Setiap bagian tubuh manusia
memiliki makna yang tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga filosofis. Dalam
kehidupan sosial dan moral, keberadaan mata, telinga, dan mulut dapat dijadikan
pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dan berinteraksi.
Ungkapan “Mata kita ada dua agar kita lebih banyak mengamati. Telinga kita
ada dua agar kita lebih banyak mendengar, dan mulut kita hanya satu agar kita
bicara seperlunya. Mulut terletak paling bawah dari mata dan telinga, itu
artinya amatilah, dengarkanlah baru berbicara” merupakan nasihat mendalam
yang mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam berbicara dan kesadaran diri
sebelum bertindak.
Ungkapan ini menekankan bahwa
manusia diberi dua mata dan dua telinga bukan tanpa alasan. Dua mata
mengingatkan kita agar lebih banyak mengamati, memahami keadaan, dan melihat
sesuatu dari berbagai sudut pandang sebelum membuat penilaian. Dua telinga
mengajarkan agar kita lebih banyak mendengar, baik pendapat orang lain maupun
suara hati sendiri. Sebaliknya, mulut yang hanya satu adalah simbol bahwa
berbicara seharusnya dilakukan dengan bijak, seperlunya, dan setelah
benar-benar memahami situasi.
Secara filosofis, ungkapan ini
mengandung pesan tentang keseimbangan antara “observasi, refleksi, dan ekspresi”.
Dalam hidup, orang bijak tidak terburu-buru berbicara, karena ia tahu bahwa
kata-kata memiliki kekuatan besar: bisa membangun, tapi juga bisa
menghancurkan. Dengan mendahulukan pengamatan dan pendengaran, seseorang belajar
untuk menilai secara objektif, berempati, dan memahami konteks sebelum
mengeluarkan pendapat. Hal ini juga mencerminkan etika komunikasi yang
menghargai proses berpikir dan mendengarkan sebagai landasan bertutur.
Dalam kehidupan sehari-hari, makna ungkapan ini sangat relevan. Dalam dunia pendidikan, peserta didik yang banyak mengamati dan mendengar biasanya lebih cepat memahami pelajaran dibandingkan yang hanya banyak bicara. Dalam dunia kerja, seorang pemimpin yang bijak akan lebih dulu mendengarkan aspirasi bawahannya sebelum memberikan keputusan. Bahkan dalam kehidupan sosial, kemampuan mengamati dan mendengar lebih dulu membantu kita untuk menghindari kesalahpahaman, konflik, dan perkataan yang menyakiti orang lain. Dengan kata lain, kebijaksanaan berbicara lahir dari kebiasaan mengamati dan mendengarkan dengan hati.
Ungkapan “Mata kita ada dua agar kita lebih banyak mengamati, telinga kita ada dua agar kita lebih banyak mendengar, dan mulut kita hanya satu agar kita bicara seperlunya” mengajarkan bahwa keseimbangan dalam berkomunikasi dimulai dari kesadaran diri. Mengamati dan mendengar adalah fondasi pengetahuan, sedangkan berbicara adalah bentuk ekspresi yang harus disertai kebijaksanaan. Dengan memahami makna ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih tenang, bijak, dan berempati dalam berinteraksi dengan sesama. Sebab, sejatinya, orang yang bijak bukanlah yang banyak bicara, melainkan yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar