Halaman

Minggu, 26 Oktober 2025

Menjadi Mulia dalam Pandangan Allah: Lima Karakter Orang yang Terhormat

Kalam hikmah Imam Sufyan Ats-Tsauri dalam kitab Risalatul Qusyairiyah yang menyatakan, "Orang yang paling mulia terbagi 5: Orang alim yang zuhud (tidak cinta dunia), ahli fikih yang sufi, orang kaya yang tawadhu' (rendah hati), orang fakir yang bersyukur, dan syarif (ahli bait) yang berakidah sunni," memberikan kita pandangan yang sangat mendalam tentang konsep kemuliaan dalam pandangan Islam. Imam Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, dikenal dengan keteguhannya dalam beragama dan kedalaman ilmunya. Dalam kalam hikmah ini, beliau menggarisbawahi bahwa kemuliaan bukanlah semata-mata diukur berdasarkan kekayaan, ketenaran, atau kedudukan sosial, tetapi lebih kepada kualitas keimanan dan amal yang dilandasi oleh ketakwaan dan kerendahan hati. Lima kategori orang yang disebutkan dalam kalam hikmah ini menggambarkan karakteristik yang sangat mulia dan menjadi teladan bagi umat Islam dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Orang pertama yang disebutkan oleh Imam Sufyan Ats-Tsauri adalah orang alim yang zuhud. Ilmu dan keilmuan dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, namun bagi seorang alim yang zuhud, ilmunya bukan untuk mencari kekayaan duniawi atau kedudukan tinggi. Zuhud berarti menjauhkan diri dari keterikatan pada dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat. Seorang alim yang zuhud memanfaatkan ilmunya untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengajarkan kebaikan kepada umat, serta berusaha menjaga hatinya agar tidak tergoda oleh godaan duniawi. Dalam hal ini, ilmu bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana untuk mencapai ketenangan batin dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Kedua, Imam Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan ahli fikih yang sufi. Fikih merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang hukum-hukum syariat Islam, sedangkan tasawuf atau sufisme mengajarkan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dengan melatih jiwa dan batin. Seorang ahli fikih yang sufi adalah seseorang yang tidak hanya paham tentang hukum-hukum Islam, tetapi juga memiliki keikhlasan dan kebersihan hati dalam mengamalkannya. Mereka bukan hanya mengajarkan hukum dengan teori, tetapi juga dengan praktik yang tulus. Mereka menunjukkan bagaimana fikih dapat diterapkan dengan hikmah dan kelembutan hati, serta mampu mengarahkan umat kepada kedamaian jiwa melalui ibadah yang khusyuk dan ikhlas.

Selanjutnya, Imam Sufyan Ats-Tsauri mengajarkan kita tentang orang kaya yang tawadhu' (rendah hati). Dalam pandangan manusia, kekayaan seringkali dianggap sebagai simbol kemuliaan. Namun, kekayaan yang sejati dalam Islam bukan hanya diukur dari harta benda, melainkan dari sikap tawadhu’ yang dimiliki oleh orang kaya. Orang kaya yang tawadhu’ adalah mereka yang meskipun memiliki banyak harta, namun tetap rendah hati dan tidak sombong. Mereka tidak membanggakan kekayaan mereka atau memandang rendah orang yang lebih miskin. Sebaliknya, mereka menggunakan kekayaan mereka untuk beramal, membantu orang lain, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan rasa syukur. Tawadhu’ ini adalah tanda kemuliaan sejati, karena mereka menyadari bahwa segala yang dimiliki adalah pemberian dari Allah, dan mereka harus menggunakannya dengan cara yang diridhai-Nya.

Selain itu, Imam Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan orang fakir yang bersyukur. Fakir tidak berarti hina, dan kemiskinan bukanlah suatu bentuk penghinaan dalam Islam. Sebaliknya, fakir yang bersyukur memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Orang yang hidup dalam kekurangan tetapi tetap mampu bersyukur kepada Allah menunjukkan keteguhan imannya. Mereka tidak merasakan kekurangan sebagai penderitaan, melainkan sebagai ujian yang mendekatkan diri kepada Allah. Syukur adalah sikap hati yang menghargai setiap nikmat, sekecil apapun itu, dan menjadikannya sebagai alat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Orang fakir yang bersyukur mampu merasakan kebahagiaan meskipun tidak memiliki harta, karena mereka tahu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah terletak pada harta duniawi.

Terakhir, Imam Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan syarif (ahli bait) yang berakidah sunni. Syarif, yang berasal dari keturunan Rasulullah Saw., memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat Islam. Namun, kemuliaan mereka tidak hanya terletak pada keturunan, melainkan pada akidah yang mereka pegang. Seorang syarif yang berakidah sunni adalah mereka yang teguh pada ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang menjaga kemurnian akidah Islam dan mengikuti jejak Rasulullah Saw. serta para sahabat dalam beragama. Mereka hidup dengan prinsip-prinsip keislaman yang sejati dan menjadi teladan dalam berakhlak, berbicara, dan bertindak sesuai dengan sunnah Nabi. Dalam hal ini, akidah yang benar menjadi salah satu elemen penting dalam kemuliaan, karena ia menjadi dasar dari seluruh amalan hidup seseorang.

Imam Sufyan Ats-Tsauri, melalui kalam hikmahnya, mengajarkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak datang dari status sosial, kekayaan, atau ketenaran duniawi, tetapi dari kualitas jiwa dan ketakwaan seseorang kepada Allah. Lima jenis orang yang beliau sebutkan menunjukkan bahwa kemuliaan terletak pada kesederhanaan, kerendahan hati, kecintaan pada ilmu, serta keikhlasan dalam beribadah. Oleh karena itu, setiap individu berpeluang untuk mencapai kemuliaan, asalkan ia menjalani hidup dengan ikhlas, tawadhu’, dan senantiasa bersyukur kepada Allah. Semoga kita bisa mengambil teladan dari kalam hikmah ini, dan berusaha untuk menjadi pribadi yang mulia dalam pandangan Allah, bukan hanya di mata manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...