kewajiban.
Lebih jauh lagi, ucapan ini
mengajarkan kita tentang pentingnya kesadaran dalam menjalani hidup. Sebagai
umat Rasulullah Saw., kita tidak hanya diharapkan untuk beribadah, tetapi juga
untuk mengikuti teladan Nabi Muhammad Saw. dalam setiap aspek kehidupan.
Keteladanan beliau dalam kesederhanaan, kasih sayang, kejujuran, dan keadilan
harus menjadi bagian dari diri kita. Menjadi bagian dari umat Rasulullah bukan
sekadar menjalankan ritual ibadah, tetapi juga mengimplementasikan
ajaran-ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara kita berinteraksi
dengan orang lain, lingkungan, dan diri kita sendiri.
Lebih penting lagi, ucapan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Athos ini menuntun kita untuk memahami bahwa hakikat syukur bukan hanya pada jumlah ibadah yang kita lakukan, melainkan pada kualitas dari ibadah tersebut. Sejatinya, syukur itu tercermin dari niat kita, keikhlasan hati, dan kesungguhan dalam mengikuti ajaran Nabi. Dalam konteks ini, meskipun kita tidak bisa membalas nikmat menjadi umat Rasulullah dengan sempurna, setiap usaha dan upaya kita yang tulus untuk mengikuti ajaran-Nya akan dianggap sebagai bentuk syukur yang Allah terima.
Kalam hikmah ini adalah ajakan untuk selalu menjaga kesadaran spiritual kita, untuk tidak pernah merasa cukup dengan ibadah yang kita lakukan, tetapi untuk selalu berusaha menjadi lebih baik. Meskipun kita tidak akan pernah cukup untuk membalas nikmat menjadi umat Rasulullah Saw., yang terpenting adalah usaha kita untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan berbuat baik kepada sesama. Dengan begitu, meskipun kita tidak akan pernah sempurna, kita tetap berada di jalan yang diridhai oleh Allah, dan itulah yang menjadi tujuan sejati hidup kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar