Dalam tradisi keilmuan dan
tasawuf Islam, para ulama tidak hanya berbicara tentang kecerdasan akal, tetapi
juga tentang kecerdasan jiwa. Jiwa yang cerdas adalah jiwa yang hidup, sadar
akan tujuan penciptaannya, dan bergerak menuju kebaikan. Sebaliknya, jiwa yang
bodoh bukanlah jiwa yang kurang pengetahuan, melainkan jiwa yang lalai dan
salah arah. Ungkapan ulama yang menyatakan bahwa “kebodohan jiwa disebabkan
oleh tiga hal: mengutamakan kepentingan duniawi, menunda amal, dan lemahnya
niat serta himmah” merupakan peringatan mendalam agar manusia tidak
terjebak dalam kelalaian batin meskipun tampak cerdas secara lahiriah.
Penyebab pertama, yaitu mengutamakan
kepentingan duniawi, menunjukkan kondisi ketika dunia dijadikan tujuan
utama hidup, bukan sekadar sarana. Jiwa yang terlalu terpaut pada harta,
jabatan, popularitas, dan kenikmatan akan kehilangan kejernihan dalam melihat
hakikat. Orientasi duniawi yang berlebihan membuat seseorang mengukur segalanya
dengan keuntungan sesaat, sehingga nilai akhirat dan keridaan Allah tersingkir
ke pinggir. Inilah awal kebodohan jiwa, karena ia tertipu oleh sesuatu yang
fana dan melupakan tujuan hidup yang kekal.
Penyebab kedua adalah menunda
amal. Menunda kebaikan sering kali lahir dari rasa aman palsu, seolah-olah
waktu selalu tersedia dan kesempatan tidak akan habis. Padahal, amal yang
ditunda sangat berisiko tidak pernah terlaksana. Jiwa yang terbiasa menunda
akan melemah, malas, dan kehilangan sensitivitas terhadap panggilan kebaikan.
Dalam pandangan ulama, penundaan amal bukan hanya masalah manajemen waktu,
tetapi tanda tumpulnya kesadaran ruhani dan kebodohan dalam memanfaatkan nikmat
waktu.
Penyebab ketiga adalah lemahnya
niat dan himmah. Niat adalah arah, sedangkan himmah adalah energi batin
yang mendorong seseorang untuk bergerak. Ketika niat tidak jelas atau mudah
goyah, dan himmah rendah, seseorang akan cepat puas dengan keadaan yang
biasa-biasa saja. Jiwa menjadi pasif, tidak memiliki cita-cita luhur dalam
ibadah, ilmu, dan perbaikan diri. Lemahnya niat dan himmah menjadikan seseorang
berhenti di tengah jalan, meskipun ia mengetahui kebenaran dan keutamaan suatu
amal.
Ketiga penyebab ini saling berkaitan dan saling menguatkan. Orientasi duniawi yang dominan melemahkan niat akhirat, lemahnya niat melahirkan kebiasaan menunda amal, dan penundaan amal semakin menenggelamkan jiwa dalam kelalaian dunia. Akibatnya, jiwa menjadi tumpul, tidak peka terhadap nasihat, dan sulit merasakan kelezatan ibadah. Inilah bentuk kebodohan jiwa yang paling berbahaya, karena ia sering tersembunyi di balik aktivitas, kesibukan, bahkan pengetahuan.
Melalui ungkapan ini, para ulama mengajak untuk menghidupkan kembali kecerdasan jiwa dengan menata orientasi hidup, menyegerakan amal, dan menguatkan niat serta himmah. Dunia harus diletakkan sebagai sarana, bukan tujuan; amal harus disegerakan sebelum kesempatan hilang; dan niat harus diarahkan kepada Allah dengan tekad yang kuat. Dengan demikian, jiwa akan kembali hidup, cerdas, dan berjalan menuju kesempurnaan sebagai hamba Allah. Nasihat ini sangat relevan di setiap zaman, terutama di tengah kehidupan modern yang sarat distraksi dan penundaan.
