Halaman

Senin, 30 Juni 2025

Fasih Bicara, Tapi Tunduk di Hadapan Ibu

Dalam kehidupan yang semakin didominasi oleh kemampuan intelektual dan keterampilan berbicara, kita kerap lupa bahwa adab jauh lebih utama daripada sekadar kecerdasan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah Saw. yang dikenal karena kedalaman ilmunya, pernah berkata, “Jangan gunakan kefasihan bicaramu (mendebat) di hadapan ibumu yang dahulu mengajarkanmu berbicara.” Ungkapan ini bukan sekadar nasihat etika, melainkan pelajaran hidup tentang pentingnya adab, penghormatan, dan kesadaran diri akan asal-usul kita. Ia mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam keangkuhan ilmu, terutama terhadap mereka yang berperan besar dalam membentuk diri kita.

Nasihat ini memiliki makna mendalam: sebesar apa pun kemampuan seseorang dalam berbicara, berdiplomasi, atau berdebat, tidak sepantasnya ia menggunakan kemampuannya itu untuk merendahkan atau mengalahkan orang tuanya, terlebih ibunya. Sebab, ibu adalah orang pertama yang mengajarkan anak berbicara, mendidik sejak kecil, bahkan sebelum anak itu mengenal huruf atau logika. Maka, ketika seseorang menggunakan kemampuannya untuk membantah atau menyakiti hati ibunya, sesungguhnya ia sedang mengkhianati sumber ilmunya sendiri. Ini adalah bentuk kesombongan yang halus, tapi sangat tercela di mata Allah dan manusia.

Lebih jauh lagi, ucapan Sayyidina Ali ini mengajarkan kita tentang pentingnya tawadhu’ (rendah hati) dalam hubungan keluarga. Ibu bukan sekadar orang tua secara biologis, tetapi simbol kasih sayang, pengorbanan, dan sumber kebijaksanaan. Adalah ironi besar jika seseorang yang dihormati di luar rumah karena retorikanya justru menjadi sosok keras dan membantah di depan ibunya sendiri. Kerendahan hati di hadapan ibu adalah ukuran sejati dari kedewasaan spiritual seseorang, bukan sekadar prestasi akademik atau kekuatan logika.

Kata-kata Sayyidina Ali juga merupakan peringatan bahwa ilmu harus dihiasi dengan adab. Kefasihan bicara adalah anugerah, tetapi ia bisa menjadi bencana bila digunakan tanpa kendali hati. Dalam Islam, ilmu tanpa akhlak adalah seperti pohon tanpa buah. Jika seseorang menempuh ilmu hanya untuk menang dalam perdebatan, bukan untuk membangun dan melayani, maka ia telah kehilangan ruh dari ilmu itu sendiri. Dalam konteks keluarga, adab kepada orang tua, khususnya ibu, adalah cerminan keberkahan ilmu yang sesungguhnya.

Nasihat ini menegaskan bahwa kedudukan ibu sangatlah agung, dan tidak layak bagi seorang anak (seberapa pun pintarnya) untuk meninggikan suara, apalagi mendebat dengan kesombongan. Bahkan jika kita merasa benar, menundukkan suara dan hati di hadapan ibu adalah bagian dari kesempurnaan iman. Semoga kita semua mampu menjadi anak-anak yang berilmu dan beradab, yang menjadikan kefasihan bicara sebagai alat untuk berbakti, bukan untuk membantah. Sebab, di balik segala pencapaian kita hari ini, ada doa, cucuran air mata, dan peluh seorang ibu yang tak pernah meminta balas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...