Halaman

Selasa, 03 November 2026

Kaya Belum Tentu Mulia, Miskin Bukan Berarti Hina

Ada ironi yang diam-diam tumbuh dalam kehidupan manusia modern: seseorang sering kali dinilai bukan dari kedalaman akhlaknya, melainkan dari seberapa mahal kendaraan yang dikendarainya, seberapa megah rumah yang ditempatinya, atau seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkannya. Bahkan sebelum seseorang dikenal kepribadian dan perilakunya, keadaan ekonominya terkadang sudah dijadikan dasar untuk menentukan seberapa besar penghormatan yang pantas diterimanya. Mereka yang hidup berkecukupan dipandang lebih berhasil, lebih terhormat, dan lebih layak didengarkan, sedangkan mereka yang hidup dalam keterbatasan tidak jarang diperlakukan seolah-olah memiliki kedudukan yang lebih rendah. Dalam konteks inilah kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al Habib Sa'ad Alaydrus “Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi kaya. Yang keliru adalah menganggap kekayaan sebagai kemuliaan dan kemiskinan sebagai kehinaan” menghadirkan kritik yang mendalam terhadap cara manusia memahami nilai kehidupan. Ungkapan tersebut tidak sedang mempertentangkan kekayaan dengan kemiskinan, melainkan mengingatkan adanya kekeliruan ketika ukuran material dijadikan penentu martabat seseorang. Sebab, kekayaan hanya menunjukkan keadaan kepemilikan seseorang, bukan dengan sendirinya mencerminkan keluhuran akhlak, kebersihan hati, ataupun kedudukannya di hadapan Allah Swt.

Dalam pandangan Islam, keinginan untuk memperoleh kekayaan bukanlah sesuatu yang tercela selama ditempuh melalui jalan yang halal, tidak mengabaikan kewajiban, dan tidak menjadikan manusia kehilangan tanggung jawab moralnya. Harta dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan keluarga, meningkatkan kesejahteraan, membantu sesama, serta mendukung berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, persoalan muncul ketika seseorang mulai meyakini bahwa banyaknya harta merupakan bukti bahwa dirinya lebih mulia daripada orang lain. Allah Swt. telah mengoreksi cara berpikir semacam ini dalam surat Al-Fajr ayat 15–17.

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَۙ

“Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku. Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.” (Allah menyalahkan orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan, seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. Sebenarnya, kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Allah bagi hamba-hamba-Nya). Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim (maksudnya adalah tidak memberikan hak-hak anak yatim dan tidak berbuat baik kepadanya).” Ayat-ayat tersebut menggambarkan kecenderungan manusia yang menganggap kelapangan rezeki sebagai tanda kemuliaan dari Allah, sedangkan keterbatasan rezeki dipandang sebagai bentuk penghinaan. Anggapan itu kemudian dibantah dengan ungkapan kallā, yang menunjukkan bahwa penilaian tersebut tidaklah benar. Kelapangan dan kesempitan rezeki sama-sama dapat menjadi ujian yang memperlihatkan bagaimana manusia bersikap terhadap keadaan hidupnya. Kekayaan tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang lebih dicintai Allah, sebagaimana kemiskinan tidak dapat dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa seseorang telah kehilangan kemuliaannya. Orang kaya diuji melalui cara memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan hartanya, sedangkan orang yang mengalami keterbatasan diuji melalui kesabaran, ikhtiar, dan keteguhannya dalam menjaga nilai-nilai kebaikan. Dengan demikian, ukuran kemuliaan tidak terletak pada banyak atau sedikitnya harta, tetapi pada kualitas ketakwaan dan tanggung jawab seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Kalam hikmah tersebut juga mengandung pesan sosial yang penting, terutama ketika kekayaan mulai menciptakan perbedaan perlakuan antarmanusia. Dalam kenyataan sehari-hari, penghormatan terkadang diberikan secara berlebihan kepada mereka yang memiliki kekuasaan ekonomi, sementara orang-orang yang hidup sederhana justru kurang diperhatikan, bahkan ketika mereka memiliki kejujuran, pengetahuan, dan keluhuran budi yang patut diteladani. Keadaan ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat mencampuradukkan keberhasilan material dengan kemuliaan moral. Padahal, seseorang dapat memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi miskin kepedulian, kejujuran, dan tanggung jawab. Sebaliknya, seseorang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dapat memiliki kekayaan batin berupa integritas, kesabaran, kemurahan hati, serta keteguhan memegang prinsip. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kemiskinan harus diagungkan atau penderitaan ekonomi dianggap sebagai keadaan yang ideal. Kemiskinan tetap merupakan persoalan yang perlu diatasi melalui kesempatan kerja, pendidikan, pemberdayaan, dan keadilan sosial. Yang harus ditolak bukanlah usaha manusia untuk keluar dari kemiskinan, melainkan pandangan yang merendahkan martabat mereka yang sedang mengalaminya. Dalam surat Al-Hujurat ayat 13, Allah Swt. menegaskan bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” Ayat ini memberikan landasan bahwa martabat manusia tidak boleh ditentukan oleh jumlah kekayaannya, sebab kemuliaan yang sesungguhnya bertumpu pada ketakwaan, akhlak, dan kualitas perbuatannya. Oleh karena itu, masyarakat yang beradab bukanlah masyarakat yang hanya menghormati orang kaya, melainkan masyarakat yang mampu memperlakukan setiap manusia secara bermartabat tanpa memandang keadaan ekonominya.

Dengan demikian, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al Habib Sa'ad Alaydrus ini mengajak manusia membangun hubungan yang lebih sehat dengan harta dan kedudukan duniawi. Berusahalah menjadi kaya apabila kekayaan itu memungkinkan seseorang memperluas manfaat, membantu lebih banyak orang, membahagiakan keluarga, dan menjalankan tanggung jawab sosialnya dengan lebih baik. Namun, jangan sampai keberhasilan ekonomi melahirkan perasaan lebih tinggi daripada orang lain, karena keadaan material dapat berubah sewaktu-waktu dan tidak pernah menjadi jaminan atas keluhuran pribadi. Demikian pula, seseorang yang hidup dalam keterbatasan tidak perlu merasa kehilangan harga dirinya hanya karena belum mampu mencapai keadaan ekonomi yang diharapkan. Ia tetap berhak memiliki cita-cita, memperjuangkan kesejahteraan, dan memperoleh penghormatan yang sama sebagai manusia. Kekayaan seharusnya memperluas kesempatan untuk berbuat baik, bukan memperbesar jarak kesombongan antara seseorang dengan sesamanya. Sementara itu, kesederhanaan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan harapan ataupun merasa rendah di hadapan manusia. Ketika seseorang memahami bahwa harta merupakan sarana, bukan ukuran akhir dari nilai dirinya, ia akan lebih mampu mensyukuri keberhasilan tanpa menjadi angkuh dan menghadapi keterbatasan tanpa kehilangan kehormatan. Sebab, kemuliaan bukanlah tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan apa yang ada dalam kehidupan kita. Kekayaan yang paling berharga bukanlah kekayaan yang membuat manusia merasa lebih tinggi daripada sesamanya, tetapi kekayaan yang menjadikannya semakin rendah hati, semakin bermanfaat, dan semakin dekat kepada Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanah yang Tak Berpindah, Manfaat yang Melintasi Generasi: Memaknai Wakaf Benda Tidak Bergerak dalam Islam

Sebidang tanah dapat tetap berdiri di tempat yang sama selama puluhan tahun, tetapi manfaat yang dihasilkannya bisa berubah mengikuti kebutu...