Kalam hikmah Imam Sufyan
Ats-Tsauri dalam kitab Risalatul Qusyairiyah yang menyatakan, "Orang
yang paling mulia terbagi 5: Orang alim yang zuhud (tidak cinta dunia), ahli
fikih yang sufi, orang kaya yang tawadhu' (rendah hati), orang fakir yang
bersyukur, dan syarif (ahli bait) yang berakidah sunni," memberikan
kita pandangan yang sangat mendalam tentang konsep kemuliaan dalam pandangan
Islam. Imam Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in,
dikenal dengan keteguhannya dalam beragama dan kedalaman ilmunya. Dalam kalam hikmah
ini, beliau menggarisbawahi bahwa kemuliaan bukanlah semata-mata diukur
berdasarkan kekayaan, ketenaran, atau kedudukan sosial, tetapi lebih kepada
kualitas keimanan dan amal yang dilandasi oleh ketakwaan dan kerendahan hati.
Lima kategori orang yang disebutkan dalam kalam hikmah ini menggambarkan
karakteristik yang sangat mulia dan menjadi teladan bagi umat Islam dalam
mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Orang pertama yang disebutkan
oleh Imam Sufyan Ats-Tsauri adalah orang alim yang zuhud. Ilmu dan
keilmuan dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, namun bagi seorang
alim yang zuhud, ilmunya bukan untuk mencari kekayaan duniawi atau kedudukan
tinggi. Zuhud berarti menjauhkan diri dari keterikatan pada dunia dan lebih
mengutamakan kehidupan akhirat. Seorang alim yang zuhud memanfaatkan ilmunya
untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengajarkan kebaikan kepada umat, serta
berusaha menjaga hatinya agar tidak tergoda oleh godaan duniawi. Dalam hal ini,
ilmu bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana untuk mencapai
ketenangan batin dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Kedua, Imam Sufyan Ats-Tsauri
menyebutkan ahli fikih yang sufi. Fikih merupakan cabang ilmu yang
mempelajari tentang hukum-hukum syariat Islam, sedangkan tasawuf atau sufisme
mengajarkan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dengan melatih jiwa dan
batin. Seorang ahli fikih yang sufi adalah seseorang yang tidak hanya paham
tentang hukum-hukum Islam, tetapi juga memiliki keikhlasan dan kebersihan hati
dalam mengamalkannya. Mereka bukan hanya mengajarkan hukum dengan teori, tetapi
juga dengan praktik yang tulus. Mereka menunjukkan bagaimana fikih dapat
diterapkan dengan hikmah dan kelembutan hati, serta mampu mengarahkan umat
kepada kedamaian jiwa melalui ibadah yang khusyuk dan ikhlas.
Selanjutnya, Imam Sufyan
Ats-Tsauri mengajarkan kita tentang orang kaya yang tawadhu' (rendah
hati). Dalam pandangan manusia, kekayaan seringkali dianggap sebagai simbol
kemuliaan. Namun, kekayaan yang sejati dalam Islam bukan hanya diukur dari
harta benda, melainkan dari sikap tawadhu’ yang dimiliki oleh orang kaya. Orang
kaya yang tawadhu’ adalah mereka yang meskipun memiliki banyak harta, namun
tetap rendah hati dan tidak sombong. Mereka tidak membanggakan kekayaan mereka
atau memandang rendah orang yang lebih miskin. Sebaliknya, mereka menggunakan
kekayaan mereka untuk beramal, membantu orang lain, dan mendekatkan diri kepada
Allah dengan rasa syukur. Tawadhu’ ini adalah tanda kemuliaan sejati, karena
mereka menyadari bahwa segala yang dimiliki adalah pemberian dari Allah, dan
mereka harus menggunakannya dengan cara yang diridhai-Nya.
Selain itu, Imam Sufyan
Ats-Tsauri menyebutkan orang fakir yang bersyukur. Fakir tidak berarti
hina, dan kemiskinan bukanlah suatu bentuk penghinaan dalam Islam. Sebaliknya,
fakir yang bersyukur memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Orang
yang hidup dalam kekurangan tetapi tetap mampu bersyukur kepada Allah
menunjukkan keteguhan imannya. Mereka tidak merasakan kekurangan sebagai
penderitaan, melainkan sebagai ujian yang mendekatkan diri kepada Allah. Syukur
adalah sikap hati yang menghargai setiap nikmat, sekecil apapun itu, dan
menjadikannya sebagai alat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Orang
fakir yang bersyukur mampu merasakan kebahagiaan meskipun tidak memiliki harta,
karena mereka tahu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah terletak pada harta
duniawi.
Terakhir, Imam Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan syarif (ahli bait) yang berakidah sunni. Syarif, yang berasal dari keturunan Rasulullah Saw., memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat Islam. Namun, kemuliaan mereka tidak hanya terletak pada keturunan, melainkan pada akidah yang mereka pegang. Seorang syarif yang berakidah sunni adalah mereka yang teguh pada ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang menjaga kemurnian akidah Islam dan mengikuti jejak Rasulullah Saw. serta para sahabat dalam beragama. Mereka hidup dengan prinsip-prinsip keislaman yang sejati dan menjadi teladan dalam berakhlak, berbicara, dan bertindak sesuai dengan sunnah Nabi. Dalam hal ini, akidah yang benar menjadi salah satu elemen penting dalam kemuliaan, karena ia menjadi dasar dari seluruh amalan hidup seseorang.
Imam Sufyan Ats-Tsauri, melalui kalam hikmahnya, mengajarkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak datang dari status sosial, kekayaan, atau ketenaran duniawi, tetapi dari kualitas jiwa dan ketakwaan seseorang kepada Allah. Lima jenis orang yang beliau sebutkan menunjukkan bahwa kemuliaan terletak pada kesederhanaan, kerendahan hati, kecintaan pada ilmu, serta keikhlasan dalam beribadah. Oleh karena itu, setiap individu berpeluang untuk mencapai kemuliaan, asalkan ia menjalani hidup dengan ikhlas, tawadhu’, dan senantiasa bersyukur kepada Allah. Semoga kita bisa mengambil teladan dari kalam hikmah ini, dan berusaha untuk menjadi pribadi yang mulia dalam pandangan Allah, bukan hanya di mata manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar